
Berlanjut hingga makan siang, Agatha dan Zoya terlihat semakin dekat. Namun, berbeda dengan manusia bernama Zayyan itu. Zico menatap Zayyan teliti, wajahnya masih terlihat masam kala Zoya mengambilkan nasi untuknya. Siapapun bisa menyimpulkan jika pasangan ini tengah perang dingin.
"Zoya tolong ambilkan minum," pinta Zico baik-baik menunjuk air mineral yang ada di dekat Zoya.
"Manja. Ambil sendiri kan bisa," celetuk Zayyan tanpa menatap keduanya dan mulai menikmati makan siang yang sedikit dia paksakan. Sama sekali dia tidak memiliki keinginan untuk mengisi perutnya yang kosong sejak pagi.
"Berlebihan sekali ... aku hanya meminta tolong apa salahnya?"
"Agatha bisa! kenapa harus Zoya?"
Bertengkar di meja makan memang bukan hal asing bagi mereka. Zayyan dan Zico sejak dulu kerap bermasalah bahkan hal itu seringkali menjadi akar kemarahan Alexander pada keduanya.
"Kak zayyan lebay, perkara air minum saja jadi masalah. Sejak dulu Zoya biasa diminta hal semacam ini." Agatha yang sebal juga turut angkat bicara.
"Dulu, sekarang berbeda ... yang jelas jangan pernah meminta istriku melakukan ini dan itu untuk kalian. Hei, Zico! Kau dengar ya, dia bukan adikmu lagi jadi jangan seenaknya."
Zico mencebik, tentu alasan pria itu hanya karena khawatir Zoya melayani pria lain selain dirinya.
"Rumit sekali, cemburu ada batasnya Zayyan tidak semua hal boleh kau cemburui. Tanpa kau jelaskan dunia tahu jika Zoya milikmu santai sajalah."
Dia memang tidak mendengar pengakuan langsung dari Zayyan. Namun, dia bisa menerka apa yang sebenarnya terjadi pada pria itu. Bertahun-tahun dia mengenal Zayyan dan dia juga yang pertama mengetahui jika sang kakak main hati pada adik tirinya sejak Zoya beranjak remaja. Jelas saja dia paham sorot mata yang kini seakan hendak mengulitinya.
"Kau ingin makan siang atau bertengkar denganku?" tanya Zayyan dingin namun tidak membuat Agatha pusing karena memang sudah terbiasa dengan hal semacam itu.
Sementara Zoya yang merasa jika suaminya memang salah, segera menenangkannya dengan menarik lengan Zayyan dan menggeleng pelan pada pria itu sebagai isyarat untuk berhenti mempermasalahkan hal yang tidak perlu.
__ADS_1
"Kalian lupa apa kata Papa? Apapun masalah dalam hidup kalian jangan pernah bertengkar di depan makanan! Apa perlu aku ingatkan pakai spanduk sekalian!" tegas Zoya pada kedua pria yang kini seakan melupakan jika umur mereka bukan lagi anak-anak.
Sejenak mereka terdiam, ucapan Zoya memang benar adanya. Tidak hanya Zayyan yang terhenyak melainkan kini Zico juga.
"Sudah-sudah ... memang salah kak Zico kenapa harus meminta Zoya? Aku juga bisa," ungkap Agatha menyerahkan segelas air tepat di depan wajah Zico agar pria itu diam dan tidak meneruskan masalah ini bersama Zayyan.
Makan siang pertama empat bersaudara ini berlangsung baik-baik saja dan sama-sama menikmati.
"Setelah makan kalian pulanglah," titah Zayyan kemudian secara tiba-tiba dan itu membuat Agatha berdecak sebal.
"Ngusir?" tanya Agatha singkat bahkan dia berhenti makan sejenak.
"Tidak mengusir, tapi memang etikanya begitu setelah bertamu ya pulang. Memangnya Kalian mau apa lama-lama di sini?" tanya Zayyan menatap Agatha yang seakan tidak rela dia minta pergi dari apartemennya.
"Apa-apa? Tidur di sini?" tanya Zayyan memperlihatkan wajah tidak ikhlas sama sekali.
"Tidak selamanya, cuma dua hari. Aku merindukan keluarga kita," ucap Agatha tersenyum getir dan dia berharap hati Zayyan maupun Zoya akan tergerak untuk bisa menerima ajakannya kembali hidup dalam satu atap seperti dulu.
"Kenapa tiba-tiba? Apa karena mama kesayanganmu berulah?" tanya Zayyan sarkas lantaran sejak dahulu dia sudah mengatakan bahwa Amora tidak seharusnya Agatha utamakan.
"Hei, pertanyaannya kenapa begitu?" bisik Zoya mencubit kecil lengan pria itu usai bicara seenaknya. Padahal, kondisi Agatha saat ini memang sangat memerlukan dukungan orang-orang terdekatnya.
"Aku serius, Kak. Bukan hanya karena mama berulah, tapi sudah cukup dua tahun kita terpisah. Apa salahnya jika aku merindukan kehangatan-kehangatan yang pernah ada sewaktu Papa masih hidup," ungkap Agatha serius menatap sang kakak.
"Kabulkan permintaannya, Zayyan. Agatha tidak pernah meminta ini dan itu padamu," ujar Zico yang mengerti betapa inginnya Agatha untuk membuat persaudaraan mereka kembali terjalin baik-baik saja.
__ADS_1
"Ya sudah terserah, tapi jangan mengusikku apalagi sembarangan masuk ke kamarku. itu adalah area terlarang yang tidak boleh kalian masuki."
Larangannya masih sama, di rumah utama pun juga demikian. Bahkan, sejak dahulu hanya Zoya yang boleh masuk ke dalam kamar Zayyan secara bebas.
"Iya paham! Tidak perlu dipertegas," jawab Agatha terlihat lebih ceria kala mengetahui Zayyan memberikannya izin untuk tetap berada di sini sementara waktu dalam proses penyembuhannya.
"Satu lagi, Zoya adalah kakak iparmu. Jadi jangan pernah memintanya membuatkan susu," tegas Zayyan khawatir jika Agatha masih memperlakukan istrinya seperti dulu.
"Iya, paduka ... paham sekali," ucap Agatha seraya mengangguk patuh namun terkesan mengejek hingga Zico tertawa sumbang dan hal itu sukses membuat Zayyan naik darah.
"Dan khusus untukmu tidur di ruang tamu!!" ungkap Zayyan tak terbantahkan.
"Hah?! Kenapa begitu? Bukannya masih ada kamar satu lagi?" tanya Zico mengerutkan dahi dan berpikir jika Zayyan benar-benar kikir.
"Sudah kujadikan kamar pembantu, tidak ada kamar untukmu dan jangan coba-coba kalian berdua tidur sekamar kalau tidak mau aku tebas batang lehermu," ancam Zayyan pada Zico seakan Lupa Diri jika dia pernah tidur sesuka hati di kamar Zoya ketika masih menjadi adik tirinya.
Menyebalkan sekali, aku pulang saja.
.
.
.
- To Be Continue -
__ADS_1