
"Maksudnya?"
"Papa bilang bahwa cinta memang tidak dapat dipaksakan ... dan sekarang aku mengerti jika di hati mamaku hanya ada papamu dan itu tidak bisa digantikan sekalipun Papa sudah melakukan segalanya untuk Mama." Dikta terdiam sejenak, dia mengingat beberapa hal yang Papanya sampaikan sewaktu memenjarakan Dikta di kamarnya lantaran tidak diizinkan untuk mencari Zoya.
Begitu jelas Widarman mengatakan jika pernikahannya dengan Nania memang sama sekali tidak didasari cinta, melainkan terpaksa. Hal itu terjadi. karena orangtua Nania menginginkan masa depan putrinya terjamin.
Sementara Agam yang kala itu baru saja memulai dan berada di titik nol tidak bisa mempertahankan cintanya pada Nania hingga dia terpaksa merelakan kekasihnya untuk Widarman yang kala itu tidak lain adalah sahabatnya sendiri.
Beberapa tahun memang masih dipaksakan dan widarman mencoba mempertahankan mahligai mereka. Akan tetapi, semuanya kalah ketika Agam memiliki kuasa hingga dengan mudah dia kembali mendapatkan Nania yang memang sangat dia cintai.
Sebenarnya sangat sulit untuk dijelaskan siapa sebenarnya yang menjadi orang ketiga. Cinta mereka terlampau rumit dan sama-sama tidak mau mengalah. Hingga pada akhirnya, keputusan Agam untuk terus bersama Nania dengan berbagai caranya menciptakan banyak luka untuk orang-orang di sekelilingnya. Termasuk Amora dan juga Widarman sebagai pasangan sah mereka.
Widarman memilih mengalah dan merelakan Nania kembali pada Agam. Akan tetapi, berbeda dengan Amora yang memilih bertahan sebagai istri sah dan benar-benar tidak merelakan Nania menjadi istri kedua Agam hingga kecelakaan maut membawa Mereka benar-benar pergi untuk selamanya.
.
__ADS_1
.
.
Beberapa saat mereka terdiam, Zayyan berusaha memposisikan dirinya sebagai pelindung sang istri. Khawatirkan Dikta akan melontarkan kata-kata yang cukup menyakitkan hati bagi Zoya.
Akan tetapi usai mendengar penuturan Dikta, wanita itu kian menyesal dan mengerti seberapa bajingannya Agam, wajar saja jika Amora membencinya sejak kecil pikir Zoya kemudian.
"Jangan merasa bersalah, Zoya ... aku tidak marah, hanya terkejut saja. Papa memang mengatakan jika aku memiliki adik akan tetapi sama sekali tidak kuduga jika kamu yang dia maksudkan."
Jika siapapun berpikir Dikta tertawa saat ini karena lucu, sama sekali tidak. Dia tengah tertawa lantaran merasa hal ini adalah cara takdir bercanda dan sama sekali tidak dia sukai.
"Tapi tetap saja atas nama papa aku ingin meminta maaf padamu," ujar Zoya sekali lagi karena dia berpikir saat ini tentu penyesalan-penyesalan itu Agam bawa sampai mati.
"Tidak masalah ... semua sudah terjadi dan papaku sama sekali tidak mempermasalahkan hal ini, hanya saja nungkin aku yang terlalu berlebihan hingga tidak bisa menerima," ucap Dikta tersenyum getir kemudian memilih beranjak dari tempat itu.
__ADS_1
Mereka bahkan sengaja mencari salah satu restoran untuk tempat mereka bicara agar lebih nyaman lantaran saat ini tengah hujan. "Aku pergi ... terima kasih untuk hari ini, aku harap kita bisa berhubungan baik, Zoya. Kamu adalah adikku, karena bagaimanapun kita dikandung dari rahim wanita yang sama," ucap Dikta mengulas senyum seakan dia benar-benar menerima Zoya sebagai adiknya.
Entah karena dia pernah cinta atau memang sejak dulu perasaan itu sudah tertuju sebagai adik untuk Zoya. Akan tetapi, yang jelas saat ini Dikta memiliki alasan yang kuat untuk dia tetap berada di dekat Zoya tanpa perlu khawatir Zayyan halangi.
Zoya hanya mengangguk, bibirnya benar-benar beku seakan tidak bisa berucap. Dia bersyukur dengan Dikta yang justru sama sekali tidak membencinya. Akan tetapi berbeda dengan Zayyan yang setelah Dikta pergi justru memperlihatkan wajah datar dan dia benar-benar berharap jika hari ini tidak pernah terjadi.
"Sayang, kamu anak tunggal ... titik."
Mana mau Zayyan menerima Dikta sebagai kakak iparnya. Bertemu saja dia kesal, apalagi jika harus berhubungan baik seperti yang tadi Dikta jelaskan, sungguh sampai kapanpun dia enggan.
.
.
.
__ADS_1
- To Be Continue -