
Mereka bertiga sama-sama menunggu kabar baik, Zico terus menggenggam jemari Agatha sementara Zayyan mondar mandir lantaran dia tidak tenang sama sekali. Pria itu mengepalkan tangan dan berusaha meyakinkan hatinya jika dia akan membuat Amora menyesal seumur hidupnya.
"Aku tidak akan membiarkannya hidup tenang."
Zayyan bertekad untuk membuat Amora benar-benar mendekam di penjara. Tidak hanya karena menyebabkan Agatha celaka melainkan juga dengan tuduhan-tuduhan lain yang memungkinkan wanita itu mendekam di penjara.
Setelah Agatha siuman pria itu memilih pulang ke rumah utama untuk memastikan Bagaimana keadaan di sana. Zayyan menitipkan Zoya dan Fabian kepada Zico di rumah sakit karena tidak mungkin dia membawa serta anak dan istrinya pulang saat ini.
"Hati-hati, Kak," ucap Zoya sebelum suaminya benar-benar berlalu pergi saat ini juga.
"Iya ... aku tinggal dulu sebentar, jangan kemana-mana dan tetap di samping Zico sampai nanti aku pulang," ungkap Zayyan entah kenapa khawatir sekali jika istrinya lepas dari pengawasan Zico.
"Ehm, jangan lama-lama ya," pinta Zoya mengulas senyum hangatnya, beruntung saja Fabian tidak banyak ulah dan hanya tertidur dalam pelukannya.
"Aku pergi, titip anak dan istriku," ujar Zayyan kepada Zico yang kini mengangguk patuh ke arahnya.
Zoya menatap punggung zayyan yang kian menjauh dengan perasaan was-was. Bagaimana tidak, baru saja beberapa waktu lalu berseteru dengan Agatha dan kini keduanya saling menatap dengan wajah sama-sama lesu dan penuh penyesalan.
__ADS_1
"Kamu lelah, Zoya?" tanya Zico yang merasa Zoya nemang terlihat lesu. Walau mungkin saja karena faktor dia yang kini menyusui bayinya, akan tetapi jika melihat Zoya saat ini lelahnya wanita itu memang berbeda.
"Tidak, Kak ... aku hanya merasa bersalah dengan apa yang terjadi pada Agatha." Zoya yang masih merasa jika Amora sebagai wanita yang pernah dia panggil sebagai Mama di masa lalu, "Maafkan Mama, Agatha," lanjut Zoya berhasil membuat Zico muak seketika.
"Hentikan, Zoya. Jangan pernah berpikir semacam itu."
Bingung sekali kenapa adik iparnya ini masih saja meminta maaf atas nama Amora. Padahal, sejak dahulu sudah mendapat perlakuan tidak adil oleh sang mama. Agatha belum bisa banyak bicara dia hanya menatap lekat Zoya yang tampak tulus meminta maaf padanya.
"Kamu tetap di sini ya, Zoya ... kakak ke toilet sebentar," pamit Zico yang merasakan dia ingin buang air kecil. Sebentar saja, dan tidak akan lama, lagipula toiletnya tidak berada di luar.
Entah sengaja atau bagaimana, Zico membuat Agatha dan Azoya terjebak keadaan yang mana mereka kini saling menatap canggung satu sama lain. Zoya bingung hendak memulai pembicaraan jika sudah berdua begini. Sementara di lain sisi, ego dan Gengsi Agatha untuk meminta maaf terlalu tinggi hingga tidak mungkin dia bisa mengutarakan kalimat itu pada Zoya.
"A-aku ... aku takut, Zoya," jawab Agatha bergetar bahkan dia menatap pintu dan jendela dengan tatapan liar seakan khawatir seseorang yang tidak dia inginkan kembali masuk dan melakukan hal gila itu.
"Tenang, Agatha di sini ada Kak Zico kamu sudah baik-baik saja."
Sesaat, Agatha terdiam. Kata maaf masih sesulit itu dia ungkapkan, hingga dia menghela napas panjang kemudian memejamkan matanya. "Zoya, maaf untuk semua yang kulakukan di masa lalu ... aku pernah membencimu dan berusaha merebut Mama yang ternyata menginginkan hal lain dalam hidupku," ungkapnya terdengar begitu lemah namun memang tidak dibuat-buat, dia yang saat ini masih tidak percaya dengan apa yang terjadi hanya merasakan ketakutan tiada henti.
__ADS_1
"Iya, jangan terlalu banyak bicara dulu, Agatha ... kamu belum stabil," jawab Zoya dengan perasaan iba mendengar suara wanita itu bahkan terdengar berbeda. Ya, meski dari dulu keduanya tidak sedekat itu, akan tetapi bukan berarti Agatha terlampau buruk di hati Zoya.
.
.
.
Saat ini, di lain sisi Zayyan sudah berada di rumah utama. Pria itu melangkah cepat memastikan sesuatu yang membuat dia curiga. Selain kamar pribadi mendiang papanya, Zayyan juga menuju ruang kerja Alexander.
"Cih, sudah kuduga," gumam Zayyan ketika melihat ruangan kerja Alexander terlihat tidak rapi sama sekali.
Ada seseorang yang masuk dan memaksa untuk menemukan sesuatu. Dia memandangi sekeliling ruang kerja sang papa yang tampak tidak beraturan lagi itu, tidak salah dia mengambil langkah lebih cepat kemarin-kemarin.
Tidak hanya sampai di sana, Zayyan juga memeriksa rekaman CCTV ruang kerja papanya sebelum kemudian masuk ke kamar adiknya. Semua sudah sejelas itu, hanya menunggu Amora lekas tertangkap.
"Boddoh sekali ternyata."
__ADS_1
Sertifikat tanah yang dia yakini diusik Amora tergeletak begitu saja di atas tempat tidur Agatha. Mungkin dia memang tidak sempat masuk ke kamar lebih dulu untuk mempersiapkan kepergiannya.
- To Be Continue -