
Saat para sahabat sedang berkumpul, Jimmy di sibukkan dengan masalah kantor yang membuat dia tidak bisa menikmati kunjungnya ke EROPA.
"Yang punya perusahaan Dia tapi kenapa aku yang repot...." Jimmy mendengus kesal.
"Bagaimanapun itu sudah jadi tanggung jawab kamu mas, jangan mengeluh seperti itu, aku tidak suka." Kania memeluk Jimmy dari belakang.
"Bukan mengeluh, hanya saja aku ingin menikmati liburan singkat ini bersama denganmu. tapi masih saja aku disibukkan dengan masalah kantor yang tidak ada habisnya..." Jimmy berbalik badan lalu menyentuh pipi Kania dengan kedua tangan.
"Aku sudah bahagia dengan berada di dekatmu mas, terima kasih kamu sudah menjadikan aku wanitamu." Kania membenamkan wajah di dada bidang Jimmy.
Jimmy merasa sangat tenang dengan sifat pengertian dari kekasihnya...
"Oh iya, hari ini semua sahabatku sedang berada di rumah Tuan muda kejam itu, maukah kamu pergi bersamaku cinta?." pinta Jimmy.
Kania hanya mengangguk.
tak lama mereka bersiap, namun saat mereka keluar dari kamar, tak sengaja Jimmy melihat seorang lelaki yang mirip dengan ayah Revaldi.
"Apa aku salah melihat..." Lirih Jimmy yang masih menatap ke arah lelaki yang tengah berdiri dengan menerima telepon.
__ADS_1
"Itu benar Ayah Revaldi, tapi bukankah beliau sudah wafat? lalu dia siapa?." Jimmy semakin penasaran, dia pun mencoba mendekati lelaki itu, akan tetapi saat dia baru melangkahkan kaki beberapa langkah, keluarlah seorang wanita cantik dengan pakaian yang sangat minim.
lelaki itu pun langsung mencumu dan memeluk sang wanita tanpa perduli dengan banyak mata yang melihat kelakuan mereka...
"Mas kenal dengan mereka?." Tanya Kania heran.
"Lelaki itu mirip dengan Ayah Revaldi...."
"Mana mungkin, seingat aku Ayah dari Tuan Revaldi sudah meninggal sejak beberapa bulan lalu. mana mungkin orang yang sudah meninggal bisa hidup lagi." Jelas Kania, dia pun menggandeng lengan Jimmy untuk tidak mencari tahu lebih dalam tentang hal yang tidak masuk akal.
"Kamu masih memikirkan lelaki tadi mas?." Tanya Kania.
"Mas, aku sangat bahagia bisa berada di samping kamu." Lirih Kania bermaksud untuk menghilangkan rasa penasaran di hati sang kekasih.
"Aku juga sangat bahagia bisa memiliki kamu sayang..."
Perasaan bahagia yang saat ini tengah dirasakan sepasang kekasih muda yang saling mencinta.
"Taukah kamu arti dari kata bahagia..?" Tanya Jimmy dengan melirik Kania yang tengah bersandar di bahunya.
__ADS_1
Tidak ada jawaban yang terucap dari bibir Kania, dia hanya mampu menggeleng...
"Bahagia itu adalah saat aku bersama dengan dirimu. senyumanmu membuat aku sadar jika kamu adalah bahagia yang sempat tertunda oleh waktu." Jelas Jimmy dengan menghentikan laju mobil.
"Tertunda oleh waktu? maksudnya bagaiman?." Kania merasa bingung dengan ucapan Jimmy yang terlalu bertele-tele.
"Karena kamu datang di saat aku sudah banyak merasakan sakit dalam bercinta, namun kedatangan kamu ini sanggup mengobati luka yang aku sendiripun tak mampu untuk membalut luka ini." Jimmy mengusap pipi Kania dengan kelembutan yang dia miliki.
"Aku mau tanya mas, jika suatu hari nanti ada wanita yang datang padamu untuk meminta kamu kembali kepada dirinya, akankah kamu menerima dia dan meninggalkan aku?." lirih Kania.
"Jawaban yang sangat panjang. seseorang yang sudah lama pergi lalu kembali, dia hanya akan membuka luka lama yang membuat kita semakin kesakitan. walaupun dia datang dengan membawa setumpuk kebahagiaan, namun kepergiaannya dulu pernah menggores luka yang sangat dalam. jadi tidak mungkin bagi diriku untuk menerima kesakitan untuk yang kesekian kalinya dari wanita yang sama, cukup dengan kamu aku merasa bahagia tanpa ada rasa sakit sedikitpun...bahagia bukan berarti memiliki semua yang kita cintai, namun bahagia itu datang saat kita mencintai apa yang kita miliki sekarang, melupakan semua masa lalu, dan biarlah semua itu menjadi kenangan. tapi kamu adalah masa depanku KANIA." Jelas Jimmy dengan penuh kemantapan.
"Aku mencintai kamu Jimmy.." Kania memeluk tubuh sang kekasih.
"Aku juga, jadilah kamu yang terindah di hidupku. meski kamu bukan yang pertama, tapi biarkanlah kamu menjadi yang terakhir untuk aku miliki selamanya." Jimmy mencium kening Kania.
"Ya sudah kita lanjut lagi yuk, aku sudah tidak sabar untuk menghukum para sahabat bodohku itu." Cetus Jimmy dengan menyibakkan rambut Kania yang berantakan.
Mereka pun meluncur ke rumah Revaldi...
__ADS_1