Hasrat Kakak Tiri

Hasrat Kakak Tiri
BAB 48 - Drama


__ADS_3

"Jawabanku masih sama, Dikta."


Bukan kali pertama Dikta melakukan hal semacam ini pada Zoya. Hanya saja memang kali ini dia tertangkap basah oleh Barata tanpa mereka ketahui. "Berdirilah, kakimu nanti sakit," titah Zoya mengulurkan tangannya, dia sangat menghargai Dikta dengan posisi sebagai teman dan sejak awal sudah dia katakan demikian pada Dikta.


"Zoya, satu tahun aku menunggu kamu ... kenapa masih menolak juga, Zoya?" tanya Dikta melemah, entah bagaimana cara dia untuk bisa meluluhkan hati wanita ini sebenarnya.


"Sejak awal juga sudah aku katakan punya suami, Dikta. Seharusnya memang tidak berpikir sejauh ini," ungkap Zoya menghela napas kasar.


Dia belum sempat mengatakan niatnya untuk mengundurkan diri namun Dikta sudah lebih dulu mengutarakan niatnya. "Tapi selama satu tahun dia sama sekali tidak ada inisiatif mencarimu, 'kan?" Dikta meremehkan sosok Zayyan yang selalu Zoya jadikan alasan untuk tetap memilih kesendirian.


"Aku yang menja_"


"Menjauh? Suamimu yang boddoh ... jika memang berniat di ujung duniapun bisa, Zoya!!"


Dikta tidak pernah sekasar itu sebenarnya, akan tetapi akhir-akhir ini dia sangat tidak suka jika Zoya selalu membela Zayyan yang menurutnya sama sekali tidak berguna. "Jaga bicaramu, Dikta."


"Itu kenyataannya, Zoya."


Tidak begitu, sama sekali Zayyan tidak diam saja seperti yang Dikta katakan. Sejak awal kepergian Zoya dia sudah melakukan segala cara, tidak sendiri tapi bahkan bersama Clayton dan juga Zico. Hanya saja memang Zoya seakan benar-benar hilang ditelan bumi kala itu.


"Sudahlah, tidak perlu dibahas lagi ... aku hanya ingin mengembalikan ini," ujar Zoya menyerahkan kunci mobil dan hal itu berhasil membuat kening Dikta berkerut seketika,


"Kenapa?"


"Ini hari terakhirku di sini, sebelum mengajukan surat pengunduran diri aku pamit secara pribadi ... dan sesuai janjiku aku akan kembalikan semuanya sama kamu."


Terkesan egois dan mementingkan diri sendiri tapi memang ini yang harus dia lakukan. Sejak awal memang dia menolak dengan fasilitas yang Dikta berikan, hanya saja dia lebih tidak mau lagi jika kemana-mana bersama Dikta.


"Janji apa? Aku tidak pernah memintamu berjanji, Zoya."


Dikta mengepalkan tangan seraya menatap tajam ke arahnya. Menunggu cukup lama namun nyatanya tetap ditolak juga, hati siapa yang baik-baik saja dengan keadaan ini. "Anggap saja begitu, terima ya." Dikta menggigit bibir bawahnya sesaat, jemari Zoya meraih tangannya agar menerima benda kecil itu.

__ADS_1


"Apa yang tadi malam orangnya?"


Dikta tidak seboddoh itu, cukup bertemu sesaat dan dia bisa menyimpulkan siapa yang dia temui di kediaman Zoya semalam. Belum sempat berkenalan tapi dia yakin pria itu adalah suami wanita pujaannya.


"Iya, maaf sekali lagi ... kamu boleh marah, membenciku juga tidak masalah tapi sejak awal kamu tahu aku memang punya suami, Dikta," sesal Zoya sebenarnya merasa teramat bersalah, hanya saja dia tidak punya pilihan untuk saat ini.


"Tapi aku tidak peduli tentang hal itu, Zoya."


Dikta membatin, menatapnya lekat-lekat dan entah kenapa ada sedikit penyesalan lantaran dia tidak nekat memaksa Zoya menjadi istrinya sejak lama. "Aku mencintaimu, Zoya ... Fabian juga, apa tidak bisa tinggalkan saja dia? Hm?"


Dikta masih memohon, harapan dia tentang Zoya memang sebesar itu. Dia sudah berusaha menjadi sosok yang paling peduli dan menjadi bagian hidup Zoya, sayangnya memang tidak semudah itu. "Cinta kamu salah, masih banyak wanita lain yang jauh lebih baik dariku," ungkap Zoya lembut karena paham hati seorang Dikta harus dihadapi dengan cara yang begitu.


"Tidak, Zoya ... cinta tidak pernah salah, semula memang aku mengira hanya sebatas tertarik. Tapi, semakin lama apalagi ketika Fabian lahir aku merasa kalian adalah bagian dari hidupku," ujarnya tulus menatap lekat Zoya, sebenarnya tanpa dijelaskan semua orang tahu bagaimana Dikta pada Zoya.


"Terima kasih, Dikta. Tapi, maaf sekali aku tidak bisa membalas perasaanmu."


