
Faktanya perkara ulang tahun Dikta sangat-sangat mengganggu konsentrasi Zayyan hingga keesokan harinya. Pria itu hanya menyibukkan diri bersama Fabian dan memilih diam ketika Zoya mengajaknya bicara.
"Padahal sepele," gumam Zoya pelan.
Sebenarnya sejak lama Zayyan memang begitu. Setiap kali Zoya mengingat orang lain maka dia akan merasa pria paling tersakiti di dunia. Ingin marah tapi tidak bisa, Zoya hanya bisa memandangi laki-laki itu dari kejauhan seraya berdoa Zayyan tidak akan selamanya bersikap kekanak-kanakan begitu.
Satu menit, dua menit, tiga menit dan kini sepuluh menit berlalu Zayyan masih memilih diam dan mengabaikan Zoya meski dia sadar sang istri sejak tadi terus menatap ke arahnya.
"Kalian bertengkar?" tanya Zico yang baru saja datang beberapa saat lalu bersama Agatha yang masih terlihat masih lemas.
"Tidak, Kak ... mungkin lagi fokus bersama Fabian saja," jawab Zoya berusaha menyembunyikan fakta memalukan tentang suaminya yang marah hanya karena perkara tanggal lahir Dikta.
"Tapi wajahnya berbeda, biasanya dia tidak begitu." Sudah sepantasnya Zico curiga karena memang biasanya Zayyan tidak pernah bisa jauh dari Zoya sekalipun ada Fabian yang mungkin akan mengalihkan dunianya.
"Serius, memang begitu. Biarkan saja dia ... kalian sudah makan?"
Zoya hanya berusaha memposisikan diri sebaik-baiknya sebagai saudara untuk keduanya. Apalagi, saat ini Agatha sangat butuh perlindungan dari rasa takut yang mencekam pasca kejadian itu.
"Belum, ini kami bawa ayam bakar, bibi yang masak."
"Woah benarkah?"
__ADS_1
"Hm, Agatha ingin kita makan berempat seperti dulu," ungkap Zico menatap Agatha yang terlihat tetap fokus dengan layar ponselnya.
"Boleh dong, kebetulan sekali kalau begitu aku belum masak."
Jawaban di luar dugaan dan sama sekali tidak terpikir oleh Zico terdengar begitu santai dari mulut Zoya. "Astaga! sudah jam berapa ini? Asisten rumah tanggamu mana? Jangan-jangan Zayyan pecat?" tanya Zico kemudian menoleh dan memang sepertinya tidak ada tanda-tanda kehidupan selain mereka bertiga di sini.
"Bukan begitu, Kak. Anaknya sakit jadi harus pulang mungkin minggu depan ke sini lagi," jawab Zoya kemudian dan membuat Zico mengangguk perlahan.
Hal semacam ini tidak dia kira sebelumnya. Lagi pula ini masih dapat dikatakan cepat untuk makan siang. Zoya sebenarnya akan bersiap tapi waktunya terpotong karena berusaha membujuk Zayyan agar mau bicara padanya.
"Ya sudah bawa ini ke belakang ... setengah jam lagi kita makan siang," ungkap Zico kemudian meninggalkan kedua adiknya lantaran tertarik dengan gelak tawa Fabian yang mengalihkan dunianya.
"Kamu baik-baik saja, Agatha?" tanya Zoya pelan karena keduanya memang belum sedekat Itu.
"Baik, cuma sedikit sakit," jawab Agatha dengan suara yang terdengar serak namun sudah lebih baik.
Sebenarnya wanita itu belum diizinkan untuk kemana-mana. Akan tetapi dia tidak ingin hanya berdiam diri di rumah utama karena merasa dibayangi ketakutan pada mama sambungnya.
"Syukurlah kalau begitu, tapi bukankah seharusnya kamu istirahat saja Agatha?" tanya Zoya pelan dan sedikit khawatir jika Agatha nanti tersinggung dengan pertanyaan semacam ini.
"Aku kesepian, Zoya ... aku takut sekalipun ada Kak Zico sama saja," jawab Agatha tanpa berani menatap Zoya yang sempat dia maki beberapa waktu lalu.
__ADS_1
Agatha adalah wanita yang tidak pernah menjilat ludah sendiri sebelumnya. Namun, setelah berada di posisi ini dia merasa manusia paling hina yang kemudian meminta Iba kepada seseorang yang telah dia buat terluka di masa lalu.
"Sebenarnya kamu berencana untuk mengunjungimu nanti malam," ungkap Zoya apa adanya karena memang zayyan mengatakan hal itu sebelumnya.
"Lama, kenapa kalian harus menunggu nanti malam? Dan juga kenapa kita harus terpisah, Zoya. Apa tidak bisa kita bersama saja? Aku rasa tidak ada salahnya jika kita seperti dulu," tutur Agatha kemudian, dia benar-benar serius menginginkan berada di sisi mereka berdua saat ini.
Agatha sangat menyayangi Zayyan. Akan tetapi dia paham memang tidak akan pernah menjadi yang utama jika Zoya hadir. Dia hanya ingin tetap dekat bersama kakaknya.
Dua tahun kepergian Zoya, Agatha benar-benar kehilangan sosok Zayyan sebagai kakaknya. Dia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini karena memang dengan merangkul Zoya baru Zayyan bisa menyayanginya dengan benar-benar tulus.
Apalagi saat ini Fabian hadir sebagai pengisi relung hati Zayyan, maka memang sama sekali tidak ada peluang untuk Agatha bisa tinggal bersama kakaknya.
"Mau ya? Kita masih bisa menjalin hubungan baik-baik sebagaimana yang Papa mau, aku tidak akan pernah mencari masalah denganmu lagi, Zoya ... lebih baik kita bersama, sudah tidak ada lagi Mama di sana dan memang yang berhak atas rumah itu adalah istri Zayyan sebagai pewaris utama."
.
.
.
- To Be Continue -
__ADS_1