
"Masih marah?"
Tiba di kamar Zoya kembali berusaha merayu Zayyan dengan sejuta kesabaran yang dia usahakan. Kehadiran Agatha dan Zico membuat mereka berdua memiliki waktu untuk berdua lebih bebas karena Fabian bersama mereka.
"Menurut kamu?"
Ditanya balik nanya, itu adalah prinsip hidup Zayyan sejak kuliah. Pria itu masih pura-pura sibuk dengan membuka majalah yang sebenarnya tidak dia sukai sama sekali.
"Kalau aku tanya itu dijawab, bukan malah balik tanya," ungkap Zoya mengatup kedua pipi Zayyan dengan kedua telapak tangannya.
Jika biasanya Zayyan akan memeluk tubuhnya, kali ini dia menepis tangan Zoya dan kembali pura-pura fokus dengan majalah yang dia baca.
"Ya sudah, jika masih marah aku keluar saja ... sepertinya Kakak butuh waktu sendiri," ucapnya kemudian beranjak keluar hingga membuat Zayyan ke ketar-ketir dan panik jika benar-benar sampai Zoya tinggal sendiri di kamar ini.
"Ck, peka sedikit bisa? Aku sedang marah, Zoya. Di mana-mana pasangan marah itu dibujuk bukan dibiarkan begini," ujarnya seakan Zoya tidak pernah membujuknya. Padahal, sejak semalam Zoya sudah berusaha membujuknya.
__ADS_1
"Aku sudah coba, tapi apa yang aku lakukan selalu salah. Lalu aku harus gimana?" tanya Zoya hampir menyerah. Namun, dia sadar jika hal itu mungkin memang salah dia.
"Hapuskan semua tentang Dikta, tidak ada yang boleh kamu ingat sedikit saja ... anggap tidak pernah mengenalnya, Zoya. Hatiku sakit jika hatimu ini menyimpan jiwa yang lain meskipun hanya seujung kuku."
Zayyan memang egois perkara wanita. Dia tidak ingin terbagi maupun membagi sekalipun itu hanya ingatan semata, sama sekali Dia takkan rela. Zoya menghela napas panjang, dia menatap manik indah Zayyan yang kini terfokus menatapnya seakan mengutarakan jika dia benar-benar mendambakan wanita itu.
"Jadi bener marah karena itu? Aku hanya asal tebak, sama sekali aku tidak ingat tanggal lahirnya, Kak," ucap Zoya benar-benar jujur, tapi sama sekali tidak membuat Zayyan berpikir jika Zoya benar-benar lupa dan hanya menebak saja.
"Kamu berbohong, padahal memang ingat."
"Mudah sekali ditipu, mana mungkin aku ingat tanggal lahirnya, tanggal lahirku saja bahkan lupa," ujar Zoya kemudian, Zayyan semakin berdecak sebal. Sekalipun memang dia benar-benar lupa tanggal lahir Dikta, tetap saja dia terlanjur marah.
"Apapun itu tetap saja menyebalkan. Aku sangat membenci ketika wanita yang aku cintai mengingat pria lain."
"Astaga, sudah kukatakan tidak ingat, Kak. Aku bercanda, sumpah."
__ADS_1
Zayyan sebenarnya sama sekali tidak trauma. Dia juga tidak pernah merasakan sakit karena perempuan. Akan tetapi, memang hal itu hanya perkara tentang Zoya saja. Wanita itu hanya miliknya dan tidak boleh ada hati lain yang merasa memiliki selain dirinya.
"Bagus!! Memang hanya aku yang boleh kamu ingat dan kamu kenang."
Zayyan tidak peduli sebaik apa Dikta pada sang istri. Perihal kebaikan Dikta, dia yang akan bicara dan mengucapkan terima kasih secara langsung. Zayyan tidak ingin hanya karena kebaikan Dikta ada terbersit kenangan atau perasaan yang lain dalam hati Zoya kepada pria itu.
"Iya, Sayang iya ... maaf ya bercandanya kemarin keterlaluan," pinta Zoya kemudian mengelus rambut Zayyan begitu lembut. Tidak hanya itu, dia bahkan memberikan kecupan hangat di keningnya agar dia benar-benar lunak dan lupa tentang peristiwa kemarin yang hampir menjadi akibat perang dunia ketiga.
.
.
.
- To Be Continue -
__ADS_1