Hasrat Kakak Tiri

Hasrat Kakak Tiri
BAB 39 - Bukan Pria Bodoh


__ADS_3

Terlalu lama berpisah, mereka kehilangan banyak waktu bersama. Cukup lama Zayyan memandangi putranya yang kini telah terlelap begitu nyaman. Banyak pertanyaan yang harus Zoya jawab setelah ini, terutama tentang pria yang tadi berada di rumah ini.


Beberapa waktu kemudian Zoya keluar dari kamar mandi, wanita itu bahkan sengaja mengganti baju di dalam sana demi menghindari Zayyan. Padahal, pria ini adalah suaminya sendiri, pikir Zayyan sedikit kesal sebenarnya.


"Kak, mandilah ... belum mandi, 'kan?" tanya Zoya kemudian, seingatnya di hotel Zayyan memang belum membersihkan dirinya.


"Hm."


Dingin lagi, sepertinya memang dia marah. Hanya bersikap hangat beberapa waktu lalu karena ada Fabian, kini putranya tertidur jadi wajar saja Zayyan kembali bersikap seperti itu.


Zayyan berlalu tanpa mengucapkan kata, dia hanya berucap lembut pada putranya saja. Zoya masih tersenyum melihat Zayyan tampak sebahagia itu walau sebenarnya masih banyak yang di permasalahkan saat ini.


Sementara Zayyan mandi, sebagai istri dia menyiapkan pakaian untuk sang suami. Walau sedikit sulit dia mencarinya karena memang sudah begitu lama. Tapi Zoya seyakin itu piyama Zayyan yang sempat dia bawa di tasnya kala itu masih ada.


"Ah ini dia," tutur Zoya selega itu, satu-satunya barang milik Zayyan yang dia bawa ketika pergi hari itu.


Rasanya seperti mimpi, baju itu kembali dipakai pemiliknya malam ini. Bukan hanya sebatas mimpi yang kerap Zoya rasakan kemarin-kemarin. Gemericik air tidak lagi terdengar, pertanda suaminya sudah selesai dan cepat-cepat Zoya merapikan pakaiannya kembali.


"Zoya? Kenapa dibuka semua begitu?" tanya Zayyan dengan jarak yang sepertinya sudah cukup dekat.


Secepat mungkin Zoya berbalik dan benar saja suaminya yang terlihat masih begitu basah sudah berdiri di belakangnya. Dengan handuk melilit di pinggang hingga bawah lututnya, Zayyan terlihat begitu menawan. Akan tetapi, kebiasaan lamanya masih zaja bertahan.


"Lap dulu, Kak."


"Ribet, nanti juga kering sendiri," tutur Zayyan sekenanya dan hal itu membuat Zoya kehabisan kata-kata.


"Nanti bajunya basah, kebiasaannya belum juga diubah," ujar Zoya meraih handuk kecil dari dalam lemari dan mengeringkan tubuh sang suami dengan penuh kesabaran, tepatnya takut.

__ADS_1


Zayyan masih belum selunak itu, dia masih sedikit kesal hingga menahan pergelangan tangan sang istri yang tengah fokus merawatnya selesai mandi. "Kamu, melakukan hal semacam ini juga padanya, 'kan?" tanya Zayyan pada intinya dan membuat Zoya menarik napas dalam-dalam.


"Tidak, Kak ... antara aku dan Dikta tidak sedekat itu," jelas Zoya paham yang dimaksud oleh Zayyan adalah Dikta, hanya saja jawaban Zoya belum bisa Zayyan terima begitu saja.


"Dikta ... kekasihmu? Calon suamimu atau siapa?" tanya Zayyan penuh selidik, dia kembali seperti Zayyan yang luar biasa posesif pada Zoya kala itu.


"Bosku, Kak," jawabnya melemah, dia pahami saat ini Zayyan memang benar-benar marah.


"Bosmu? Yakin sebatas itu? Mataku bisa menilai perlakuan lelaki, Zoya ... dia menyebut dirinya sebagai Daddy untuk anak kita, kamu pikir aku bisa berpikir jernih?"


