Hasrat Kakak Tiri

Hasrat Kakak Tiri
BAB 66 - Salah Tujuan


__ADS_3

"Mereka sudah lama?"


"Belum."


Zayyan mendekati sang istri yang kini duduk di tepian tempat tidur. Dia mendelik dan kemudian menghela napas kasar, ada satu kalimat yang dia khawatirkan akan menyinggung Zayyan sebenarnya.


"Maaf ya, tidak seharusnya aku bicara seperti tadi," ungkap Zoya menatap wajah sang suami yang kini juga begitu lekat menatapnya.


"Tidak masalah, aku suka caramu ... seharusnya dari dulu begitu," tutur Zayyan mengulas senyum.


Sama sekali dia tidak marah, walau sebenarnya Agatha adalah adik kandungnya, Zayyan tidak peduli. Pria itu berbaring di sisi Zoya, kemudian menatap punggung sang istri.


"Apa yang kamu pikirkan, Zoya?" tanya Zayyan paham betul jika sang istri sedang tidak baik-baik saja, apa mungkin ada ucapan Agatha yang membuat dia tersinggung, pikir Zayyan.


"Zoya ... jawab, Sayang.


Zoya menoleh sejenak, wanita itu menatap sang suami begitu dalam kemudian ikut berbaring di sisi Zayyan. Mereka baru saja berpisah beberapa jam saja dan kini keduanya sudah kembali di atas yang sama.


"Aku sedang berpikir, aku anak siapa sebenarnya?" tanya Zoya datar dan ini benar-benar menggangu pikirannya.


"Anak papa Agam, kenapa masih bertanya?"


Zayyan mengatakan apa yang dia ketahui tentang Zoya. Seingat dia memang begitu, Zoya adalah putri dari sahabat ayahnya di masa muda, Agam. Akan tetapi, setelah dia menikahi Zoya, Zayyan menemukan fakta baru dan sadar jika Amora bukan wanita yang melahirkan Zoya.


"Iya, tapi mamanya siapa? Kalau bukan Amora lalu siapa? Apa aku anak pelaccur ya?" tanya Zoya asal hingga membuat Zayyan menepuk bibirnya pelan dengan tiga jemarinya.


"Jangan bicara sembarangan," ungkap Zayyan kemudian, ini adalah hal yang tidak dia suka dari Zoya. Kerap mengatakan hal tidak berguna yang terkadang berpotensi membuat hatinya sakit sendiri.


"Aneh saja, kalau memang hasil hubungan baik-baik kenapa Mama tidak menyayangiku seperti Mama sayang Kakak, sayang Kak Zico ataupun Agatha. Padahal, kalian juga bukan darah dagingnya, 'kan?"

__ADS_1


Zoya menghela napas panjang, jika dia ingat bahkan sejak dia pertama kali masuk ke rumah itu Amora samgat mencintai anak sambungnya. Akan tetapi, yang aneh adalah dia justru membenci anak yang dia bawa dalam pernikahannya.


"Sayang Papa lebih tepatnya, mau setulus apapun manusia tetap saja ... Amora menyayangi harta Papa, Zoya. Wanita itu pintar, dia paham jika harta paling berharga Papa adalah anaknya, jelas dia mendekati anak-anak lebih dulu sebelum mendapatkan hartanya," ungkap Zayyan kemudian, di mata pria itu meski Amora lembut tetap saja naluri sebagai ibunya terasa berbeda dan tidak dalam makna yang sebenarnya.


"Apa iya?"


"Apa iya? Apa iya? Iya dong, Sayang."


Ingin sekali dia cubit sekarang juga, Zoya memang tidak bodoh dalam pelajaran tapi dalam kehidupan sehari-hari ya Tuhan, daya tangkapnya terkadang membuat Zayyan mengelus dada.


"Aku tidak berpikir sejauh itu dulu," ujar Zoya melingkarkan tangannya di atas perut datar Zayyan, tindakan spontan yang berhasil membuat Zayyan meremang.


"Hm, kira-kira begitu."


"Wajar Mama selalu marah sama Papa ya, dulu Papa jatuh miskin sebelum pergi."


Zayyan benarkan itu, dia sudah cukup dewasa kala itu untuk memahami ucapan papanya. Rumah tangga Agam hancur, tidak ada harta yang dulu membuat dia terpandang hingga menyisakan anak dan istri saja. Agam yang kala itu khawatir tentang kehidupan Amora dan Zoya di masa depan meminta pria itu menjaga putrinya, Zoya.


.


.


.


Jika saat ini Zayyan tengah menenangkan Zoya, di sisi lain Zico juga menenangkan adiknya, Agatha. Pria itu dibuat runyam lantaran Agatha menangis ketika tiba di kamar, sungguh menyebalkan sekali.


"Berhenti, Agatha ... memangnya apa yang Zoya katakan sampai kamu menangis begini?" tanya Zico bingung sendiri karena biasanya dalam pertarungan mereka Zoya yang akan kalah.


"Pergilah, memang kakak sepertimu tidak berguna."

__ADS_1


Astaga, tidak berguna kata dia? Ingin sekali Zico libas batang lehernya. Sejak tadi sudah diperlakukan begitu halus, bisa-bisanya Agatha mengutuknya sebagai manusia tidak berguna.


"Apa masalahmu? Sampai aku ikutan kamu caci begini?"


"Sudah keluarlah, aku tunggu Mama saja."


Dia akan menunggu Amora, sementara wanita itu akhir-akhir ini berani sekali keluar rumah jika mereka tengah sibuk dengan kesibukan masing-masing.


"Ya sudah terserah kamu saja, aku ke kantor sekarang ... tidak mungkin kita bertiga pulang semua," ucap Zico kemudian berlalu pergi meninggalkan kamar adiknya.


Belum juga keluar dari rumahnya, Zico dibuat terkejut dengan kedatangan Amora. Ibu sambungnya itu turun dari sebuah mobil putih yang sangat asing di mata Zico, bukan mobil Rosa ataupun sahabat Amora.


"Belanja lagi, dia tidak sadar tagihan dia paling besar atau bagaimana?" gumam Zico pelan menatap Amora yang kian dekat padanya.


"Hai, sudah pulang? Memangnya ini jam berapa?"


Dia tidak menyadari betapa tajamnya tatapan Zico kala menyadari berapa banyak belanjaannya. Padahal, mereka baru saja kembali membaik setelah jatuhnya Zayyan dalam keterpurukan.


"Mama belanja lagi?"


"Oh tentu saja, brand favorit Mama banyak koleksi terbaru ... hm Mama pusing, Zico makanya belanja."


"Tagihannya membengkak, Mama pikirkan Zayyan harus membayar banyak hal. Jangan seboros itu lah, kami saja tidak begini," ungkap Zico menghela napas kasar, cara hidup Amora yang terus saja mengelabui Zayyan membuat Zico muak lama-lama.


"Mama pakai kartu Agatha, santai. Zayyan saja tidak marah."


"Pakai kartu siapapun tetap saja harus berpikir, tanggung jawab Zayyan bukan hanya Mama saja."


"Ck, kuno ... untuk saja tampan," gumam Amora menatap kesal Zico yang kini berlalu pergi meninggalkan dirinya.

__ADS_1


- To Be Continue -


__ADS_2