
Melihat Zoya yang menggeleng, Zayyan tersenyum miring dan meraup dada Zoya dengan begitu rakus. Lampu hijau dari pemilik tubuh ini, jelas saja Zayyan semakin bersemangat apalagi belum apa-apa, dessahan kecil sudah lolos dari bibir sang istri.
Suara itu dia rindukan, demi apapun Zayyan sangat merindukan lenguhan Zoya. Selama ini dia menonton cuplikan rekaman cctv di kamar apartement untuk melegakan rindunya, ya meskipun hanya satu malam mereka lewati di sana akan tetapi itu adalah penenang Zayyan selama dua tahun terakhir.
"Sshhh, Kaaaak ...."
Zoya mendessah kala Zayyan menyessap seraya meremmas gundukan sintal miliknya. Pria itu lagi-lagi tersenyum kala menyadari ukurannya bahkan dua kali lipat saat ini. Zayyan kembali menelusuri leher sang istri, Azoya mendongak seakan mengerti Zayyan butuh ruang agar sedikit bebas.
"Lepaskan, Zoya ... jangan ditahan, Sayang. Kakak merindukan suaramu," ujarnya dengan mata yang kini sudah benar-benar tertutup kabut.
Mengulang kembali malam panas layaknya pasangan pengantin baru. Zayyan mengecup setiap inci tubuh Zoya begitu lembut, pakaian yang baru saja dia kenakan beberapa saat lalu kini kembali terlepas. Jemari lentik Zoya mandiri melepas kancing piyama sang suami hingga pria itu semakin menginginkan hal yang lebih.
Napas Zoya mulai tidak teratur, padahal Zayyan baru melakukan pemanasan. Masih dengan mata yang terus menatapnya, Zayyan perlahan hendak membuka celana Zoya. Wanita itu kembali tersipu kala merasakan miliknya kini benar-benar sudah terbuka tanpa penghalang apapun, Zayyan membuka kaki sang istri lebar-lebar dan dia pandangi untuk beberapa saat.
Perlahan, Zayyan menurunkan wajahnya hingga mengecup bagian inti Zoya yang sudah basah itu begitu lembut. Sebagai wanita yang selalu berusaha menjaga kesuciannya selama jauh dari sang suami jelas saja dia hanya bisa menggigit bibir bawahnya seraya memejamkan mata.
Kecupan yang awalnya begitu lembut kini berubah menjadi ******* Zayyan yang kian dalam walau rambutnya kini Zoya tarik sebagai bentuk pelampiasannya. Zayyan menarik pinggulnya kala sang istri tampak bergeser karena tidak mampu menahan kenikmatan yang berasal dari lidah Zayyan yang beraksi di bagian bawahnya.
Zayyan mengangkat wajahnya dan mengubah posisi berlutut di hadapan Zoya. Dengan posisi seperti ini dia bisa memandangi sang istri lebih jelas tanpa penghalang, Zayyan menggesekkan senjatanya di atas permukaan milik Zoya perlahan. Sengaja melakukan pemanasan lebih karena dia khawatir Zoya akan terkejut meski ini bukan yang pertama kali.
__ADS_1
"Tubuhmu semakin seksi, rajin olahraga, Zoya?" tanya Zayyan masih terus menggesekkan miliknya padahal milik Zoya sudah selicin itu.
"Seseka ... aaakh."
Zayyan terkekeh, sepertinya Zoya tidak lagi mampu menahan gejolak itu bahkan meloloskan satu kalimat saja dia tidak kuasa. Pria itu tidak berbohong, tubuh Zoya memang seksi dan perutnya tetap langsing meski sudah punya anak.
"Kamu tidak ingin minum dulu? Aku akan memulainya sebentar lagi," sarkas Zayyan mengingat bagaimana dulu Zoya sempat meminta minum lebih dulu ketika hendak dia terkam.
Zoya menggeleng pelan dan tidak berpikir jika pertanyaan itu hanya sebuah sindiran. Tubuhnya semata-mata terbuai, dan tertutup naffsu hingga sesiap itu menerima Zayyan dengan segenap raganya.
"Tatap mataku, jangan menjerit, Sayang ... kita bukan hanya berdua di sini," ucap Zayyan karena khawatir Zoya akan menjerit setelah benar-benar dia hantam, akan tidak lucu jika baru masuk suara Zoya membangunkan malaikat kecilnya.
"Ehm."
Zoya mengangguk, akan tetapi Zayyan yang khawatir istrinya ingkar terpaksa menutup mulut Zoya dengan telapak tangannya sebelum menghentak tubuh sang istri perlahan.
"One ... Two ... Three."
Zayyan mendorong tubuhnya perlahan hingga mata pria itu benar-benar terpejam kala miliknya tenggelam dalam lubang kenikmatan sang istri.
__ADS_1
"Eeeuungh."
Benar saja, langkah Zayyan menutup mulut sang istri sudah sangat-sangat benar. Dia menjerit dan mencengkram lengan Zayyan hingga kuku-kukunya membekas, "Sakit, Zoy." Pertanda jelas ini bukan mimpi karena lengan Zayyan merasakan sakit lantaran kuku sang istri.
Semua berjalan baik-baik saja, Zayyan mulai bergerak perlahan demi membuat istrinya benar-benar nyaman. Tubuh Zoya bergerak sesuai irama hentakan Zayyan, ini adalah pelepasan rindu paling besar yang mereka rasakan.
Zayyan yang terlanjur masuk dalam permainan lupa tujuan utamanya menutup mulut Zoya hingga tanpa sadar tangannya kini beralih menekan kedua sisi paha Zoya seakan kaki sang istri masih kurang lebar saja. Dia terlena hingga dessahan dan rintihan keduanya kian tidak terkondisikan.
"Sayaaang, oh my gosh, Zoya ... kamu masih sesempit ini," racau Zayyan meyakini jika istrinya benar-benar sesuci itu selama dia berpisah darinya.
"Kamu suka, Sayang?" tanya Zayyan memastikan lantaran khawatir yang menikmati justru dia sendiri sementara Zoya sedikit tersiksa.
"He-em," jawab Zoya sebisanya dan dia masih berusaha tidak terlalu bersuasa meski jujur saja dia ingin berteriak merasakan tubuhnya dikuasai Zayyan malam ini.
.
.
.
__ADS_1
- To Be Continue -