
Pagi pertama Zayyan disiapkan sang istri, pakaiannya sudah Zoya siapkan sementara pria itu mandi pagi. Zayyan tersenyum sejenak, dia tetap bersyukur meski sebenarnya sedikit terlambat dia merasakan hal ini. "Kamu jangan kemana-mana, tetap di sini kalau mau pergi tunggu aku pulang."
Zayyan khawatir, cukup kemarin dia panik dan tidak ingin kembali dibuat menunggu seakan tanpa kepastian oleh sang istri pasca dia tinggal ke minimarket. Akan lebih baik jika pergi berdua bersamanya, sekalipun mengganggu pekerjaannya tidak masalah.
"Iya, aku di sini saja sama Bian, Kakak makan siang pulang, 'kan?"
"Pulang, aku mau makan masakan kamu, Zoya."
Zayyan merindukan semua tentang Zoya, bukan hanya orangnya melainkan masakan wanita itu juga. Tidak ada yang Zayyan lewatkan tentang dirinya.
"Iya, aku siapkan nanti."
Zoya bicara lembut seraya merapikan dasi Zayyan, ini adalah hari pertama dia menjalani kehidupan sebagai manusia normal setelah banyak hari dia lewati dengan semangat hidup yang hampir hilang, kehilangan Zoya seakan membuat kehilangan separuh jiwanya.
Sementara Fabian kini tengah sibuk sendiri meratapi nasibnya di pagi hari. Berceloteh entah apa yang dia bahas, hanya dia yang mengerti. Sepi di kamarnya kini terganti dengan kicauan sang putra yang melengking begitu dahsyatnya, heran juga dari mana bisa turun bakat sebagai paduan suara seperti itu.
Selesai bersiap, keduanya sarapan bersama dengan turut membawa Fabian. Ya, walaupun sebenarnya anak itu hanya bisa membuang-buang makanan ketika dia mulai kenyang, Zayyan sama sekali tidak marah dan tingkah putranya terlihat lucu saja. Kesabaran Zayyan memang tipis, hanya saja dia akan baik-baik saja selagi putranya tenang.
Beberapa saat kemudian Zayyan benar-benar berlalu dan dia beranjak pergi meninggalkan anak dan istrinya. Pria itu mengecup bibir sang istri begitu lama padahal rencana dia ke kantor hari ini hanya sebentar saja, bahkan bisa dikatakan hanya menunjukkan wajahnya jika dia baik-baik saja.
"Aku pergi, jangan terlalu lelah ... asisten yang aku katakan akan datang siang, tunggu saja ya," ucapnya kemudian menyampaikan apa yang Clayton sampaikan tadi pagi.
"Sudah tua?"
"Iya, sengaja aku minta yang tua ... aku tahu isi otakmu," tebak Zayyan entah kenapa yakin sekali pikiran Zoya tidak akan jauh-jauh dari sana, padahal sudah dia jelaskan jika saat ini memang tidak ada wanita yang membuat dia menatap lebih dari tiga detik kecuali pada Zoya.
"Bagus deh, kalau masih muda aku khawatir kurang paham masalah jaga anak," ungkap Zoya kemudian, padahal yang dia takutkan adalah kehadiran penggoda yang akhir-akhir ini kerap membuat heboh jagat maya.
Berapa banyak rumah tangga retak karena kehadiran asisten rumah tangga yang terlalu muda, Zoya hanya khawatir dan tidak ingin hal-hal semacam itu terjadi pada mereka.
.
.
.
__ADS_1
Perubahan suasana batin Zayyan. Terlampau kentara hingga di kantor senyum hangatnya membuat para wanita yang merupakan bawahannya itu berdebar seketika. Senyum hangat dia berikan dan ini sama sekali bukan Zayyan yang mereka kenal, Clayton mendelik pada setiap wanita yang justru salah sangka dan mengira jika Zayyan mulai membuka hati pasca perceraiannya dari Rosa.
"Bagaimana tadi malam, Bos?" tanya Clayton ketika lift tertutup dan di sana hanya ada mereka berdua.
"Hm, biasa saja ... anakku tidak bisa diajak kompromi," ungkapnya santai sembari memasukkan tangan ke saku celananya.
Clayton mengangguk pelan seakan memahami keadaan ini, Zayyan yang melihat asistennya mengangguk tidak jelas berdecak sebal dan mengira jika pria itu tengah mengejeknya.
"Kau tertawa? Ini tidak lucu sama sekali."
Siapa yang tertawa? Kebiasaan sekali masalah kecil dibesar-besarkan. Padahal hanya mengangguk pelan, tidak menjamin jika Clayton mentertawakannya.
