
Sementara di tempat lain seorang pria paruh baya tengah menatap putranya yang kini mengalami luka serius di bagian kepalanya. Entah apa yang Dikta pikirkan hingga rela mendapatkan luka separah itu hanya demi seorang wanita, pikir Prada Widarman.
"Wanita itu lagi?"
"Zoya ... dia punya nama, Pa," jawab Dikta lemah dan dia tidak terima kala Zoya dianggap sekecil itu oleh sang papa.
"Persetan dengan namanya, sejak awal Papa sudah katakan berhenti mendekati wanita itu. Tapi apa? kamu pembangkang, Dikta!!"
Sejak dahulu Widarman mengetahui jika putranya menyimpan perasaan pada wanita yang merupakan salah satu karyawannya. Bagaimana Dikta selalu dia pantau, bahkan kala putranya diam-diam menyembunyikan kehamilan Zoya dia juga tahu. Hanya saja, Dikta yang selalu mengatasnamakan cinta dan kebebasan lantaran dia sudah dewasa tidak dapat dikekang pada akhirnya.
"Papa tidak berada di posisiku, aku mencintainya sama seperti mencintai mendiang Mama ... Papa jang_"
"Stop, Dikta!! Sudah Papa katakan jangan pernah mencintai wanita yang sudah bersuami. Kenapa kamu seboddoh ini?"
Sejak dahulu sudah dia tekankan untuk menjaga diri dan tidak menjalin hubungan dengan milik orang lain. Ketakutan Widarman sejak awal akhirnya terjadi dan kini terbukti nyata suami dari wanita yang Dikta kasihani dahulu kembali dan membuat putranya sekacau ini.
"Aku tidak peduli, Pa."
Memang keras kepala, Widarman bahkan bingung sendiri bagaimana caranya agar Dikta sadar segera. Pria itu memang sudah tergila-gila pada Zoya bahkan di tembok kamarnya terpajang foto Zoya yang dia dapatkan ketika kehamilan Zoya belum begitu besar.
Tidak hanya itu, dia juga menyayangi Fabian seperti putranya sendiri. Beberapa kali dia kerap mencuri kesempatan dan membawa Fabian ke hadapan Mahendra dan dengan bangga dia berkata bahwa Fabian adalah putranya.
__ADS_1
"Lepaskan dia, jangan membuat malu keluarga kita ... keturunan Widarman tidak pernah memiliki pendamping hidup bekas pria lain," ujar pria itu benar-benar menganggap Zoya bak wanita pengganggu yang tidak berguna sama sekali.
"Jaga bicara Papa, Zoya bukan bekas!!"
Terserah, Widarman sudah sangat lelah dan dia memilih tidak peduli dengan masa depan Dikta selanjutnya. Andai saja dia mau, bisa saja mempermasalahkan luka yang Dikta alami dan menyeret Zayyan ke jalur hukum, tapi dia memilih untuk tidak melakukannya lantaran berpikir saat ini memang putranya yang salah.
Pria itu berlalu kemudian, meninggalkan Dikta yang kini hanya didampingi Heru, asisten sekaligus sahabatnya itu. Dia menatap kesal Heru dan ingin sekali menamparnya lantaran bisa melakukan kesalahan semacam ini.
"Kenapa bisa terjadi, Heru? Sudah aku katakan jangan sampai keberadaannya diketahui siapapun."
"Sudah kulakukan, Dikta. Bahkan keluarganya sudah menganggap Zoya meninggal dunia beberapa bulan setelah dia hilang ... aku rasa kedatangan suaminya hanya kebetulan saja," ungkap Heru merasa sudah benar-benar melakukan yang terbaik, rasanya tidak mungkin seseorang mampu melacak Zoya setelah dia menyembunyikan semuanya.
Dikta tampak berpikir dan yakin betul di sini ada yang salah. Rasanya tidak mungkin seseorang menentukan pilihan sesuai dengan tujuan sesungguhnya. "Zayyan, kau tahu siapa dia secara detail?"
"Seperti yang kita ketahui sejak awal, dia adalah putra pertama keluarga Alexander yang juga merupakan pewaris keluarga itu ... Papamu mengenal Alexander di masa lalu, dan hal ini sudah kamu ketahui sejak lama, Dikta."
"Hm, benar ... lalu? Selain itu apa ada yang kau sembunyikan dariku?"
"Eum, sebenarnya Zoya dan Zayyan adalah saudara ... aku mengetahui hal ini dari Mahen, mantan kekasihnya Zoya."
"What? Badjingan itu mantan kekasih Zoya?"
__ADS_1
"Iya, hubungan mereka kacau juga karena Zayyan yang terobsesi pada adiknya itu," jawab Heru kemudian mengatakan apa yang dia ketahui dari Mahendra sendiri, pria itu membuat cerita seakan paling tersakiti lantaran Zayyan ikut campur masalah asmaranya.
"Woah."
Bisa-bisanya Dikta tidak mengetahui hal segila ini. Dia mengenal Mahendra cukup baik dan pria itu adalah salah satu teman dekat Dikta, hanya saja ketika semakin dewasa keduanya memang terpisah dan lebih fokus dengan dunia masing-masing.
"Ini tidak bohong? Zoya benar-benar adiknya?"
"Hm, mereka adik kakak, tapi mungkin saudara tiri ... oleh karena itu aku tidak yakin kau bisa merebutnya, dulu saja ketika dia sendiri Zoya sekuat itu menolakmu, apalagi sekarang."
Dikta membuang napas kasar, jika benar mereka bersama sejak kecil wajar saja dia sesulit itu membuka hati. Tidak heran jika Zoya kerap menyebut pria itu sebagai Kakak, pikir Dikta kemudian.
"Di dunia ini tidak ada yang tidak bisa aku dapatkan, Heru ... sekalipun Zoya." Dia seyakin itu mampu mendapatkan Zoya bagaimanapun caranya, sejak dahulu Dikta tidak pernah melepaskan apa yang dia mau.
.
.
.
- To Be Continue -
__ADS_1