Hasrat Kakak Tiri

Hasrat Kakak Tiri
BAB 38 - Mimpi Terindah


__ADS_3

Zoya melangkah panjang dengan perasaan yang kini berkecamuk tak karuan. Dia yang panik segera masuk ke kamar putranya, sementara Zayyan kini mengikutinya dari belakang. Jelas saja dia juga memiliki perasaan menggebu untuk bertemu putranya.


"Bian."


"Kamu dari mana, Zoya? Jam segini seharusnya sudah pulang."


Suara pria yang kini tengah membelakangi mereka membuat Zayyan terkejut. Dia menelan salivanya pahit dan hatinya seakan hancur kala melihat pria itu menenangkan putranya.


Benar dugaan Zayyan dari awal, mana mungkin Zoya bisa memiliki segalanya dengan mudah. Tentu ada peran pria itu, pria yang kini berperan sebagai pendamping Zoya. "Sejak kapan dia menangis, Bi?"


"Hampir satu jam, Non."


"Satu jam? Kenapa tid_"


"Ponselmu tidak aktif, aku sudah menghubungi yang lain dan jawaban mereka sama ... kamu pergi kemana memangnya? Lupa kalau sudah punya anak atau bagaimana?"


"Dikta, bukan waktunya kamu marah-marah begini. Biasanya Bian juga tidak begini," ujar Zoya hendak menangis melihat putranya yang bahkan pucat akibat terlalu lama menangis. Hingga, dia mendongak kala menyadari seseorang mengulurkan tangan padanya.


"Berikan padaku."


Zoya lupa jika Zayyan saat ini bersamanya, pria itu menatap manik sendu Zoya seraya mengambil alih putranya. Pelukan pertama yang luar biasa, Zayyan merasakan kehangatan yang tidak bisa dia ungkapkan dengan kata-kata.


Kehadiran Zayyan tidak lepas dari tatapan bingung Dikta. Pria itu sudah menunggu Zoya pulang sejak satu jam lalu, namun yang dia temui justru Fabian tengah menangis sejadi-jadinya.

__ADS_1


Fabian yang tadinya menangis tanpa henti kini perlahan mereda padahal Zayyan hanya memeluk seraya mengecupnya lembut, tidak ada susu seperti yang biasanya jadi senjata bagi Zoya untuk membuat putranya tenang.


"Siap_"


Drrt Drrt Drrt


"Ck, sebentar ya ... Papa telepon," ujar Dikta terpaksa mengulur waktu dan dia tidak meneruskan pertanyaannya.


Zoya melirik Zayyan sesekali, meski pria itu tampak menenangkan putranya tapi terlihat jelas arah mata pria itu ialah dirinya. Lagi dan lagi dia dia dikecam ketakutan dan khawatir sekali jika nanti Dikta sudah pergi Zayyan akan menuntut penjelasan dan mungkin saja dia akan kembali akan marah besar.


"Zoy, aku pergi dulu ... kamu berhutang penjelasan padaku," bisik Dikta dan sukses membuat mata Zayyan mendelik luar biasa tajam.


"Bian, Daddy pergi dulu ya, Sayang ... Bye. Oh iya, sebelumnya terima kasih sudah menenangkan Bian, kau hebat sekali." Dikta memang seseorang yang pandai bergaul terhadap orang baru tidak pernah mengira jika pria ini adalah Zayyan yang selalu Zoya sebut dalam tidurnya ketika masih menjalani perawatan pasca melahirkan Fabian.


Zayyan menatapnya tajam dan berdecak sebal kala pria itu berlalu dari kamar Fabian, putranya. Ingin meluapkan emosi saat ini tapi jiwa Zayyan benar-benar terasa damai kala menatap mata putranya yang kini berair. Gigi-giginya yang baru tumbuh beberapa membuat Zayyan tersenyum begitu hangatnya, dia menghampiri Zoya yang kini berdiri tak jauh darinya.


"Bi, tolong siapkan malam ya," pinta Zoya lembut kala menyadari saat ini Mirna masih berada di dalam kamar.


"Dia biasa begini?" tanya Zayyan menatap lekat wajah Fabian, demi Tuhan kemarahannya seakan hilang begitu saja.


"Tidak, Kak ... biasanya jam segini aku sudah pulang dan kami sudah tidur," jelas Zoya seperti biasa, dia yang sempat takut Zayyan akan marah besar kini tersenyum selega itu.


"Jadi kamu begadang karena Papa ya, Sayang?" Zayyan bertanya selembut itu seraya mengecupnya hingga terbit senyum indah di wajah malaikat kecilnya. Terlalu gemas dan tidak bisa menahan diri Zayyan mengecupnya terlalu kuat hingga tangisnya kembali terdengar, sontak Zayyan tertawa karena ini terlalu lucu baginya.

__ADS_1


"Haha kenapa? Kaget ya, Sayang?"


Bukannya berhenti, Zayyan semakin gemas hingga Fabian yang tadinya sudah tenang kembali menangis. Zoya yang tidak tega kini mengambil alih putranya, mungkin juga Fabian haus terlalu banyak menangis.


"Sebentar ya, Sayang ... kita duduk dulu." Zoya duduk di tepian ranjang dan posisi membelakangi Zayyan, sontak pria itu menghampiri dan duduk di hadapan Zoya.


"Jangan di sana, Kak."


"Apa masalahnya? Aku bahkan masih ingat bentuknya," ungkap Zayyan sekenanya hingga membuat wajah Zoya kembali memerah.


"Tuhan, jika ini hanya mimpi ... maka jangan bangunkan aku hingga nanti benar-benar mati."


Zayyan membatin seraya bersedekap dada, dia menatap lekat pemandangan yang kini berada di hadapannya. Hal ini terlalu indah untuk baginya untuk menjadi mimpi.


- To Be Continue -


Zayyan Alexander



Azoya Roseva


__ADS_1


__ADS_2