
"Kalian sedang membicarakan apa?" tanya pria itu karena merasa tertarik dengan topik pembicaraan karyawannya.
"Eum tidak ada, Pak. Zoya cari bapak dari tadi," ungkap Erina gugup dan memilih cari aman untuk sementara.
Berani berbicara di belakang, namun ketika orangnya sudah jelas di depan mata semua diam seketika. Dikta, pria itu benar-benar datang di saat yang tepat dan kini mendekati ketiganya. Bukan pria dingin tapi tetap di mata Alya dan Erina pria itu sangat segani.
"Kamu cari aku?" tanya Dikta kemudian menatap Zoya lantaran kedua wanita itu tidak menjawab ketika dia tanya.
"Iya ... aku mau bicara sesuatu, kamu punya waktu, 'kan?" tanya Zoya dengan menampilkan senyum hangat seperti biasa kepada seorang Dikta.
"Hm selalu ada, Zoya. Kebetulan aku juga mau bicara penting."
Melihat interaksi keduanya bagaimana Alya dan Erina tidak berpikir bahwa memang dugaan mereka benar adanya. Ya, dua insan yang bahkan diharapkan menjadi pasangan itu akhirnya memiliki titik terang, sebagai teman jelas saja keduanya bahagia.
"Aku yakin kali ini serius mereka serius," ujar Erina kala memastikan kedua orang itu sudah benar-benar pergi dari tempat ini.
"Sama, Dikta menerima Zoya apapun keadaannya ... enak ya jadi cantik," keluh Erina kemudian padahal dia juga cantik sebenarnya, hanya saja jika dibandingkan dengan Zoya dia merasa temannya itu memang cantik dari segala sisi termasuk jalan hidupnya.
"Diktanya, tapi orang tuanya belum tentu." Hal itu adalah fakta dan memang orangtua Dikta sama sekali tidak memperlihatkan jika dia menyukai Zoya sebagai calon menantu.
"Pejuang restu, demi baby Bian tidak masalah," tutur Erina kemudian, sejak dahulu memang yang mereka pikirkan hanya tentang Fabian semata.
"Semoga saja, kasihan sebenarnya ... lagian suami dia kemana sih? Heran deh, secantik Zoya aja bisa begitu kalau aku gimana?" Alya menatap nanar dan memikirkan bagaimana nasibnya jika Zoya saja semenyedihkan itu.
"Mana aku tahu, dia terbukanya sama kamu sama Barata. Aku kan cuma tahu sedikit-sedikit," balas wanita itu baru sadar jika tidak sedekat itu pada Zoya.
"Kalau masalah suaminya tidak, tapi menurutku kehamilan dia tidak diinginkan keluarga atau suaminya makanya nekat kabur ... lebih gilanya lagi suaminya sama sekali tidak ada inisiatif buat cari keberadaan Zoya," jelas Alya panjang lebar hingga membuat Erina benar-benar tertarik dengan kisah ini.
"Oh iya? Ada ya suami begitu, aduh jangan sampai didekatkan dengan laki-laki begitu, Alya ... kamu mending sama Bara aja deh daripada nanti dapat yang seperti suami Zoya." Semangat sekali dia membahas hal ini hingga membuat kemampuan berkomunikasi keduanya kian berkembang pesat.
__ADS_1
"Amit-amit sih, jangan sampai. Tapi anehnya, si Zoya tu cinta mati sama suaminya itu ...aneh, 'kan?"
Pembicaraan mereka mulai memanjang hingga tanpa mereka sadari jika cctv bermata dua tengah memantau mereka dan kian dekat saja. Manik tajam pria itu tertuju pada mulut Alya yang tengah mencaci kesalahan pasangan Zoya, tidak kuasa menahan rasa kesal pria itu melangkah maju dengan hingga membuat jantung Alya seakan hilang dari tempatnya seketika.
"Ehem, kalian tidak punya pekerjaan lain atau bagaimana?"