"Tidak, sama sekali tidak tertawa."
Beberapa menit lalu dia tampak baik-baik saja. Kini, semudah itu suasana hatinya berubah dan berlalu begitu saja ketika lift terbuka. Apa-apa main perasaan padahal laki-laki, pikir Clayton kemudian menggeleng pelan.
Jangan sampai saja seharian suasana hatinya akan berubah seperti itu terus menerus. Walau sudah membuat kesalahan Clayton tetap masuk mengikuti Zayyan ke ruangannya tanpa khawatir akan disemprot untuk kedua kalinya.
Brugh
"Anda sakit? Seharusnya tidak perlu ke kantor dulu hari ini."
"Bukan, kurang tidur saja sedikit."
Kehidupan Zayyan berbalik, jam tidurnya baru saja membaik beberapa bulan lalu. Berbagai hal Zayyan lakukan untuk bisa membuatnya kembali normal, kini cukup dengan kehadiran Fabian yang kerap sekali menyiksanya di malam hari mata Zayyan sudah dibuat lelah tepat malam pertama dia membawa Fabian pulang.
"Kalau begitu tidur saja sebentar, lagipula jadwal Anda tidak begitu banyak hari ini."
Clayton memberitahukan kabar baik itu. Akan tetapi, bukannya menjawab pria itu sudah terpejam seraya bersandar di sana. Jelas sekali dia lelah, bahkan untuk menjawab ucapan Clayton saja dia malas.
"Saya permis_"
"Clay tunggu."
Zayyan lupa satu hal penting yang sejak dahulu dia rencanakan tentang Zoya. Dia membuka mata perlahan, kembali berusaha serius agar Clayton tidak salah tanggapan.
__ADS_1
"Soal pernikahanku, tolong urus pencatatannya ... aku menikahi Zoya hanya secara agama waktu itu."
Itu adalah kesalahan Zayyan, dia terlalu terburu-buru lantaran khawatir adiknya diambil orang hingga membuat keputusan semudah itu. Tanpa pikir panjang dan yang mau kala itu cukup mengikat Zoya dengan pernikahan, itu saja.
"Satu lagi, aku mulai tidak nyaman di apartement ... aku butuh rumah yang lebih besar untuk kami berempat nanti," ungkap Zayyan kemudian membuat Clayton menganga sejenak.
"Berempat?"
"Iya, bersama putriku nanti," jawabnya biasa saja dan menganggap hal itu sudah benar sekali, padahal baru saja menemukan istri beberapa hari lalu dan dia sudah merencanakan akan punya anak lagi setelah ini.
"Baik, saya permisi."
Tidak ada yang bisa Clayton lakukan selain patuh pada perintah bosnya. Dia hanya bekerja dengan sebaik-baiknya, tidak peduli meski bosnya sedikit tidak waras begitu. Ya, memang dari dulu sudah begitu sebenarnya, hanya saja yang kali ini sekalipun dia sedikit gila namun terasa menyenangkan karena tidak tampak menyedihkan.
"Clay tunggu!!"
Apalagi? Jika memang belum selesai harusnya dia katakan sejak awal. Kebiasaan sekali begini, ingin marah tapi dia tidak punya kekuasaan sebesar itu. "Iya? Apa ada yang Anda butuhkan lagi?"
"Kopi, jangan manis-manis," titahnya kemudian berucap datar padahal itu bukan tanggung jawab Clayton sebenarnya.
"Ada lagi?"
"Tidak ada, itu saja."
Bayangan Zayyan ketika dia memiliki seorang anak tidak akan begini. Tapi tidak mengapa, seperti kata Keyvan ini adalah anugerah dan harus dia syukuri tentu saja. Kebiasaan baru yang perlahan akan berjalan normal nantinya, jika hanya tidur jam tiga pagi demi menemani Fabian berceloteh seperti tadi malam seharusnya dia mampu, toh sebelum menikah saja Zayyan sekuat itu bahkan tidak tidur semalaman, pikirnya.
Tapi kenapa lelahnya berbeda? Begadang waktu membuatnya tidak selelah ini.
Dalam kesendirian Zayyan membatin, lelah yang dia rasa memang berbeda. Mungkin karena dia yang sama sekali tidak bisa lengah dan tidak ada kata tidur duluan sebelum Fabian mendengkur halus.
- To Be Continue -
Selamat pagi gengs!! di sebelah aku banyak typo mungkin karena target kejar kata di sini tapi malah up di sana maafin dah!! Jan lupa lempar votenya ... sebentar lagi Zayyan juga End abis itu Authornya istirahat.
Hari ini aku bawa rekomendasi novel buat bahan bacaan selama nunggu Zayyan up.
__ADS_1