
Zayyan hanya tamu di sana, akan tetapi dia yang menemani Zoya membuat tatapan orang-orang di sana tertuju pada pria itu. Tidak hanya karena dia yang mengenakan piyama dan rambut acak-acakan itu, akan tetapi sejak tadi memang Zayyan menggenggam tangannya hingga Alya yang sudah datang lebih dulu menatap wanita itu bingung.
"Kak, katanya mau ambil koper ... sana," bisik Zoya merasa risih karena menjadi pusat perhatian sejak awal masuk, Zayyan yang begini hanya membuat Zoya salah tingkah bahkan tidak karuan arah.
"Aku lupa kamarnya, bisa temani aku? Aku tamu di sini."
Tamu adalah raja, tapi memang yang kali ini sedikit semena-mena. Akan tetapi, karena ucapan Zayyan benar adanya jelas saja Zoya tidak memiliki wewenang untuk menolak. Demi memperkecil masalah Zoya benar-benar menemani sang suami untuk kembali ke kamarnya.
Tiba di lift Zayyan buru-buru berniat menutupnya bahkan tidak peduli dengan seseorang yang juga ingin menggunakan lift tersebut. "Hanya muat berdua, kau naik setelah ini saja," ujar Zayyan dan membuat Zoya panik luar biasa, pasalnya pria itu adalah tamu dan jelas haknya sama.
"Kenapa ditutup? Kalau dia tersinggung gimana?" tanya Zoya kala lift tertutup, dia menatap Zayyan bingung dan butuh sekali penjelasan terharap keinginan pria itu.
"Aku tidak suka diganggu," ujarnya menatap sang istri dengan senyum teduhnya, sejurus kemudian dia menghimpit tubuh Zoya hingga berjarak beberapa centi saja.
"Mau apa? Jangan macam-macam ya ... ini masih pagi," ungkap Zoya menahan dada Zayyan yang kian mendekat, pria itu menatapnya begitu lekat dengan mata yang tidak bisa didefinisikan.
__ADS_1
"Kenapa memangnya kalau pagi?"
Sejak belum menikah Zayyan memang tidak tahu tempat. Bahkan dulu dia baru menurunkan Zoya dari mobil jika sudah puas bermain dengan bibirnya, dan kini ketika Zoya sudah menjadi istrinya jelas saja kian menggila.
"Ini pagi pertama, dan aku belum merasakan bibir ini," ujar Zayyan membelai bibir ranum sang istri dengan jemarinya.
"Jangan di sini ya, aku lagi kerja."
"Hari terakhir, tidak masalah jika berulah, Sayang."
"Kamu berani menolakku?"
Yes, berhasil tapi Zayyan mengerutkan dahi. Penolakan ini terlampau nyata dan membuat pria itu melayangkan tatapan tajamnya.
"Sadar ini dimana? Kalau sampai ada yang lihat gimana?"
__ADS_1
Zoya berdecak kesal lantaran pria itu benar-benar tidak tahu tempat. Benar saja kekhawatirannya, baru saja lift terbuka sepasang mata tengah menatap bingung ke mereka. Berbeda dengan Zoya yang tampak gelagapan, Zayyan justru terlihat santai dan menoleh ke arah pria di hadapannya.
"Kenapa? Dia istriku ... tidak ada yang salah, 'kan?"
Sama sekali pria itu tidak bertanya, akan tetapi Zayyan justru memberikan penjelasan tanpa diminta. Sekalipun dijelaskan pria itu sama sekali tidak percaya, apalagi Zoya yang terlihat menunduk dan tampak ketakutan di sana.
Setelah kejadian ini Zoya pikir pria itu akan melepaskannya, akan tetapi yang terjadi justru berbeda dan kini dengan santainya menarik pergelangan tangan sang istri seraya melangkah panjang. Zayyan yang memang cukup tinggi membuat Zoya kesulitan menyesuaikan langkahnya.
.
.
.
- To Be Continue -
__ADS_1