Zoya menunduk, di posisi sulit dan dia paham Dikta akan merasakan sakit. Sekalipun dia mau, akan tetapi perasaan untuk Dikta juga tidak akan bisa dia balas sebagaimana tulusnya pria itu. "Jadi sampai akhir tidak ada tempat untukku ya?"


"Aku tidak butuh kamu ingat jika tidak memilikimu, Zoya. Yang aku mau kamu menjadi istriku dengan Fabian yang akan menjadi pelengkap keluarga kita, aku baik-baik saja andai kamu tidak menginginkan anak dariku nantinya ... terima aku, Zoya, kumohon," tuturnya melemah dan dia berada di titik kehilangan harapan karena sama sekali Zoya tidak memberikan celah untuknya masuk.


"Jangan pernah berpikir begitu, kamu bisa membangun keluarga yang lebih sempurna bersama wanita yang kamu inginkan, punya anak juga dan pastinya kamu memiliki hati yang memang untuk kamu," ungkapnya terakhir kali dan berharap Dikta akan mengerti. Akan tetapi, pria itu hanya menghela napas kasar kemudian mengembalikan kunci mobilnya itu pada Zoya.


"Baiklah, jika itu keputusanmu ... tapi aku tegaskan, aku belum menyerah sampai di sini Zoya. Kalian baru bertemu satu malam, bukan tidak mungkin suamimu akan melakukan kesalahan di masa depan. Dan juga mobilnya buang saja jika sudah tidak mau, aku pergi."


Dikta berlalu pergi usai penolakan terang-terangan dari Zoya. Pria itu melangkah cepat dan meninggalkan Zoya yang masih terdiam menatap dirinya, tidak ada yang salah diantara mereka. Zoya sudah mengatakan dengan jelas statusnya, sementara Dikta nekat mencintai wanita yang sudah berstatus istri orang itu.


.


.


.

__ADS_1


Baru beberapa langkah meninggalkan ruangan dengan pintu kaca itu, Dikta menghentikan langkah kala dia menyadari pria yang tadi malam bertemu dengannya berdiri seraya bersandar di dinding dengan tatapan datar ke arahnya.


"Kau menguping pembicaraan kami?" tanya Dikta tanpa basa-basi dan saat ini hatinya berselimut kebencian kala menatap Zayyan.


"Sedikit," jawab Zayyan enteng dan tampak begitu santai seakan tidak berdosa sama sekali.


"Suami Zoya kah?"


"Iya, bagus jika sudah tahu."


"Suami, tapi sama sekali tidak tahu keadaan istrinya ... kasihan sekali, andai Fabian sudah bisa bicara mungkin dia menolak kehadiranmu." Kemarahan dalam batin Dikta terlampau besar hingga dia berusaha menyerang pria ini dengan menggunakan sesalnya di masa lalu.


"Tutup mulutmu, kau tidak berada di posisiku," bantah Zayyan dan dia mendadak panas dengan ucapan pria itu.


"Itu faktanya, kau hanya menikmati tubuhnya hingga dia hamil ... tapi yang merawat istrimu ketika hamil justru pria lain, bahkan menemaninya ketika melahirkan juga pria lain. Andai saja istrimu haus belaian, habis sudah," ungkap Dikta tanpa ragu, ini adalah fakta walau memang sedikit menyakitkan bagi Zayyan.


"Diam kau badjingan!!"


Zayyan yang memang mudah tersulut emosi segera mendorong tubuh Dikta hingga membentur dinding di hadapannya. Pria itu mengangkat kerah kemeja Dikta dan sudah bersiap melayangkan bogem mentah tepat di wajah pria itu.


"Aku tegaskan padamu, kehilangan Zoya bahkan membuatku seakan gila ... andai saja aku tahu dia akan dipertemukan dengan pria sepertimu, maka hari itu aku tidak akan pernah mengizinkannya keluar dari kamar."


"Ck, jangan berlagak paling tersakiti. Meski pergi adalah pilihan Zoya, jelas ada alasan kenapa dia pergi darimu. Jika memang dia menginginkanmu, maka dia tidak akan meminta ini dan itu ketika hamil Fabian padaku ... kasihan sekali, Zoya memiliki suami gilla sepertimu sampai-sampai dia betah manja dengan pria lain," bisiknya sengaja sedikit pelan seraya menatap remeh Zayyan hingga tidak berselang lama pukulan itu benar-benar dia rasakan.


"Mulutmu perlu diberi pelaj_"


"Kak!!"


"Hentikan," sentak Zoya tiba-tiba menahan tangan Zayyan yang hendak mendaratkan pukulan untuk kedua kalinya pada Dikta, pria itu benar-benar menggila pasca mendengar ucapan Dikta.


"Arrgggh dia siapa, Zoya? Apa dia suamimu? Dia menyerangku tiba-tiba." Dikta tiba-tiba bertanya seolah tidak mengetahui apa-apa dan dia sejenak membuat Zayyan menelan salivanya pahit.

__ADS_1


- To Be Continue -


__ADS_2