
Suasana di kediaman Alexander tampak damai seperti biasanya. Meski ini adalah akhir pekan, mereka tidak ada yang bangun siang. Kecuali, Zayyan tentu saja.
Pagi-pagi begini Zico sudah sibuk sendiri membersihkan mobil-mobil yang ada di garasi dengan alasan cari keringat karena pria itu memang tidak bisa berdiam diri walau sejenak.
Sementara di dapur Agatha dan Zoya sibuk menyiapkan sarapan dengan dibantu Fabian yang sejak tadi sibuk sendiri mengupas kulit pisang secara mandiri.
Di tengah kesibukan mereka, Zico tiba-tiba datang dengan wajah panik dan tidak lupa membawa ember berisikan air kotor itu.
"Zoya!!" teriak Zico bahkan membuat Fabian terkejut dan hampir menangis.
"Apa sih? Pelan-pelan kan bisa."
Agatha yang juga terkejut jelas saja marah mengetahui kehadiran sang kakak yang seenak jidat dan tiba-tiba datang padahal mereka sejak tadi aman-aman saja.
"Ada tamu di depan ... sepertinya ingin bertemu kamu."
"Aku maksudnya?" tanya Agatha percaya diri karena memang kemarin seseorang dari brand ternama sempat mengatakan akan mendatanginya untuk membicarakan masalah kerjasama. Pemotretan yang mana Agatha akan menjadi model dadakan jika benar-benar didatangi pihak tersebut.
"Zoya ... bukan kamu," celetuk Zico seraya berdecak lantaran keterkejutannya belum usai pasca dikejutkan dengan kehadiran pria paruh baya didampingi seseorang yang tampak seumuran dengannya
"Aku? Tapi aku tidak pernah ada janji deh, tamu kak Zayyan kali," ungkap Zoya yang tidak yakin sama sekali kika seseorang yang datang itu bermaksud menemuinya.
"Siapapun itu intinya kalian berdua, cepat keluar," tutur Zico memerintahkan Zoya agar segera keluar dan menemui tamu yang memang datang untuknya.
Tidak ingin rasa penasarannya kian membuncah Zoya berlari ke depan untuk memastikan Siapa yang datang. Sejak kemarin dia tidak memiliki janji dengan siapapun. Aneh sekali jika tiba-tiba ada seseorang yang justru datang untuk menemuinya secara tiba-tiba.
Zoya menyempatkan diri untuk membasuh kedua tangannya kemudian berlari ke pintu utama. Biasanya Zico tidak pernah mengizinkan seseorang untuk segera masuk, alasannya khawatir orang tersebut bermaksud jahat dan sama sekali tidak dikenali oleh tuan rumah.
Hati Zoya sudah berdebar dan dia menerka siapa yang akan datang hari ini. Dia terkesiap ketika melihat sosok pria yang dia hormati sebagai atasan selama perantauannya.
"Dikta?" bibir Zoya seakan membeku dan dia dibuat tidak dapat berucap ketika melihat dengan jelas siapa yang sedang menunggu di terasnya.
__ADS_1
Dikta juga tidak sendirian melainkan bersama papanya. Terbiasa dengan sosok papa Dikta yang kerap marah membuat Zoya takut jika kali ini pria itu datang untuk memaki Zoya dan melontarkan kata-kata kasar karena sejak dahulu Zoya merasa memang tidak memiliki ruang sama-sama sekali di hati pria itu.
Akan tetapi mau tidak mau Zoya tetap harus menjaga etikanya kepada tamu hingga dia mempersilahkan Dikta dan papanya untuk masuk segera, walaupun sama sekali dia tidak mengetahui apa tujuan mereka datang pada Zoya hari ini.
"Kami datang terlalu pagi, maaf tidak memberitahumu lebih dulu, Zoya," ucap Dikta kemudian tersenyum tipis dan secepat mungkin Zoya jawab dengan gelengan kepala.
