
Zayyan yang belanja, Clayton yang malu. Pria itu ingin sekali berlari saat ini juga, benar saja dugaan Clayton bahwa Zayyan akan melakukan hal tak terduga. Lupakan identitas Zayyan, sepertinya tidak ada Presdir yang membeli bikini dengan cara disesuaikan dengan genggamannya.
Wanita yang menjaga di sana juga ikutan malu, sementara Zayyan terlihat santai karena merasa tidak ada yang salah dengan caranya. Toh memang semua baik-baik saja, dia berhak memilih sebagai pembeli. Lagipula itu hadiah untuk istrinya, akan lebih rugi jika salah.
Selesai dengan kepentingannya, Zayyan membayar dengan wajah yang juga masih sama santainya. Sungguh, Clayton yang berada di sampingnya sudah was-was, khawatir saja jika tugas semacam ini akan Zayyan serahkan juga padanya nanti.
"Ada lagi, Bos?"
"Ah iya ... minyak wangi Fabian habis, aku diminta Zoya ganti," ucapnya kemudian. Ya, meski dia sudah berusaha menghilangkan jejak dengan membuang botolnya tetap saja ketahuan oleh pemilik bayi itu.
Sepertinya tugas Clayton akan cukup rumit setelah ini. Keduanya kini beranjak keluar dan mencari barang utama yang memang perlu Zayyan ganti. Aura Zayyan memang sangat berbeda setelah pulang dari liburan dengan membawa anak dan istrinya itu, walau lelahnya memang terlihat tapi cukup melegakan hati Clayton karena atasannya benar-benar sebahagia itu.
Jika biasanya Zayyan akan meminta asistennya bergerak untuk melakukan ini dan itu, lain halnya dengan hari ini. Minyak wangi sekecil itu harus dia, sementara Clayton hanya menunggu tanpa perlu melakukan apapun.
Syukurlah, usahaku dan Zico tidak sia-sia.
Meski sebenarnya Zico kerap mengingatkan Zayyan untuk berhenti mencari dan anggap saja Zoya telah tiada, akan tetapi pria itu tetap berjuang hingga akhir. Dengan beberapa koneksi beberapa teman badjingan yang kala itu Zayyan khawatirkan mendekati adiknya, Zico perlahan menemukan titik terang dimana Zoya berada.
.
.
.
__ADS_1
Tiba di apartement, Zoya sudah menunggu dengan senyum hangatnya. Wanita paruh baya yang sempat Zayyan janjikan juga sudah tiba, baguslah setidaknya waktu bersama sang istri akan lebih aman dan tidak terganggu gara-gara Fabian, pikir Zayyan.
"Pulangnya telat, Kakak kemana dulu?"
"Cari parfum Fabian ... ini, benar, 'kan?" tanya Zayyan menghela napas perlahan, percayalah benda kecil itu sulit sekali dia dapatkan karena hanya ada satu di sana.
"Hm benar, jangan ditumpahin lagi," ucap Zoya usai menerimanya, junur saja dia sesayang itu pada benda Fabian, bisa-bisanya tumpah begitu saja ketika dijaga Zayyan.
"Bian yang buka, mana kutahu, Zoya."
"Kalau kamu bener jaganya tidak akan kejadian hal semacam itu," balas Zoya tidak mau kalah, mana mungkin anak sekecil itu sudah megerti mana yang boleh mana yang tidak, dasar Zayyan saja yang tidak becus mengurus anak, pikir Zoya kemudian.
"Kamu? Kamu? Apa tadi?"
Sensitif sekali, perkara panggilan saja jadi masalah. Itu adalah kebiasaan Zayyan sejak dahulu. Memang sedari mengenal Zoya, pria itu tidak menyukai jika Zoya menyebutnya kamu atau lainnya.
"Awas sekali lagi begitu," ucapnya kemudian menyerahkan paper bag yang berisi hadiah untuk istrinya itu.
"Apa?"
"Untukmu, pakai nanti malam," ucapnya kemudian berlalu mencari keberadaan sang putra yang kini tengah sibuk sendiri di tempat tidurnya. Ya, selama Zoya yang jaga Fabian memang tidak banyak ulah, entah kenapa dia berbeda jika sudah ditangan Zayyan.
"What? Dia kenapa tiba-tiba? Dikira pengantin baru kali," ucapnya kala megetahui isi paper bag yang Zayyan berikan.
__ADS_1
Zoya terkadang tidak sadar jika hubungan mereka memang masih dapat dikatakan sebagai pengantin baru. Mungkin karena ada Fabian bersamanya, dia juga merasakan hamil selama sembilan bulan dan itu sangat lama bagi dia. Akan tetapi, bagi Zayyan yang dia rasakan hanya seminggu jadi wajar saja dia masih menganggap pernikahan mereka baru jalan dua minggu.
.
.
.
Sementara di sisi lain, jauh dari jangkauan mereka seorang pria yang nekat keluar dari rumah sakit padahal keadaannya belum baik-baik saja kini tengah menatap nanar rumah yang dulu dia dambakan sebagai tempat pulang.
Dikta, pria itu benar-benar hancur kala mengetahui pemilik rumah itu pergi tanpa pamit. Hanya titip salam pada Mirna, hati Dikta sesakit itu apalagi kala menatap rumah itu kini tampak sunyi.
Tidak ada gelak Fabian yang kerap menyambut kedatangannya. Masih dengan perban di kepala, Dikta benar-benar ingin marah rasanya. Semua berubah sejak kehadiran pria itu, dongeng yang baru saja Dikta rangkai hancur sudah lantaran kehadiran Zayyan.
"Zayyan ... kau_"
Pria itu mengepalkan tangan seraya memejamkan matanya. Zayyan merebut apa yang ingin dia jadikan miliknya, pria itu menarik napas dalam-dalam kemudian meghembuskannya perlahan.
"Pak Zayyan suami_"
"Aku tidak bertanya, kau tahu dimana alamat mereka?" tanya Dikta kemudian, pria itu tidak akan kehilangan cara dan dia merasa masih berhak atas Zoya dan Fabian.
Aku yang menjaga mereka, pengecut sepertimu tidak pantas kembali mendapatkan Zoya.
__ADS_1
- To Be Continue -