Hasrat Kakak Tiri

Hasrat Kakak Tiri
BAB 62 - Kamu Pemenangnya


__ADS_3

Faktanya, apa yang Zayyan lakukan dia siang hari tidak berhasil. Fabian tetap terjaga meski sudah jam sepuluh malam, berbagai cara sudah Zoya lakukan. Tanpa Zayyan jelaskan Zoya sebenarnya paham apa yang pria itu rasakan, tatapan mata dan wajah gusarnya sudah Zayyan keluarkan sejak usai makan malam.


"Bian kapan tidurnya? Gantian, Mamanya buat Papa," pinta Zayyan dengan wajah lesunya, pria itu resah sendirian sementara Zoya tidak bisa berbuat apa-apa.


"Sabar, Kak ... sebentar lagi," ucap Zoya berharap Zayyan bisa mengerti, beberapa kali pria itu menatap jam di dinding kamar mereka.


Sebentar lagi apanya, hingga detik ini Fabian masih sesegar itu. Tidak butuh susu tapi hanya meminta waktu Zoya bermain dengannya, lebih kejamnya lagi Fabian tidak mengizinkan Zayyan untuk bergabung naik ke tempat tidur bersama mereka.


Pertarungan sengit antara kedua pria ini masih saja berlangsung. Zayyan yang memang sedari dulu egois jelas saja merasa tersiksa lantaran putranya bersikap sama. Hingga, dia memilih untuk ke ruang kerja lebih dulu.


"Sayang, kalau dia sudah tidur jemput ya," ucap Zayyan sebelum berlalu keluar, dia memang tidak lagi punya cara lantaran putranya memang sensitif luar biasa malam ini.


Zoya mengangguk patuh kemudian mengulas senyum hangatnya, sementara Fabian yang tidak bisa lepas dari susu masih tetap menatap kepergian sang papa. Mungkin jika dia sudah bisa bicara, Fabian akan mengejek Zayyan mati-matian lantaran dia yang memilih kalah pada akhirnya.


Tiba di ruang kerjanya, Zayyan mencoba melupakan hassratnya sejenak. Dia mencoba serius dan fokus dengan pekerjaan malam ini. Tidak banyak sebenarnya, hanya saja dia tengah mencoba mengalihkan pikiran agar tidak terngiang-ngiang dengan istrinya.


"Apa mungkin karma pernah mendua? Tapi kan waktu itu Zoya yang minta."


Sungguh, di saat-saat begini Zayyan berpikir apa mungkin yang dia alami ini adalah akibat dia yang pernah menduakan Zoya meski bukan tanpa sengaja. Bagaimanapun alasannya tetap saja, Zayyan pernah menikahi dua wanita sekaligus.


Di saat banyak orang yang menceritakan kedekatannya bersama buah bati, Zayyan sendiri yang merasakan bagaimana kejamnya sang putra di malam hari. Bukan hanya tidak bisa bersenang-senang melainkan mendekati Zoya saja tidak dia izinkan.


Anehnya, Fabian begitu di saat-saat tertentu saja, tepatnya di saat Zayyan benar-benar menginginkan Zoya. Seakan paham bagaimana perasaan papanya dan dia akan setenang itu membuat Zayyan seakan gila.


Sepuluh menit pertama Zayyan masih kerap menoleh dan berharap Zoya akan membuka pintu dari luar, sayangnya masa itu tidak juga tiba hingga dia benar-benar meneruskan pekerjaannya. Tidak mengapa, Zayyan terlatih semacam ini dan jelas bukan kali pertama jadi seharusnya biasa saja, pikir pria itu.

__ADS_1


.


.


.


Sementara di sisi lain, Zoya yang kini baru saja berhasil menidurkan Fabian segera bersiap untuk menjemput sang suami. Drama sekali di ruang kerja harus dijemput lebih dulu, pikirnya.


"Selamat malam, Sayang ... tidur yang nyenyak," bisik Zoya pelan dan berharap sekali tidurnya Fabian benar-benar hingga esok hari.


Mimpi apa Zoya mendatangi suaminya begini, hanya karena kasihan Zayyan terlalu lelah dengan begitu banyak harapan patah hari ini dia mendatangi Zayyan layaknya seorang penggoda.


Melangkah pelan ke ruang kerja, dia kembali mengendap-endap di tempat tinggalnya sendiri lantaran khawatir asisten rumah tangganya melihat keadaan dirinya.


Tiba di ruang kerja, Zoya dikejutkan dengan kursi kosong dan lampu masih menyala. Zayyan tidak ada di sana, sepertinya memang tengah keluar karena komputernya masih menyala di atas meja.


Zoya kembali berlalu keluar, mencari keberadaan Zayyan masih dengan mengenakan lingerie hitam yang mempelihatkan dengan jelas lekuk tubuhnya.


Beberapa saat mencari, dia menemukan Zayyan yang kini tengah menyeduh segelas kopi. Zayyan belum menyadari kehadirannya, hingga pria itu menatapnya tanpa berkedip ketika Zoya kian mendekat.


Gleg


"Sshh aaw."


Zayyan panik, kopi panas itu hampir saja tumpah hingga membuat tangannya memerah. Zoya memanas seketika kala menyadari Zayyan terlalu dalam menatapnya.

__ADS_1


"Kakak sedang apa?"


"Menurutmu apa?"


Zoya tertawa sumbang kala mendengar respon Zayyan, sejak dahulu memang dia tidak suka mendapat pertanyaan semacam itu. Kasihan sekali nasib suaminya, segera Zoya menarik tisu dan mengelap tangan Zayyan hati-hati.


"Hati-hati makanya, kebiasaan kerjanya apa matanya kemana," ucap Zoya tidak bernaksud marah melainkan ungkapan kekhawatirannya.


"Kamu datang-datang begini apa maksudnya, menggodaku?" tanya Zayyan menatapnya lekat-lekat, Zoya yang biasanya harus digoda lebih dulu tiba-tiba melakukan hal semacam ini, jelas saja dia mau.


"Niatnya begitu, Kakak tidak tergoda ya?" tanya Zoya kemudian memberikan ekspresi kecewa lantaran merasa usahanya sia-sia.


"Jangan tanya soal itu, sudah pasti iya, Zoya," jawab Zayyan tanpa pikir panjang meraup bibir ranum Zoya sekilas, manis dan sepertinya Zoya sengaja menghias diri lebih dulu sebelum mendatangi Zayyan.


"Fabian tidur?"


"I-iya, tidur." Zoya masih gugup dan tetap menghindari tatapan Zayyan, entah kapan dia bisa biasa saja menatap mata Zayyan di saat begini.


"Mau dimana? Kamar, di sini atau sofa?" tanya Zayyan menepikan anak rambut Zoya, pria itu lagi-lagi mengecup bibir manis Zoya.


"Gilla, kita tidak hanya berdua di sini," bisik Zoya khawatir Zayyan justru memulainya sekarang karena kini tangan pria itu sudah menelusuri bagian belakangnya.


"Terserah, kita suami istri ... salah dia kenapa berani keluar malam hari," ungkap Zayyan benar-benar tidak peduli dan kini melummat lembut bibir sang ranum sang istri.


"Hhmmmpp, sabar, jangan di sini, Kak."

__ADS_1


"Ck, banyak sekali dramanya ... jangan di kamar kita, Fabian biasanya bangun, kamar tamu saja," ucap Zayyan kemudian menarik pergelangan tangan Zoya, kopi yang tadi dia seduh perlahan dingin sendiri bahkan mungkin tidak akan diminum hingga pagi hari.


- To Be Continue -


__ADS_2