Hasrat Kakak Tiri

Hasrat Kakak Tiri
BAB 46 - Seperti Bukan Pasangan


__ADS_3

"Pelan-pelan, kakiku sakit."


Wanita itu sudah meminta dengan jelas dan Zayyan sama sekali tidak peduli. Keduanya tidak tampak seperti suami istri, melainkan persis tamu yang tengah melakukan pemaksaan pada staff hotel di sana.


"Pelan? Bukannya lebih suka yang cepat?"


Zayyan tertawa sumbang hingga kini keduanya masuk ke dalam kamar yang sempat dia tinggal hampir satu malam. "Siapkan air ya, hangat seperti biasa ... kamu tau hangatnya gimana," ungkap Zayyan masih saja berani mengecup bibirnya sekilas.


"Iya."


Sedikit tidak ikhlas tapi mau bagaimana memang kewajibannya sebagai istri. Zayyan tersenyum simpul menatap Zoya yang bergerak cepat tanpa menolak, sewaktu belum menikah memang Zoya penurut tapi tidak sepatuh dan secepat ini, pikir Zayyan.


Dari kejauhan tatapan matanya tertuju pada sang istri, Zayyan perlahan mendekati sang istri. Mereka hanya berdua, terpisah dua tahun lamanya dan kerinduan Zayyan tadi malam belum usai. Cukup tiga hal yang menjadi alasan Zayyan tidak bisa berpikir jernih hingga pria itu berhasil membuat Zoya berdebar tak karuan kala tangan Zayyan melingkar di perutnya.


"Kak?"


"Hm, kamu kenapa? Aku suami kamu padahal," ungkap Zayyan ketika merasakan reaksi tubuh Zoya yang tampak takut padanya, padahal secara nyata memang hal wajar.


"Be-belum terbiasa," jawab Zoya jujur dan memang dia sedikit terkejut jika Zayyan tiba-tiba menyerangnya begini.


"Biasakan, mulai hari ini dan seterusnya aku akan begini," bisiknya dengan sengaja menggigit daun telinga Azoya hingga bulu kuduk pria itu semakin meremang saja.


"Ya tapi awas dulu, aku tidak mau ikut basah."


Pakaian yang Zoya gunakan cukup ketat mengikuti lekuk tubuhnya. Yang menjadi masalah bukan hanya Zayyan memeluknya tiba-tiba, tapi karena saat ini dia sadar sang suami tidak mengenakan apapun di tubuhnya.


"Ikut basah? Tadinya aku tidak berniat membuatmu ikutan basah, tapi sekarang aku berubah pikiran."


Bisa saja dia mencari alasan, niat awalnya mandi tapi justru berganti mengangkat tubuh Zoya ke tempat tidur. Cukup mudah baginya karena memang istrinya tidak begitu berat, Zoya yang khatam dengan isi otak Zayyan mengatupkan kaki dan tangannya kuat-kuat.


"Ini jam kerjaku, Kakak jangan gilla ya."


"Mau di ranjang atau di bathup? Bajumu masih bisa dipakai lagi nanti kalau kita di sini," tutur Zayyan sama sekali tidak bisa diterima logika Zoya, dia sekhawatir itu rekan kerjanya curiga dan kini Zayyan justru menjebaknya dan tidak mungkin dia bisa kembali dengan pekerjaannya dalam waktu satu jam kedepan.


"Tidak dua-duanya, di rumah saja okay." Zoya masih berusaha menyelamatkan diri dari terkaman buaya darat ini.


"No, Fabian tidak akan tinggal diam dan aku hanya ingin kita tuntaskan yang semalam."

__ADS_1


Dia yang menganggap tadi malam belum tuntas, tidak dengan Zoya. Memang benar, ketika sudah ada pria yang mencintainya maka seorang wanita tidak akan sebebas itu.


Zayyan sudah sangat siap dengan aksinya, sementara Zoya harus banyak persiapan dan pakaian sang istri yang tampak sempit membuat Zayyan merasa sebal sejak kemarin sebenarnya.


"Bajumu sempit sekali, apa memang begini ketentuannya?" tanya Zayyan kala melucuti pakaian Zoya satu persatu.


"Badanku yang salah, jangan banyak protes."


Sejak dahulu Zayyan memang tidak berubah, pria itu kerap komentar ini dan itu tentang hidup Zoya. Tidak heran setelah menjadi suami dia lebih banyak protes lagi. "Badanmu? Bajunya saja yang salah, seharusnya tidak perlu pakai yang sesempit ini ... ingin cari perhatian siapa kamu begini?"


Ketika sudah ada nama pria yang mengusik batinnya jelas saja Zayyan akan terus berpikir negatif. Meski bibirnya mengomentari ini dan itu, tapi tangannya tidak berhenti hingga semudah itu berhasil membuat istrinya polos bak bayi baru lahir.


