
Hanya karena hal sesederhana itu, Zoya benar-benar memantapkan niatnya untuk menjauhi Zayyan. Wanita itu berusaha sembuh dari luka yang sebenarnya dia ciptakan sendiri, tanpa dia sadari sama sekali jika Zayyan juga terluka karena kepergiannya.
"Boddoh kamu, Zoya."
Kalimat itu sontak keluar dari bibir Zayyan pasca Zoya mengangguk pelan. Zoya percaya Zayyan mampu menerima Rosa, bukan tidak mungkin mereka benar-benar bahagia jika sudah terbiasa. Apalagi, Zoya yang mengenal Zayyan sebagai pria yang begitu mudah dekat dengan banyak wanita dalam hidupnya.
"Iya, anggap saja begitu ... tapi andai Kakak berada di posisiku pasti akan melakukan hal yang sama, banyak hal yang membuatku memilih diam. Harapan Papa sebelum pergi, kebahagiaan Mama dan juga Agatha ada pada Rosa, bukan padaku," ungkap Zoya terasa berat sekali, wanita itu memberanikan diri untuk menatap manik sendu Zayyan yang tampak menyimpan sejuta kekecewaan.
"Tapi harapanku ada padamu, Sayang ... bukan Rosa. Jangan terlalu memikirkan orang lain, yang menjalaninya adalah kita berdua," tutur Zayyan lembut sekali, dia kehabisan kata-kata untuk menghadapi adik sekaligus istrinya ini.
"Iya, maaf ... tapi pakai dulu bajunya."
Terlalu fokus bicara keduanya bahkan lupa jika Zayyan belum mengenakan bajunya. Pria itu terdiam sejenak, dia mengenal piyama yang kini Zoya serahkan padanya. "Sejak kapan baju tidurku ada di sini?" tanya Zayyan sediki heran namun percayalah batinnya sebahagia itu sebenarnya.
"Aku yang bawa waktu itu," jawab Zoya apa adanya, karena paham Zayyan adalah seseorang yang akan sangat dia rindukan ketika tidur, Zoya memutuskan membawa pakaian suaminya.
"Curang, kenapa orangnya tidak diajak?"
Zayyan sepertinya perlahan luluh, dia mencubit hidung Zoya pasca menerima pakaiannya. Ungkapan Zoya tentang siapa Dikta dan bagaimana hubungan mereka cukup membuat Zayyan merasa bahagia, terutama dia merasa Zoya hargai sebagai suami.
__ADS_1
"Kalau sama Kakak juga, bukan kabur namanya," jawab Zoya sekenanya menghadapi candaan Zayyan, pria itu hanya terkekeh kemudian.
Tidak pernah drama pergi dari rumah walau Zayyan dulu luar biasa posesif padanya sebelum mereka menikah. Kini, ketika sudah nekat dia benar-benar berlari sejauh itu bahkan membuat Zayyan menggila.
Meski sudah lama menikah, entah kenapa Zoya justru lebih canggung malam ini. Selama dua tahun dia merasakan kesendirian setiap malamnya, kini sosok pria hadir sebagai teman makan malamnya. Ya, walau mungkin Zayyan sudah selesai tapi tetap saja Zoya paksakan makan walau hanya sedikit.
"Sudah berapa lama kamu tinggal di sini?"
"Baru dua bulan lalu, aku harus nabung dulu supaya siap bayar cicilannya," jawab Zoya sembari mengambilkan lauk pauk untuk sang suami, jika dihitung dari Awal pernikahan ini adalah malam kedelapan mereka makan berhadap-hadapan begini.
"Cicilan?"
Zayyan mengerutkan dahi, seorang Zoya memilih jalan itu padahal dia memegang kartu yang mungkin saja menjamin kehidupan Zoya beberapa tahun walau tidak bekerja sama sekali.
"Kartumu apa gunanya?" tanya Zayyan sedikit sebal lantaran Zoya benar-benar mencoba lepas dari Zayyan dengan menjadi wanita semandiri ini.
"Ada, tapi kan aku sudah kerja ... jadi tidak masalah," ungkap Zoya merasa keputusannya sudah paling benar sedunia. Andai saja Agatha yang berada di posisi Zoya mungkin dia sudah mengguras harta Zayyan tanpa tersisa.
"Gajimu berapa menangnya? Aku rasa tidak akan cukup untuk biaya hidup dan mencicil ini dan itu, mobil terutama." Zayyan terpikirkan mobil mewah yang kini berada di luar, jika perkara rumah ya mungkin saja dia masih bisa.
__ADS_1
"Pemberian Dikta," ujar Zoya berhasil membuat Zayyan raut wajah Zayyan kembali berubah, sudah dia duga pria itu berperan penting dalam hidup Zoya di sini.
"Dalam rangka apa?"
"Tidak dalam rangka apa-apa, aku tidak ingin bergantung hidup pada pria seperti sebelumnya ... tapi, Dikta tidak mengizinkan aku naik kendaraan umum atau yang lainnya, apalagi saat itu aku baru saja melahirkan Fabian."
Enggan bergantung hidup, sejak awal Dikta memang begitu baik. Hanya saja, Zoya yang belajar dari pengalaman mengerti dampaknya bergantung pada pria itu bagaimana. Hingga, dia meminta Dikta untuk berhenti menjadikannya prioritas, hanya saja seorang Dikta tidak akan pernah melepaskan Zoya begitu saja kalaupun dia tidak nyaman selalu didampingi.
Tidak hanya di situ, Zoya masih tetap ingin kembali bekerja meski Dikta sudah melarangnya. Sempat terhalang karena kehamilannya yang mulai membesar, Zoya menerima pekerjaan dari Dikta yang bisa dia lakukan di rumah. Hingga, ketika Fabian menginjak usia dua bulan Dikta terpaksa mengikuti kemauan Zoya untuk kembali ke hotel lantaran khawatir wanita itu justru menjauh darinya.
"Jika rumah ini baru beberapa bulan lalu, sebelumnya kalian tinggal dimana?" tanya Zayyan kemudian, entah kenapa bayangannya tentang hidup Zoya sewaktu menjalani kehamilan tetap saja luar biasa sulitnya.
"Kost, aku mencari kost yang dekat dari Hotel ... tapi ketika Fabian beranjak tumbuh besar, aku tentu harus mencari tempat tinggal yang lebih layak," jawab Zoya lembut dan itu tidak berbeda dari Zoya yang dahulu, Zayyan salah tentang ini.
Kehidupan Zoya tidak semanis yang terlihat sekarang. Sewaktu datang pertama kali, dia juga merasakan kesulitan dan hidup dalam keterbatasan. Ya, meskipun ada Dikta yang bisa memberikannya tempat tinggal lebih layak, tapi Zoya tidak semudah itu menerima kebaikan jika sudah terlampau berlebihan. Sederhana saja, dia tidak ingin ada Zayyan yang selanjutnya dalam hidup.
"Zoy, kamu merindukanku tidak?" tanya Zayyan di sela-sela makannya, sejak tadi dia memandangi Zoya dan ada satu pertanyaan yang ingin sekali dia dengan jawabannya.
"Pertanyaan Kakak kenapa begitu, sudah pasti iya." Padahal di hotel Zayyan sudah melihat bagaimana lemahnya Zoya ketika jatuh dalam peluknya.
__ADS_1
"Sebagai Kakak atau suami?"
- To Be Continue -