Hasrat Kakak Tiri

Hasrat Kakak Tiri
BAB 52 - IQ Jongkok


__ADS_3

Kembali setelah dua tahun, tidak begitu banyak perubahan. Semua masih terasa sama, terutama apartrment Zayyan. Sejak dulu memang kakaknya terbiasa betah dengan segala sesuatu, jadi wajar saja jika tata ruang bahkan tidak bergeser sedikitpun.


Masuk ke kamar, Zoya dibuat terkejut lantaran mengetahui Zayyan sudah memindahkan semua pakaian dan barang-barang berharganya. Zoya menoleh sekilas, menatap sang suami yang kini tengah menidurkan putranya, seharusnya dia bahagia tapi melihat semua ini hati Zoya seakan perih seketika.


"Kak?"


"Hm? Kenapa?"


Zayyan melangkah mendekati istrinya, pria itu bertanya dengan lembut karena khawatir putranya terganggu.


"Pakaian_"


"Aku yang membawanya, dua tahun lalu aku yakin kamu akan pulang ... aku berpikir jika belum hari ini berarti besoknya, tapi ternyata kalau tidak dijemput tidak pulang ya, memang dasar wanita. Kamu sekuat itu, Zoya? Apa mungkin tidak rindu sedikitpun?"


Zoya terdiam sejenak, jika dipikir-pikir memang Zayyan benar. Akan tetapi, percayalah dia memilih untuk pergi di kehidupan Zayyan hanya karena berpikir sang suami sudah bahagia dengan kehidupan yang dicita-citakan Alexander, sang papa.


"Bukan tidak rindu, tapi aku hanya berpikir Kakak sudah bahagia, itu saja."

__ADS_1


"Yaya, memang sudah setelan pabriknya begini ... IQ mu berapa terakhir kali tes?" tanya Zayyan gemas sendiri, memang kekurangan Zoya sepertinya ada pada otaknya. Memang pintar di beberapa bidang, tapi ya jika dalam penerapannya begini.


Zoya paling benci ketika Zayyan bertanya hal semacam ini. Sejak dulu dia memang mendapat julukan IQ jongkok dari Zayyan, hal itu terbukti kala hasil tes menunjukkan berapa IQ Zoya.


"91? 82? 80? ... 70? Ah aku lupa, dibawah 70, 'kan?" lanjut Zayyan kembali bertanya dan dia pertanyaan itu membuat Zoya memerah.


"Apa pentingnya?" kesal Zoya kemudian memilih berlalu, hatinya yang terharu lantaran pakaiannya dipindahkan Zayyan hilang begitu saja.


"Serius Kakak tanya, berapa IQ kamu, Zoya?"


"Aku tidak seboddoh itu!! Nilaiku bagus-bagus semua walau memang tidak sepintar Kakak," ujar Zoya merasa dirinya tidak setollol itu, walau memang sebenarnya dia butuh waktu lama untuk memahami segala sesuatu tapi hasilnya tidak jauh berbeda dari Agatha yang memang terkenal pintar sejak kecil.


"Itu dulu, sewaktu aku sakit ... selebihnya tidak, aku bisa sendiri meski otakku boddoh seperti yang Kakak bilang," balas Zoya tidak mau kalah karena menurutnya fakta yang terjadi tidak begitu.


"Bisa, tapi lama ... tidak heran sih."


Perdebatan mereka masalah IQ kini berlangsung lama, padahal angka itu sebenarnya tidak menentukan kecerdasan seseorang. Zayyan saja yang menjadikan hal itu sebagai tolak ukur dan senjata untuk membuat Zoya menangis sejak dulu.

__ADS_1


"Dengar ya, di dunia ini apa yang aku tidak bisa ... mungkin dulu di mata Kakak aku tidak bisa apa-apa, tapi sekarang apapun bisa kulakukan sendiri."


"Yakin?" tanya Zayyan menyipitkan matanya, rasanya Zoya tidak semandiri itu.


"Iya, yakin!! Semua bisa, kecuali buat anak memang harus berdua," balas Zoya singkat dengan wajah cemberut, tanpa dia duga jika ucapan asal ceplosnya membuat Zayyan mulai terpancing padahal hanya dengan kata-kata.


"Cerewet, aku cium sampai sesak mau?" Ancaman semacam ini sudah biasa dia lontarkan sejak dahulu, sedikit bercanda tapi memang serius dalam tindakannya.


.


.


.


- To Be Continue -


Maaf terlambat guys, keluarga aku ada yang meninggal jadi up sebisanya dulu. Ntar aku susulin ya, kalau selesai ngubur aku bisa kejer.

__ADS_1


Sementara aku up, mampir dlu ke karya temen aku yang satu ini ya.



__ADS_2