Hasrat Kakak Tiri

Hasrat Kakak Tiri
BAB 41 - Kakak Atau Suami


__ADS_3

"Zoy, kamu merindukanku tidak?" tanya Zayyan di sela-sela makannya, sejak tadi dia memandangi Zoya dan ada satu pertanyaan yang ingin sekali dia dengar jawabannya.


"Pertanyaan Kakak kenapa begitu, sudah pasti iya." Padahal di hotel Zayyan sudah melihat bagaimana lemahnya Zoya ketika jatuh dalam peluknya.


"Sebagai Kakak atau suami?"


Zoya terdiam, pertanyaan Zayyan sedikit membuat pikirannya kian runyam. Akan tetapi jika Zoya pahami, terkadang dia memang tidak sadar jika Zayyan adalah suami, bukan Kakaknya lagi.


"Dua-duanya," jawab Zoya singkat, dia merindukan Zayyan sebagai saudara sekaligus suami, akan tetapi mungkin karena dia berperan sebagai Kakak bertahun-tahun. Sementara ketika menjadi suami justru terpisah, hal itu membuat Zoya sedikit bingung dengan dirinya sendiri.


"Tidak bisa dua-duanya, harus satu, Sayang ... kakak atau suami?"


"Su-suami."


Menjawab hal semacam ini saja dia gugup. Padahal, di hadapannya ini memang suaminya, entah kenapa Zoya tidak berhenti gugup. Jawaban Zoya sepertinya sesuai keinginan hati Zayyan, terbukti kini dia tersenyum simpul baru kemudian melanjutkan makan malamnya.


Keduanya kembali ke kamar usai makan malam, Zayyan mengikuti langkah sang istri dan mengunci pintu kamar begitu sudah berada di sana. Tidak hanya itu, Zayyan juga memastikan jendela kamarnya sudah terkunci lebih dulu, jika dia lihat lingkungan ini begitu berbeda dari lingkungan di kediamannya dahulu. Hanya saja, di sini mungkin Zoya merasa lebih baik dan tenang tentu saja.


"Tempat tidurmu kecil sekali, kamu tidak memikirkanku ketika membelinya atau bagaimana?"


Zoya yang kini tengah mengecup putranya dibuat terkejut dengan pertanyaan konyol Zayyan. Padahal tempat tidur itu sangat cukup untuk dua orang, memang jika dibandingkan dengan tempat tidur di rumahnya tentu saja kecil.


"Muat berdua, Kak," jawab Zoya pelan, dia khawatir sekali putranya akan terganggu dengan suara-suara Zayyan yang menguji kekuatan tempat tidur itu.


"Tapi tidak bebas, bergeser sedikit saja pasti jatuh."


Sepertinya Zoya kembali harus terbiasa dan memang sikap Zayyan sejak dahulu seperti itu. Dia cerewet jika tentang Zoya, terlebih jika mereka hanya berdua. Pria itu memastikan keempukan tempat tidurnya dan kembali lagi dia melontarkan pertanyaan yang membuat Zoya mengurut dada.


"Siapa yang memilihkan tempat tidur ini?"

__ADS_1


"Alya, Kak."


"Seleranya rendah sekali, kamu nyaman tidur di sini?" tanya Zayyan dan wajah cemberut Zoya yang kerap dia berikan sebelum menikah kembali dia lihat, dan itu termasuk yang dia rindukan.


"Nyaman saja, daripada tidur di lantai," jawab Zoya singkat, padat dan sangat jelas.


Zayyan tidak lagi bersuara, namun Zoya melirik sang suami dari ekor matanya. Pria itu tengah menatap fokus ke depan sembari tangannya bertumpu di atas ranjang, dia mensejajarkan tinggi ranjang itu dengan pinggangnya. Zoya yang sudah dewasa jelas saja paham isi otak Zayyan saat ini, tentu tidak jauh dari arah sana.


"Ngapain?"


