
Selesai menyampaikan hal itu, Amora baru sadar jika tidak seharusnya dia bersikap seperti tadi. Jika sudah begini mau bagaimana dia? Sungguh dia memang seharusnya bisa pura-pura, untuk kali pertama Amora menyadari jika dia memanh benar-benar bodoh.
"Bodohnya, sabar sedikit saja, Amora ... ck, menyebalkan sekali aku harus bagaimana?".
Dia melangkah gontai dan kini duduk di depan pintu. Zoya tidak akan mungkin menerimanya lagi. Sementara Agatha kemarin masih marah perkara kartu kreditnya Amora gunakan. Demi apapun, rasanya wanita itu kehilangan harapan saat ini juga.
"Ada urusan apa anda di sini?"
"Hah? Zayyan?"
Amora cepat-cepat bangkit setelah mendengar suara tegas putra sambungnya. Pria itu menatapnya tajam kemudian menghela napas perlahan. Senyum tanpa rasa bersalah kembali Amora berikan padanya, seperti biasa Amora akan berusaha semanis mungkin di depan banyak pasang mata meski keadaannya saat ini sudah diujung tanduk.
"Maaf, Mama datang tanpa izin kamu ... Agatha bilang, Zoya kembali. Jadi Mama cepat-cepat datang ke sini," ungkapnya belum apa-apa sudah membuat Zayyan muak, pria itu ingin sekali menampar wajah Amora sekuat tenaga rasanya.
"Cepat-cepat? Tapi kenapa harus datang di saat aku tidak ada? Sengaja?"
Zayyan adalah musuh bebuyutan Amora. SejaknAlexander meninggal dunia, hidup Amora semakin rumit dibuatnya. Sudah biasa terjadi, Amora akan diam jika Zayyan sudah menjadi lawan bicaranya.
"Ah iya, aku tegaskan padamu ... bayar sendiri tagihan kartu kredit Agatha, tidak peduli bagaimana caranya. Aku dengar-dengar banyak tas mahal di kamarmu, jual sebagian kalau perlu," ucap Zayyan sebelum kemudian benar-benar berlalu ke dalam dan menutup pintu dengan kasarnya.
"Zay ... kurang ajar!! Kenapa sikap mereka semakin aneh padaku? Ini pasti semenjak anak Itu kembali."
Amora menatap nanar ke depan tanpa arah. Kebenciannya pada Zoya semakin bertambah hingga dia berpikir untuk menghabisi wanita itu. Akan tetapi jika sudah begini mau bagaimana Amora mau bertindak. Wanita itu pergi dari apartement dengan perasaan kacau dan sia-sia.
__ADS_1
.
.
.
Sementara saat ini zayyan menghampiri istrinya yang tengah berdiam diri menatap putranya. Fabian terlelap begitu nyenyak, seakan mengerti jika sang mama kacau saat ini.
"Kamu kenapa?" tanya zayyan dengan perasaan yang tidak terkendalikan. Apalagi beberapa saat lalu dia bertemu Amora di depan unit apartemennya.
"Boleh aku tanya sesuatu?" Suara Zoya terdengar bergetar dan dia seakan tidak sanggup untuk mengutarakan apa yang terjadi sebenarnya.
"Iya tanya apa memangnya?" tanya zayyan Seraya menepikan anak rambut Zoya yang dirasa mengganggu.
"Menurut kamu anak hasil selingkuhan termasuk anak haram?" tanya Zoya sedikit ragu dia akan kuat mendengar jawaban Zayyan setelah ini.
Zayyan tidak sebodoh itu dia, bisa mengerti Bagaimana perasaan adik sekaligus istrinya ini tanpa perlu dijelaskan. Dia membahas perihal anak haram sementara sejak kemarin saya sudah bertanya perihal asal-usulnya.
"Jawab dulu, Kak. aku penasaran."
Beberapa saat saya Zayyan terdiam, dia merasa harus berhati-hati dalam menjawab pertanyaan kali ini. Entah kenapa dia yakin jika pertanyaan Zoya itu berhubungan dengan dirinya sendiri .
"Menurutku anak yang lahir ke dunia sama saja, mau bagaimanapun asal-usulnya, bagaimanapun orang tuanya jika wujudnya sudah anak ya tetap suci, Sayang. Tidak ada anak yang haram di dunia ini," tutur Zayyan lembut dan dia menatap kesedihan dari manik indah Zoya.
__ADS_1
"Tapi kata Mama aku anak haram, Kak."
"Kamu percaya Amora, Zoya? Sejak dulu aku tidak pernah mempercayainya bahkan ketika papa menikahi wanita itu Aku adalah orang pertama yang tidak menerimanya."
"Dia datang hanya untuk itu?" tanya zayyan mengepalkan tangannya.
Jika dia tahu bahwa Amora membuat sakit hati istrinya maka dia tidak akan mengizinkan wanita itu pergi dengan mudah.
"Sebenarnya bukan, Kak ... aku hanya ingin kejelasan karena Kak Zico tidak bisa menjawab dengan benar dari mana asal usulku," jawab Zoya tersenyum getir seraya menatap zayyan.
"Setelah kamu tahu, apa ini membuatmu lega, Zoya?" tanya Zayyan dengan harapan Zoya akan menjawab iya meski dia tahu bahwa kenyataan ini cukup menyakitkan.
"Lega ... Sebenarnya sudah kuduga, tapi kenapa rasanya aku tidak terima ketika mama mengatakan bahwa papa berbuat zina," tutur Zoya lesu dia yakin betul bahwa papanya tidak akan melakukan hal sehina itu jika alasannya hanya ingin mendapat keturunan.
"Sayang ... dengarkan aku. Kamu tahu kan bagaimana wanita itu sejak dahulu? Ucapannya tidak pantas kamu percayai sepenuhnya. Mungkin memang benar kamu anak papa Agam dari wanita lain, tapi kamu tidak tahu kan bagaimana hubungan mereka yang sebenarnya. Bisa jadi sudah menikah seperti kita. Jadi jangan ditelan mentah-mentah, Zoya," ungkap Zayyan lembut kemudian menepuk pundak Zoya, saat ini yang Zoya miliki hanya Zayyan.
"Tapi siapa yang tahu? Jika benar ucapan Mama bagaimana?"
"Ck, aku tidak peduli ... siapapun kamu, yang jelas saat ini adalah istriku, Zoya sudah."
.
.
__ADS_1
.
- To Be Continue -