"Wait ... tidak lebih dari sepuluh menit," ujar Zoya menahan Zayyan yang kini hendak mengikis jarak di atasnya.


"Sepuluh menit? Baik jika ingin secepat itu, tapi aku pastikan kamu yang nantinya kurang puas," ungkap Zayyan tanpa aba-aba dan tidak pemanasan seperti dahulu menghantam bagian inti sang istri hingga membuat lenguhan halus terlontar dari bibirnya.


Jika hanya memikirkan dirinya Zayyan bisa saja bertindak asal mau dalam mencari kesenangan yang penting dia puas. Akan tetapi, dia mengulur waktu dan kerap lama lantaran memikirkan sang istri agar mencapai puncak berkali-kali.


.


.


.


"Tamu yang kemarin? Dia siapa sebenarnya?" tanya salah satu rekan kerja Zoya yang mengingat dengan jelas siapa Zayyan.


"Tamu? Tapi kamu lama banget di atas, ngapain? Tamunya minta tolong apa lagi?" Seorang Alya yang selalu berpikir positif masih mengira jika Zayyan hanya seorang tamu biasa.


"Minta dibelai," jawab Zoya asal kemudian menghela napas kasar, hendak berbohong juga percuma karena memang sejak awal mereka datang sudah menjadi pusat perhatian.


"What?"


"Hah?!!"


Keduanya mendelik bersamaan bahkan rasanya hampir tersedak. Jawaban spontan dari seorang Zoya yang biasanya sangat sopan ini begitu mengejutkan, demi apapun Alya terkejut luar biasa dan menatap Zoya sedikit geli.


"Memang dasar sinting!! Gaji kamu dikasih dua kali lipat sama pak Dikta bisa-bisanya jadi pemuas tamu? Woah Zoya mulai tidak waras ... Bara harus tahu!!" ungkapnya kemudian dan sama sekali tidak membuat Zoya gelisah.

__ADS_1


"Berlebihan!! Kaian lihat Dikta? Hari ini dia ke sini?" tanya Zoya mengalihkan pembicaraan sementara Alya dan Erina masih tenggelam dalam keterkejutannya.


"Salah tempat bertanya, seharusnya kami yang tanya kamu ... Pak Dikta masuk tidak? Dia baik-baik saja atau tidak dan blablablanya," ungkap Alya bingung sendiri kenapa bisa Zoya tampak aneh begini.


"Tumben nyari pak Dikta, biasanya kamu yang dicari ... pintu hatinya sudah terketuk atau bagaimana bu, Bos?" tanya Erina bercanda karena memang sejak dahulu Zoya kerap dianggap sebagai calon istri dari Dikta.


"Ngaco, mau membicarakan sesuatu ... ini penting da secret." Dia sedikit berbisik ketika di kata terakhir dan hal itu membuat Alya serta Erina benar-benar berpikir wanita itu akan mengakhiri kesendiriannya.


"Gitu dong, seharusnya dari dulu ... semenjak Fabian bayi supaya ikatan mereka semakin kuat," ujar Alya namun sama sekali tidak Zoya gubris untuk saat ini.


"Bener kata Alya, tapi tidak ada kata terlambat ... selagi Zoya siap, yang jelas gaji kita nanti naik setelah kalian nikah."


Percakapan mereka jadi berkembang hingga nama Dikta dan terus mecuat. Tanpa mereka sadari sepasang mata tengah mengawasi sejak tadi dan mencuri dengar pembicaraan konyol mereka.


"Zoya."


"Hah, iyaa?" Zoya tersenyum tipis kala pria itu datang, berbeda dengan Alya dan Erina yang mendadak dingin saat ini.


- To Be Continue -


Hai maaf baru sempat up lagi, dan maaf juga kemarin hanya up satu. Tidak perlu aku bahas di sini karena di sebelah sudah aku jelaskan ya, Bestie🤗 Insya Allah rutin lagi kok guys, khusus Zayyan aku kudu kejer kata bulan ini huaaa😭


Btw selagi Zayyan up boleh mampir ke karya author satu ini ya guys❤



Emin Erdana gadis cantik nan rupawan, usia 18 tahun terpaksa harus menikah dengan Tuan muda Abelano putra tunggal Tuan Basten dan Nyonya Agatha. Untuk menyelamatkan reputasi Keluarga Besar Basten. Setelah pernikahan Putranya Abelano gagal karna sang kekasih lebih memilih pria lain.


Akankah Emin Erdana menerima pernikahannya dengan Abelano?


"Apakah Abelano dapat menerima pernikahan itu? simak ceritanya di "Contrac wedding 30 day's with CEO "


by Morata


FB Nolan s


Ig Sihalohoherlita

__ADS_1


__ADS_2