"Kau tidak memberitahunya Papa akan datang?" tanya pria itu dan membuat Zoya mengerti jika ada satu hal yang tidak Dikta lakukan sesuai perintah.
"Tidak masalah, Pak ... saya hanya terkejut saja, silahkan masuk," tutur Zoya sedikit ragu namun secepat mungkin dia berusaha berpikir positif terkait kedatangan mereka. Mungkin saja pria itu ingin membahas hubungan kekeluargaan antara dia dan dirinya, pikir Zoya.
"Suamimu mana?" tanya Dikta kemudian seraya duduk di atas sofa empuk itu.
"Ada di kamar, sebentar aku panggilkan dulu ya."
Sedikit malu rasanya, karena memang faktanya matahari sudah cukup meninggi sementara Zayyan masih asik di tempat tidur.
"Tolong katakan padanya, Papa ingin bicara, Zoya ... bukan aku."
.
.
.
Meski dia bingung, Zoya tetap mengikuti apa kata Dikta dan segera ke kamar untuk membangunkan Zayyan segera. Tiba di kamar, Zoya kembali dibuat pusing lantaran Zayyan yang sama sekali belum beranjak dari tempat tidur bahkan posisinya belum berubah seperti terakhir kali dia tinggalkan.
"Astaga dia kenapa semakin lama semakin malas?" gerutu Zoya yang lama-lama sebal karena memang semakin hari Zayyan semakin tidak beraturan.
"Kak bangun," ucap Zoya seraya menepuk wajahnya pelan-pelan karena biasanya Zayyan akan lebih mudah terbangun dengan cara ini.
"Sayang ... bangun!! Hei, hari sudah siang ... selelah apa tadi malam sampai jam segini belum bangun juga?" tanya Zoya dengan nada tinggi, Zayyan hanya berdecak sebal kemudian menutup wajahnya dengan bantal.
__ADS_1
"Astaga bangun, Kak!! Sudah siang, dibawah ada papanya Dikta mau ketemu." Entah karena dia musuhan dari segala alam atau bagaimana, Zayyan tiba-tiba membuka mata kala mendengar nama Dikta keluar dari mulut Zoya.
"What? Siapa yang datang?" Kening Zayyan mengerut dan dia berpikir keras apa mungkin mimpinya masih berlanjut hingga sudah bangun begini Zoya masih menyebutkan nama itu dengan jelasnya.
"Dikta dan Papanya, ayo cepat turun ... mereka ingin bertemu denganmu, bukan aku," jelas Zoya agar Zayyan mengerti dan tidak menerka-nerka hal yang salah.
"Ini masih jam berapa memangnya? Ada-ada saja bertamu jam segini," omel Zayyan namun dia tetap beranjak ke kamar mandi dan tampaknya segera membersihkan diri walau dia sedikit kesal dengan kedatangan tamu yang tanpa diduga hari ini.
.
.
.
- To Be Continue -
Hai sementara aku up, mampir ke novel satu ini ya. Yang punya tekanan darah rendah dipersilahkan biar tinggi dalam hitungan menit.
Judul : Sang Pelakor
Braaakk
Suara pintu kamar dibanting keras oleh Desta, ia adalah suami Vanessa.
"Tutup perlahan, aku tidak tuli !" Maki Vanessa kearah Desta.
Pernikahan Vanessa dan Desta terjadi akibat perjodohan yang dilakukan kedua orang tua mereka. Rumah tangga mereka tak cukup harmonis dan hanya berjalan 2 tahun lamanya.
Penyatuan 2 sikap yang sama-sama memiliki watak yang keras dan tidak mau mengalah satu dengan yang lain, membuat keduanya sulit untuk menjalani rumah tangga yang akur dan baik-baik saja.
Akibat sikap egois mereka masing-masing, harus berdampak buruk terhadap kelangsungan biduk rumah tangga mereka berdua.
__ADS_1