Hasrat Kakak Tiri

Hasrat Kakak Tiri
BAB 91 - Bagian Dari Keluarga


__ADS_3

Meski awalnya terlihat tidak niat, akan tetapi Zayyan tetap bersikap sopan ketika berada di hadapan pria yang mengaku sebagai sahabat dari Alexander, sang papa. Zoya sendiri terkejut, dia tidak menyangka jika Zayyan benar-benar bisa terlihat berbeda ketika sudah berada di hadapan pria itu. Tidak hanya ada Zayyan di sana melainkan juga Zico yang mana pria itu meminta untuk mengenal anak-anak Alexander lebih dekat.


"Jadi om yang waktu itu menghubungiku?" Zico baru ingat jika beberapa bulan lalu seseorang dengan nama yang sama menghubungi dengan alasan meminta maaf atas nama Dikta kepadanya.


"Iya benar ... saya mengerti anak saya belum terlalu dewasa maka dari itu saya meminta kelapangan hati Zayyan untuk memaafkan kesalahan Dikta."


Zayyan hanya mengangguk kemudian tersenyum tipis usai mendengar penuturan pria di hadapannya. Walau sebenarnya hingga saat ini mata zayyan masih panas jika menatap Dikta secara langsung, tetapi sebisa mungkin dia bersikap seolah sudah menerima Dikta sepenuhnya.


"Iya-iya benar ... kami paham, syukurlah jika memang niatnya baik. Setelah kehilangan Papa kami benar-benar hilang arah, bersyukur sekali jika masih ada sahabatnya yang mungkin bisa sedikit mengobati rasa rindu kami."


Dalam hal mengeluarkan kata-kata yang sekiranya bisa meluluhkan hati lawan bicara memang Zico ahlinya, sementara Zayyan biasanya hanya bisa bersikap seadanya dan tidak pandai merangkai kata untuk membuat lawan bicaranya merasa tersanjung.


"Iya benar ... anggap saja saya orang tua kalian, di sini saya hanya ingin menegaskan pada Zayyan dan juga kalian semua bahwa Zoya adalah bagian dari keluargaku. Mau bagaimanapun dia adalah adik Dikta."


Zayyan mengerutkan dahi, setelah beberapa hari lalu dia mendengarkan keterangan Dikta terkait seberapa rumitnya hubungan orang tua mereka rasanya tidak mungkin pria ini justru menerima Zoya sebagai bagian dari keluarganya.

__ADS_1


"Adik? Adik kandung, Om?" tanya Zico yang memang tidak tahu sama sekali asal mulanya dengan mata melotot dan benar-benar bingung akan kenyataan yang terjadi.


"Ya anggap saja begitu, Zoya dan Dikta sama-sama lahir dari wanita yang aku cintai."


"Ah begitu ceritanya ... jadi kami panggil Om, Papa atau Daddy?Mungkin agar lebih akrab?" tanya Zico sedikit berlebihan menurut Zayyan dan dia menyenggol pria itu dengan sikunya, berharap Zico mengerti jika sikapnya sedikit kelewatan.


"Senyaman kalian saja, saya datang ke sini dengan harapan kalian bisa dekat dan saling merangkul," ungkap pria itu kemudian mengulas senyum hangat dan memperlihatkan sudut matanya yang kian keriput, hal itu menjelaskan Jika dia dan Alexander seumuran.


Pembicaraan mereka berlangsung begitu hangat, kehadiran pria itu sebagai penengah dan berharap hubungan antara Zayyan dan Dikta baik-baik saja ke depannya. Sementara di sisi lain, Agatha yang justru sibuk sendiri mempertanyakan hal yang itu itu saja kepada Zoya membuat wanita itu kesal juga lama-lama.


"Tadi kamu dengar sendiri ... lupa atau bagaimana?" kesal Zoya lantaran memang kesabarannya tidak sebesar itu untuk menghadapi pertanyaan Agatha yang muncul beberapa kali dan hampir sama.


"Kakakmu, Zoy? Omo boleh juga tampangnya ... Kenapa tidak dari dulu aku tahu kamu punya kakak setampan itu?" tanya Agatha terang-terangan dan hal itu tidak membuat Zoya heran karena sejak dahulu kala Agatha benar-benar terobsesi dengan pria tampan dimanapun dia berada.


"Aku juga baru tahu ... kalau tahu dari dulu sudah pasti aku ikut dia, tidak mungkin terus bersama kalian." Terdengar bercanda tapi sebenarnya Zoya serius mengatakannya.

__ADS_1


Tidak bisa Zoya pungkiri berada di sisi Dikta memang dia benar-benar merasa dilindungi. Dua tahun hidup dalam pengawasan pria itu tanpa adanya pemaksaan ataupun aturan yang luar biasa ketat membuat Zoya merasakan tulusnya kasih sayang Dikta. Walau sebenarnya kala itu memang Dikta menyayanginya dengan harapan perasaannya akan terbalaskan.


"Iya-iya maaf, itu kan masa lalu, Zoya ... sekarang kan kita baik-baik saja," tutur Agatha masih dengan secebis penyesalan karena memang selama bertahun-tahun dia tidak menerima kehadiran Zoya sebagai saudaranya.


"Aku bercanda Agatha, jangan terlalu dipikirkan," balas Zoya kemudian khawatir jika Agatha justru menganggapnya serius dan membuat wanita itu mau makan seperti kemarin-kemarin.


.


.


.


- To Be Continue -


Sementara Up, mampir dulu ke karya yang satu ini ya.

__ADS_1



__ADS_2