Hasrat Kakak Tiri

Hasrat Kakak Tiri
BAB 69 - Bukan Kali Pertama


__ADS_3

Dia meringis, merasakan sakit lantaran kelopak matanya Fabian cubit. Hanya saja untuk melepaskan pelukannya Zayyan juga tidak mau. Susah payah Zoya melepaskan cubitan Fabian, dia terus berteriak hingga suasana kamar yang tadinya tenang dipenuhi kekacauan antara anak dan papanya.


"Papa smackdown ya," ucap Zayyan kala sang putra kini berada di bawahnya.


Bukannya menangis Fabian justru tertawa tanpa henti memperlihatkan gigi-giginya. Zoya yang khawatir kala sang suami memperlakukan Fabian persis anak enam tahuna soontak berteriak.


"Jangan dibanting beneran, tulangnya masih lembut, Kak."


"Tenang saja, Sayang. Aku bisa jaga anak," ucap Zayyan yakin sekali, padahal melihatnya begini Zoya cemas khawatir dua-duanya jatuh dari tempat tidur.


Keringat bercucuran di kening Fabian, dia menikmati permainan yang mungkin baru kali ini dia rasakan. Ya, jelas saja baru sekali ini, mana mungkin Mirna dan Zoya sebelumnya berani melakukan hal-hal semacam itu.


"Tarik napas, coba lawan Papa lagi ... pukul, Papa," titah Zayyan menunggu putranya benar-benar memukulnya.


Fabian yang berdiri di hadapan wajah Zayyan masih bingung jika diperintah begitu, hingga Zayyan bertepuk tangan kala putranya hendak mendaratkan pukulan tepat di wajahnya.


"Good boy, Bian kalau Papa pukul menghindar ya ... seperti ini."


Putranya baru satu tahun tiga bulan, bukan tiga belas tahun. Pria itu memang kurang asupan atau bagaimana, mungkin terbiasa sewaktu kecil bermain semacam itu bersama Zico hingga ketika punya anak dia terapkan juga.


"Dimana-dimana anak itu diajari nama buah, nama-nama hewan dan lainnya. Bukan diajari jadi tukang pukul," ucap Zoya menggeleng pelan, namun melihat reaksi Fabian yang tampaknya lebih seru dibandingkan ketika bersamanya, Zoya merasa tidak masalah.


"Ada waktunya, Sayang ... Fabian laki-laki, harus jago bela diri seperti Papa. Let's go."

__ADS_1


Zayyan dan Fabian benar-benar bergulat di tempat tidur, meski memang sejak tadi Zoya perhatikan Zayyan yang heboh sendiri bahkan jungkir balik di atas tempat tidur demi mengajarkan anaknya cara menjadi laki-laki.


"Terserah Kakak saja lah, awas dia menangis ya."


"Aman-aman."


Aman kata dia, mendengar hal itu Zoya beranjak keluar untuk menyiapkan makan siang putranya. Namun, baru saja menutup pintu jerit tangis Fabian terdengar memekakan telinga hingga Zoya mengurungkan niatnya.


"Kenapa? Jatuh ya?"


"Bukan," jawab Zayyan yang kini sudah menenangkannya dalam pelukan.


"Terus kenapa? Bian kenapa, Sayang _ Astaga, jarinya digigit ya?"


"Tidak sengaja, dia terlalu menggemaskan ... tapi tenang, aku bisa membuatnya diam, Sayang."


"Bisa gimana? Jelas-jelas dia masih nangis begini."


"Sudah, aku bisa sendiri Zoya serius ... lihat, mulai tenang, 'kan dia?"


Memang benar, Fabian mulai tenang. Akan tetapi untuk meninggalkannya bersama Zayyan lagi Zoya khawatir putranya menangis lebih dari ini.


"Ikut Mama saja mau ya?"

__ADS_1


Anehnya, ketika Zoya mengulurkan tangannya Fabian justru membuang muka. Dia tetap memilih berada di pelukan Zayyan dan kini dia mulai tenang.


"Tidak percaya suami sih, berdosa, Sayang."


Beberapa saat menangis, Fabian kini kembali minta dilepaskan. Dia yang sempat melihat Zayyan jungkir balik kini mulai mengambil posisi dan Zoya ketar-ketir luar biasa.


"Heeh Bian!! Kan sudah kubilang jangan macam-macam. Jangan-jangan Kakak ajarin dia begitu dari kemarin-kemarin ya?"


Dia terlalu percaya Zayyan hanya menemaninya mengobrol biasa. Sejak awal bertemu memang mereka kerap Zoya tinggal berdua, waktu berdua antara Zayyan dan Fabian cukup banyak jika dia ingat.


"Tidak, memang daya tangkap Bian saja yang cepat." Dia mengelak, mana mungkin Zayyan berani mengaku pada wanita ini walau memang dia melakukan hal itu sejak kemarin.


.


.


.


- To Be Continue -


Haii, aku bawa rekomendasi novel buat hari ini❤


__ADS_1


__ADS_2