Hasrat Kakak Tiri

Hasrat Kakak Tiri
BAB 49 - Keputusan Sepihak


__ADS_3

"Kak, kenapa harus main tangan?"


"Dia pantas dihajar, Zoya."


Usai memberikan pelajaran pada Dikta, Zoya meminta Zayyan untuk segera pulang ke rumahnya. Jelas-jelas dia lihat bagaimana sang kakak yang ketika dia minta berhenti justru kian menjadi bahkan Dikta dilarikan ke rumah sakit akibat dia benturkan ke tembok dengan sekuat tenaga.


"Tapi yang tadi keterlaluan, Kak? Dikta bahkan tidak mengenal Kakak dengan jelas, kenapa harus begitu?"


Zoya seakan benar-benar terpengaruh dengan ungkapan Dikta yang mengatakan jika dia tidak mengenal Zayyan sebagai suaminya. Drama yang dimainkan pria itu memang berhasil bahkan membuat Zoya rela menjadi penegah dan melindungi tubuh Dikta dari serangan Zayyan.


"Kamu menghalangiku ketika menghajarnya ... kamu mencintainya?" tanya Zayyan melepas kancing kemejanya perlahan, noda darah Dikta tampak mengganggu di kemejanya.


"Bukan begitu, Kak, aku hanya khawatir kamu mendapat masalah di sini. Dikta bukan orang sembarangan, dan Kakak tidak seharusnya melakukan hal segila tadi," ungkap Zoya melemah dan memang sudah dia duga Zayyan akan salah paham.


"Aku tidak peduli, selagi aku tidak salah siapapun aku lawan, Zoya ... terutama pria bedjat seperti dia." Sejak dulu dia memang begitu, pria semacam Dikta tidak akan bernapas lega jika sudah berhadapan dengannya.


"Bedjat? Kakak sadar bicara apa? Dikta itu pria baik dan tidak seharusnya Kakak cerca begitu," ungkap Zoya masih tidak habis pikir karena memang di matanya Zayyan yang salah.


"Cih, apa yang dia berikan sampai kamu jadi buta begini, Zoya? Sudah kukatakan dia bukan pria baik-baik, kebaikannya padamu hanya karena obsesi dan dia tertantang untuk memiliki kamu," jelas Zayyan kemudian melempar kemejanya ke sembarang arah, ketika dia tidak dipercayai sang istri saat itulah batin Zayyan seakan hancur dan dia seakan gila sebenarnya.

__ADS_1


"Ya, seharusnya kita tidak perlu berdebat ... di mata Kakak memang tidak ada pria baik selain Kakak sendiri," ungkap Zoya menyerah karena memang sejak dahulu di mata Zayyan tidak ada pria baik.


"Iya!! Memang benar lalu kenapa? Ingin marah?"


Zayyan bicara santai tapi di telinga Zoya masih terdengar seperti luapan amarah. Dia di titik bingung karena memang di matanya Dikta pria baik walau dia tidak berpikir untuk menjalin hubungan apapun pada pria itu.


"Tidak, Kakak selalu benar dan memang tidak pernah salah," ucapnya berniat mengalah namun ternyata hal itu membuat Zayyan berpikir jika sang istri tengah menyindirnya.


"Nyindir?"


"Siapa yang nyindir, memang kenyataannya begitu, 'kan? Mau sebaik apapun Dikta di mata Kakak tetap salah."


"Begini, Zoy."


Zayyan mendorong tubuhnya hingga membentur dinding dan mengangkat tangannya, bersiap mendaratkan pukulan hingga berhasil membuat Zoya memejamkan mata. Akibat dia membela Dikta ternyata berbuntut panjang hingga siang ini dia harus bersiap menerima pukulan.


Bugh


Zoya menarik napas panjang kemudian perlahan membuka matanya. Zayyan menghantam tembok di sisi kanannya hingga jemari pria itu memerah, tidak hanya sekali tapi berkali-kali hingga Zoya mendorong dadanya kuat-kuat. Bukan bermaksud kasar, tapi Zoya tidak punya cara selain itu.

__ADS_1


"Jangan seperti anak kecil!!" bentak Zoya kemudian menahan tubuh Zayyan yang kembali hendak berdiri dan melakukan hal yang sama.


"Hanya ingin menunjukkan cara laki-laki seharusnya begitu, bukan bersilat lidah," ucap Zayyan tersenyum miring seakan tidak merasakan sakit sama sekali. Padahal, jemarinya bahkan terluka dan meninggalkan noda darah di tembok.


"Iya, tapi tidak seharusnya Kakak menyakiti diri sendiri," tutur Zoya lembut dan berusaha sebaik itu agar Zayyan tidak emosi, sejak dahulu memang sudah menjadi kebiasaannya melampiaskan kemarahan pada benda mati yang berujung menyakiti diri sendiri.


"Kamu percaya ucapannya?" tanya Zayyan kemudian, jika sampai Zoya berkata iya maka tentu akan sesakit itu hatinya.


Sejenak Zoya terdiam, akan tetapi dia paham bagaimana watak pria itu hingga dia memilih menggeleng walau sebenarnya ragu. Hanya saja, Zayyan tidak mungkin semarah tadi andai ucapan Dikta tidak menyinggung perasaannya, di saat ini dia memang tengah bimbang dan bingung sendiri dengan kedua pria yang kini mebuat hidupnya semakin rumit. Baru satu hari bertemu, kehidupan Zoya kembali dibuat kacau seperti dulu.


"Kita pulang besok pagi, aku sudah minta Clayton mempersiapkan semuanya."


"Kak?"


"Jangan membantah, kamu memang istriku dan jelas berhak mengajakmu kemana aku mau," ungkap Zayyan tidak terbantahkan, semula dia masih memberikan kesempatan untuk Zoya pamit baik-baik, hanya saja ketika mengetahui Dikta melamar istrinya jelas saja dia tidak akan tinggal diam.


.


.

__ADS_1


- To Be Continue -


__ADS_2