Zayyan sudah tersulut emosi, tapi dia tahan karena di kamar ini malaikat kecilnya tengah tertidur lelap. Khawatir jika nantinya akan mengusik ketenangan Fabian, lagipula rumah ini tidak seaman rumahnya untuk bertengkar. Bisa dipastikan suara mereka terdengar oleh Mirna di luar sana.


"Kakak jangan salah paham, Dikta hanya orang baik yang menjadi penolongku sejak menginjakkan kaki di kota ini ... hingga sampai Fabian lahir, Dikta adalah salah satu yang mendampingiku_"


"Teman? Ya Tuhan, istriku naif sekali ... dia begitu karena menyukaimu, dimana pria yang rela menemani wanitanya jika niatnya hanya menolong, Zoya."


"Tapi Dikta tidak sendiri, Kak."


"Memang tidak sendiri, tapi yang paling berperan adalah dirinya, 'kan?" tanya Zayyan yang kemudian Zoya angguki perlahan.


Dia tidak berbohong, Dikta Memang paling berperan bahkan ketika mengetahui kehamilan Zoya Dikta tetap memilih diam dan merahasiakan hal semacam ini dari papanya selaku pemilik hotel itu. Ya, anggap saja sebenarnya Dikta menyembunyikan keburukan Azoya demi kelangsungan hidupnya.


.


.


.

__ADS_1


Dua tahun lalu


"Hamil?" tanya Dikta mengerutkan dahi kala Zoya pamit untuk mengundurkan diri, sadar betul jika dia hanya akan membuat kecewa malaikat penolongnya tapi apa boleh buat semua memang harus dia ungkapkan.


"Iya, maaf membuat kecewa tapi ketika aku bertemu denganmu sama sekali aku tidak menyangka akan hamil secepat ini," sesal Zoya merasa tidak enak karena sudah membuat Dikta kecewa padanya.


"Kamu benar-benar sudah menikah ya?" Dikta sempat bertanya kala itu, dan Zoya dengan tegas menjawab dia sudah menikah bahkan mempelihatkan cincin pernikahannya. Akan tetapi, Dikta yang telah dibuat buta dengan pandangan pertama jelas saja tidak percaya pada awalnya.


"Iya, kan sudah aku jelaskan sedari awal ... mau lihat foto suamiku?"


"Hahah tidak, aku yakin lebih tampan aku," tolak Dikta yang sebenarnya merasa takut dirinya kalah lebih dulu ketika melihat gambaran suami dari wanita ini.


"Berniat pulang?" tanya Dikta khawatir sekali Zoya akan menjawab iya, akan tetapi beberapa detik kemudian Zoya menggeleng dan itu membuat senyum Dikta merekah begitu manisnya.


"Suamiku sudah bahagia, jika aku kembali akan banyak hal yang nantinya kacau balau," ungkap Zoya tersenyum getir.


Beberapa waktu lalu dia sempat memantau akun sosial media Agatha menggunakan akun Alya, hanya demi memastikan mereka baik-baik saja. Akan tetapi, yang Zoya dapatkan justru berbeda kala melihat keharmonisan mereka bersama Rosa.


Tidak hanya selesai di sana, rasa penasaran Zoya membuatnya berselancar ke akun Rosa hingga tampaklah sebuah foto dimana Zayyan tengah terlelap dan Rosa mengecupnya.Tidak hanya satu tapi beberapa foto dan itu sudah cukup menyimpulkan jika Zayyan baik-baik saja. Hatinya memang sakit, tapi mau bagaimana lagi toh Rosa juga berhak atas diri Zayyan, pikir Zoya kemudian.


"Bagus, pilihanmu sudah tepat, Zoya ... kamu berhak mencari kebahagiaanmu sendiri, dan selama proses itu aku yang akan menemanimu."


Semua masih terbayang jelas, Zoya sama sekali tidak menutupi siapa dirinya atau menyembunyikan pernikahannya bersama Zayyan. Dua tahun sudah berlalu dan air mata Zoya tetap berurai ketika membahas masalah ini.


"Jadi hanya karena postingan wanita itu kamu benar-benar menutup diri dariku? Keterlaluan," gumam Zayyan kemudian, tapi mau bagaimana lagi. Semua sudah terjadi dan dia juga tidak bisa menganggap posisi Zoya seremeh itu.


- To Be Continue -

__ADS_1


__ADS_2