Alya dan Erina saling menatap, mereka sedikit terkejut dengan kehadiran pria tampan dengan kemeja biru langit membalut tubuhnya. Suaranya terdengar berat dan bisa dipastikan bukan tamu dari golongan orang biasa saja.
"Maaf, Pak apa ada yang bisa kamu bantu?"
Erina yang sadar jika pria itu adalah tamu kemarin segera bersikap sebaiknya dan berusaha membuat pria itu tidak fokus dengan kesalahan mereka.
"Miris, andai kerja di perusahaan saya habis kalian detik ini juga."
Zayyan, dia mendengar dengan jelas apa yang mereka ucapkan dan itu menyakitkan. Pria itu menatap tajam wajah Alya dan Erina bergantian, sama sekali memang tidak akan ada kata maaf dan Zayyan berniat buruk pada keduanya.
"Jangan dibiasakan menduga-duga hal yang kalian tidak ketahui kenyataannya, apalagi privasi orang ... gunakan mulut kalian untuk hal bermanfaat walau tidak banyak. Saya bisa membuat kalian berdua jadi gelandangan jika saya mau. "
"Maaf_"
"Ah iya satu lagi, saya lebih amit-amit lihat kamu," ujar Zayyan sengaja memotong pembicaraan Erina dan dia tujukan pada Alya.
.
.
.
Selesai membuat jantung teman-teman Zoya tidak aman Zayyan berlalu dan dia berhasil membuat mereka mendadak lemas seketika. Tanpa butuh pengakuan mereka sudah paham siapa pria yang mengajak mereka bicara, bisa dipastikan benar suami Zoya.
__ADS_1
"Erina, kita tidak akan jadi gelandangan semudah itu, 'kan?" Alya pucat pasi dan ini adalah kali pertama dia benar-benar setakut itu, sungguh hal semacam ini benar-benar di luar dugaannya.
"Kamu sih sampai bilang amit-amit, dianya denger. Kalau sampai dia ngadu ke pak Dikta bisa jadi kita dipecat hari ini juga, Alya."
"Kamu yang mulai, Erina."
Saling menyalahkan dan memang beginilah faktanya manusia. Baik Erina maupun Alya kini berada di titik bingungnya, hingga ketika Barata datang justru suasana hati keduanya semakin buruk saja.
"Hai ... kalian sudah tahu kabar terbaru bel_"
"Diam! Udah sana," usir Alya sebal luar biasa padahal saat ini Barata tengah membawa kabar baik tentang Dikta dan juga Zoya.
"Ck, jangan cemberut begitu ... Zoya dilamar guys," ucapnya kemudian namun reaksi teman-temannya biasa saja dan itu membuat Barata heran tentu saja.
"Kapan?"
"Barusan, cuma belum tahu diterima apa belum ... pak Dikta romantis banget bahkan rela berlutut kasih cincinnya," ungkap Barata sebahagia itu padahal masa depan Zoya yang kini cerah sebenarnya.
"Terlambat, sampai mereka benar-benar menikah artinya kiamat," ungkap Alya pesimis dan dia berlalu begitu saja, padahal sejak awal Alya lah pendukung paling depan hubungan mereka.
"Al? Kok?"
Keadaan berubah secepat itu, entah dia ketinggalan apa hingga semua terasa berbeda begini. Dia memang belum memastikan jawaban Zoya karena hanya memiliki keberanian mengintip sekilas, itu pun sudah berperang dengan rasa takut dan khawatir dipecat Dikta secara tidak hormat.
"Kalian pada kenapa sih? Ini hari bahagia loh ... cita-cita kalian naik gaji bisa terwujud sebentar lagi ayo semangat dong." Sama sekali tidak tahu keadaan, Barata berucap tanpa peduli wajah datar Erina yang benar-benar merasa dirinya tidak penting lagi.
- To Be Continue -
Babnya agak-agak panjang semoga ga bosen ya😎
__ADS_1
Hallo, seperti biasa author mau merekomendasikan karya teman author. Muach jan lupa mampirin ya❤