"Kurang tinggi, tidak pas dengan pinggangku," jawabnya tampak kecewa dan Zoya hanya bisa menghela napas pasrah, tidak masalah jika memang suaminya berniat demikian.


"Cih, banyak protes."


.


.


.


"Dia tidak rewel malam-malam begini?"


"Tidak, Bian mengerti aku sepertinya," jawab Zoya tersenyum penuh kelembutan kala melihat Zayyan yang berusaha mengusik tidurnya.


"Jangan diganggu, tidurnya susah kalau sampai bangun ... Kakak mau tanggung jawab jagain dia sampai pagi?"


Pertanyaan Zoya sontak membuat tangan Zayyan berhenti, dia ingin melihat manik indah putranya seperti tadi. Akan tetapi, jika sampai tidak tidur sampai pagi demi menjaga bayi, sepertinya Zayyan belum sanggup.


"Kalau begitu ganggu mamanya boleh ya," tutur Zayyan kemudian menatap ke arah istrinya, tatapan yang dahulu kerap membuat Zoya takut kini terlihat lagi.

__ADS_1


"Ganggu apanya?"


"Lanjutkan yang tadi di hotel, skillmu membalas ciummanku berkembang baik, belajar dari mana?" tanya Zayyan mengikis jarak hingga membuat Zoya mundur beberapa langkah, bukannya berhenti Zoya terus mundur hingga kakinya terhenti membentur tepian tempat tidur.


"Kapan aku begitu?" Zoya tidak merasa jika dia melakukan hal yang Zayyan katakan, sungguh semua terjadi diluar kesadaran karena memang kerinduannya luar biasa besar.


"Pura-pura lupa, sini aku ulang."


Sesuai firasat Zoya dia akan melakukan hal semacam ini. Andai saja dia tidak kasihan jika Zayyan harus begadang sampai pagi akan dia biarkan saja Fabian terbangun malam ini. Meski batinnya mengomel, Zoya tetap membalas dan bahkan tanpa dia sadari saat ini sudah berbaring di atas tempat tidur.


"Kamu operasi?" tanya Zayyan kala menemukan bekas luka di bagian perut istrinya, wanita itu mengangguk pelan dan tidak protes kala Zayyan menyingkap bajunya lebih tinggi.


"Sakit?"


"Sekarang tidak lagi, setelah operasi iya sakit."


Zayyan mengecup perutnya berkali-kali, rasa rindu sekaligus kesedihan dia ungkapkan saat ini. Cukup lama Zayyan melakukannya, hingga pria itu kembali mengecup bibir ranum Zoya seraya menelusuri tubuh sang istri.


"Kamu pasang implan apa bagaimana? Dulu tidak sebesar ini." Pertanyaan konyol yang membuat Zayyan mendapat cubitan tepat di perutnya, sudah jelas-jelas Zoya memiliki bayi masih saja bertanya.


"Fabian ASI, wajar saja." Zoya dengan kesabaran ekstra tetap menjawab pertanyaan konyol Zayyan, keduanya tetap saling menatap sembari Zayyan melepas tali branya.


"I miss your body."


Tak terbantahkan, Zoya paham ke arah mana ucapan Zayyan yang berhasil membuat tubuhnya meremang. Dua tahun tidak tersentuh, dia masih sama gugupnya seperti kali pertama bahkan masih bergetar tiap kali Zayyan menelusuri lekuk tubuhnya.


"Kamu tidak sedang datang bulan kan, Sayang?" Zayyan bertanya karena khawatir terlanjur panas tapi istrinya justru sedang tidak bisa melakukan kewajibannya.


Melihat Zoya yang menggeleng, Zayyan tersenyum miring dan meraup dada Zoya dengan begitu rakus. Lampu hijau dari pemilik tubuh ini, jelas saja Zayyan semakin bersemangat apalagi belum apa-apa, dessahan kecil sudah lolos dari bibir sang istri.

__ADS_1


- To Be Continue -


__ADS_2