
"Agatha? Kok pulang juga, sakit atau kenapa kamu?"
Amora masuk tanpa izin lebih dulu, duduk di tepian ranjang dan memastikan suhu tubuh putri sambungnya. Tidak panas, Agatha baik-baik saja dan tidak demam atau apapun itu.
"Mama dari mana?" tanya Agatha seadanya dan dia bingung kenapa mamanya tidak berada di rumah padahal masih pagi.
"Hm arisan sama temen-temen Mama ... eh kamu tahu, Mama beli tas buat kita berdua," ungkapnya sesemangat itu, padahal menggunakan kartu kredit Agatha untuk cari aman.
"Tas?"
"Hm, ini edisi terbaru ... kamu pasti suka."
"Pakai kartuku lagi ya, Ma?" tanya Agatha sama sekali tidak semangat, selain karena suasana hatinya buruk akibat merasa diejek mamanya meninggal oleh Zoya, wanita ini juga sebal lantaran Amora terus menggunakan fasilitasnya.
"Iya, ini kali terakhir, Agatha ... kamu tahu sendiri punya Mama limitnya kecil, Zayyan sih pelit."
Semenjak Alexander tiada memang Zayyan yang menjadi penguasanya. Pria itu tidak hanya mengatur Agatha dan Zico, melainkan Amora juga. Terbiasa hidup mewah dan ketika mendapat batasan oleh Zayyan jelas saja dia tersiksa, hingga dengan cara memanfaatkan Agatha wanita itu masih mampu mempertahankan kemewahannya.
"Zayyan pelit? Mama sadar tidak semenjak Papa tiada kita tu tidak sebaik dulu ... kak Zayyan sudah katakan pengeluaran itu ada batasnya, ini sudah tas kelima yang Mama beli untukku."
Agatha berdecak kesal kini, sudah tas kelima dan artinya setiap beli selalu dua. Menggunakan kartu kredit Agatha dan jelas jadi tanggung jawab Zayyan, sementara dia tahu sendiri bagaimana keadaan Zayyan selama ini.
"Hidup harus dinikmati, Agatha ... sesekali kita memberikan self reward tidak masalah."
"Sesekali, bukan berkali-kali. Kalau sampai kak Zayyan blokir kartu aku bagaimana? Mama mau tanggung jawab? Tidak, 'kan?"
__ADS_1
Bagi Zayyan memang uang bukan masalah, terlebih itu untuk Agatha. Akan tetapi, jika sampai mencekik begitu jelas saja berbeda. Agatha bangun dan melihat harga tas yang Amora beli.
"270 juta? Satu tas, Mama pasti tidak cuma beli ini saja, 'kan?"
Ya, memang tidak. Untuk pertama kalinya Agatha marah perkara tas mahal yang Amora beli untuknya. Selama ini dia bungkam bahkan ketika Zayyan bertanya siapa yang menggunakan kartunya, Agatha akan menjawab dia sendiri dengan mantap.
"Terakhir kali, Agatha setelah ini tidak," ucap Amora meyakinkan Agatha namun wanita itu sama sekali tidak percaya.
"Terserah Mama!! Mama tahu bagaimana keadaan sekarang? Zoya kembali, dan Mama bisa tebak sendiri apa yang terjadi sampai Kak Zayyan marah karena ini ... setelah ada Zoya, jangankan kartu kredit. Mungkin semua yang aku miliki kak Zayyan ambil tanpa aba-aba," ucap Agatha berhasil membuat Amora sejenak terdiam, dia bungkam oleh satu kalimat yang mengatakan jika Zoya kembali.
"Zoya? Zoya mana?"
"Zoya mana lagi? Dalam hidup kita cuma ada satu Zoya," balas Agatha kembali kesal luar biasa dan dia beranjak dari tempat tidur, menatap sejenak wajahnya yang luar biasa kusut.
"Ya tapi buktinya memang Zoya masih hidup, kak Zico bohong dan mereka ternyata benar-benar menikah."
Amora membeliak, dadanya terhenyak kala mengetahui fakta itu. Bukan fakta Zoya hidup yang membuat dia terkejut, melainkan pernikahan antara Zayyan dan Zoya ternyata bukan khayalan Zayyan belaka.
"Apa? Mereka benar-benar menikah Kamu bercanda, Agatha?"
"Tidak, mereka benar-benar menikah bahkan sudah memiliki anak laki-laki."
Agatha menjawab datar kemudian kembali duduk di sisi Amora. Dia melihat dengan jelas perubahan wanita itu ketika mereka membahas masalah ini.
"Itu artinya, kekayaan keluarga Alexander akan dimiliki Zayyan sepenuhnya," gumam Amora namun bisa terdengar dengan jelas oleh Agatha kemudian.
__ADS_1
"Maksud Mama?"
"Ya kalian tidak dapat apa-apa jika Zayyan sudah memiliki anak, itu yang Papa katakan sejak lama," ungkap Amora menatap nanar tanpa arah, kembalinya Zoya adalah bencana bagi wanita itu.
Amora terdiam sejenak, dia menatap Agatha ragu dan nerasa mendekati Agatha bukan lagi jalan yang tepat. Wanita itu tidak lagi berpengaruh jika Zayyan sudah memiliki istri dan anak, karena harta Alexander akan jatuh ke tangan cucu pertamanya.
"Lalu bagaimana?"
"Ya mau bagaimana, Zoya memang tidak boleh ada dalam kehidupan Zayyan ... kamu siap hidup melarat, Agatha? Jika sampai dia kembali dan menjadi nyonya di rumah ini kita tidak ada artinya di mata Zayyan," ungkap Amora mendesak Agatha agar berpikir keras den menyingkirkan Zoya dengan caranya.
"Kita? Mama saja, aku tetap adik Kak Zayyan dan aku percaya Kak Zayyan tidak akan membuang adiknya sekalipun dia sudah memiliki keluarga," ujar Agatha kemudian berlalu keluar tanpa pamit sama sekali, entah kenapa perkara tas itu membuatnya benar-benar marah hingga merasa Amora hanya memanfaatkan statusnya sebagai adik kandung uang dimanja Zayyan soal uang.
"Agatha? Ck, apa yang salah dengan anak itu ... kenapa semuanya menyebalkan? Eeeuugh Zoyaa, dari bayi sudah mengacaukan hidupku!! Menyesal sekali aku menerima anak hasil zina itu," umpat Amora memejamkan mata dan memang keputusan paling patut dia sesali hanya itu, menerima Zoya lantaran khawatir diceraikan Agam yang kala itu merupakan pengusaha kaya.
.
.
.
- To Be Continue -
Hai, aku bawa rekomendasi novel untuk hari ini. Jan lupa dibaca ya gengs❤
__ADS_1