
Pertemuan singkat yang tak terduga dengan fakta yang sama-sama sulit diterima membuat Zoya dan Dikta butuh waktu untuk benar-benar bisa bicara. Keduanya saling menatap dengan perasaan yang tidak bisa dijelaskan, terutama Dikta.
Dikta tertawa sumbang, merasa tidak percaya dengan pengakuan Zoya yang mengatakan jika makam yang sempat dia kunjungi adalah makam kedua orang tuanya.
"Kamu bercanda, 'kan?"
Zoya menggeleng pelan dan menunduk lantaran tidak memiliki keberanian untuk menatap mata Dikta.
Entah kenapa dia benar-benar merasa bersalah. Padahal di sini baik Dikta maupun Azoya tidak memiliki kesalahan satu sama lain. Dikta terdiam sesaat, wajar saja Widarman mengatakan jika dia memiliki seorang adik satu ibu yang tidak boleh dia benci walaupun hubungan itu tercipta dengan menghadirkan luka yang teramat dalam dalam batin Widarman.
"Oh My God ... lalu maksudmu, kita kakak adik, Zoya?" tanya Dikta seakan tidak percaya akan tetapi memang beginilah adanya.
Zoya tidak bisa menyimpulkan apa memang benar dia saudara satu ibu atau bukan. Hanya saja jika memang benar Nania adalah wanita yang melahirkan mereka berdua, maka tidak bisa dipungkiri keduanya memang saudara seibu.
Dikta menggigit bibir bawahnya, dia menatap Azoya sekali lagi dan berharap jika ini hanya mimpi. Karena jika benar, maka fakta bahwa dia sama sekali tidak akan memiliki Zoya benar adanya.
__ADS_1
"Ya Tuhan ... di antara jutaan manusia di dunia ini kenapa harus kamu yang menjadi anak badjingan itu?"
"Dikta jaga bicaramu!!"
Zayyan sejak tadi sudah memilih diam dan memberikan kesempatan pada mereka untuk berbicara secara baik-baik. Namun, ucapan Dikta yang mengatakan jika Agam seorang badjingan membuat Zayyan naik darah terlebih lagi dia sudah mengetahui bagaimana Dikta yang juga terus berusaha merebut Zoya padahal dia tahu jika Zoya sudah bersuami kala itu.
"Diam kau, aku tidak sedang berbicara padamu," balas Dikta sama sekali tidak peduli dengan ucapan Zayyan terkait sindiran pedasnya yang menilai buruk Agam tepat di depan wajah Zoya.
"Zoya istriku dan yang kau hina mertuaku, tidak ada salahnya aku membela mereka. Sebelum kau mengatakan jika papa mertuaku badjingan, seharusnya kau ingat dulu bagaimana dirimu yang nekat mencintai istriku padahal dia sudah jelaskan statusnya," jelas Zayyan panjang lebar dan mengingatkan Dikta lantaran khawatir jika pria itu lupa ingatan.
Sejak tadi memang diam dan sekalinya bicara dia benar-benar mengulik fakta yang berhasil membuat Dikta terdiam membisu dalam seketika.
"Kau Jangan pernah menghina mamaku!! Jika saja Agam tidak hadir sebagai orang ketiga maka keluargaku akan baik-baik saja dan tidak akan ada Zoya sebagai anak Mama selain aku."
"Jika tidak mau mamamu disalahkan, maka Jangan pernah menyalahkan mertuaku. Oh iya, satu hal yang perlu kau tahu Perihal oran ketiga ... sekalipun pihak ketiga memaksa masuk dari luar, jika tidak dibukakan pintu maka pengkhianatan tidak akan terjadi, Dikta."
__ADS_1
Zayyan benar-benar berusaha menjadi penengah meski jujur saja sejak tadi dia ingin sekali mendaratkan bogem mentah tepat di wajah Dikta. "Dan untuk kasus ini, mamamu bahkan memiliki seorang anak itu artinya ada yang salah dari keluarga kalian sejak awal yang mungkin saja tidak kau tahu, dan aku tegaskan padamu sekali berhenti menyalahkan pihak ketiga jika kau sendiri tidak berkaca."
Dikta membuang napas kasar dan dia mengepalkan tangan usai mendengarkan ucapan Zayyan. Pernyataan Zayyan sama persis seperti yang Widarman jelaskan berkali-kali padanya.
Sebelum datang ke tempat ini Dikta juga mendengarkan hal yang sama dari Widarman memintanya untuk tidak membenci siapapun setelah mengetahui apa yang terjadi. Hubungan antara Agam dan Nania tidak akan terjadi jika keduanya tidak suka sama suka. Untuk itu, Dikta tidak boleh menyalahkan salah satu pihak saja.
"Maafkan Papaku, jika boleh memilih aku tidak pernah menginginkan lahir dari sebuah pengkhianatan," ucap Zoya tulus pada Dikta dan dia benar-benar berharap pria itu memaafkan kesalahan Papanya jika memang benar telah merusak kebahagiaan keluarga Dikta di masa lalu.
"Tidak perlu minta maaf ... Papa bilang sejak awal memang sudah menduga hal ini akan terjadi."
.
.
.
__ADS_1
- To Be Continue -