HASRAT3

HASRAT3
Ep 56


__ADS_3

Kejadian luar biasa telah mengguncang keluarga baru Tasya, bahkan semua itu juga berdampak pada diri Revaldi. Tidak hanya dalam kehidupan pribadinya, melainkan juga berdampak pada kinerja di perusahaan.


Revaldi hampir putus asa dengan semua hal yang menimpa keluarganya.


"Mas, bagaimana kondisi mami?." Criztine membawakan segelas air putih hangat. Terlihat jelas lelah dan frustasi pada diri suaminya tersebut.


"Makasih sayang...." Senyum tipis terlintas di bibir Revaldi dengan penuh kepura-puraan.


"Mas..."


"Hemmm."


"Bagaimana dengan mami?." Kembali Criztine menanyakan hal yang sama.


"Untuk sementara mami masih terlihat depresi. Kesehantan-nya menurun, setiap saat mami selalu memanggil nama Ayah. Sampai kapan Tuhan akan menghukum keluargaku? semua ini sungguh tidak adil!." Revaldi meluapkan semua Hasrat diri dalam satu amarah.


"Kenapa mas menyebut semua ini sebagai sebuah hukuman?." heran Criztine.

__ADS_1


Revaldi terdiam sejenak...


"Kalau semua itu berat untuk di ungkapkan, maka tidak usah di jelaskan. mas istirahat saja dulu, pasti lelah." Ucap Criztine sembari meraih tangan sang suami.


Dukungan mental yang saat ini di butuhkan oleh Revaldi, karena saat ini dia terlalu banyak mengalami gempuran mental dan juga fisik.


"Semua ini tidak akan pernah terjadi, jika Papa tidak kembali hadir dalam kehidupan mami. pasti saat ini aku masih bisa bersama dengan Ayah dan juga bisa melihat mami , april dan juga kita semua bahagia. seperti dahulu kala. andai waktu bisa di tukar, maka aku rela menukar apa yang aku punya, demi kembali utuhnya keluarga mami. Ya Tuhan, kenapa hidup ini terlalu berat." Revaldi mengacak rambut.


Air mata duka hampir meluap dari dermaga mata, namun ia tak ingin memperlihatkan kelemahan itu di depan Criztine.


"Jangan bicara seperti itu mas, Semua ini sudah menjadi garis hidup untuk mami. Kepergian Ayah juga bukan atas dasar siapa pun, melainkan sudah menjadi takdir dari sang maha hidup untuk meminta kembali apa yang menjadi kepunyaan-Nya." jelas Criztine sembari mengusap pundak perlahan pundak Revaldi.


"Sayang, tinggal beberapa minggu lagi kamu akan segera hadir ke dunia."


"Mas, kamu harus kembali ke rumah sakit. saat ini mami membutuhkan kamu!." Jelas Criztine.


"Sudah ada papa disana."

__ADS_1


"Tapi mereka butuh kamu. mungkin dengan hadirny kamu, mereka akan sedikit lebih tenang." Criztine mengusap tangan Revaldi, untuk memberi dukungan atas masalah yang terjadi di antara keluarga besarnya.


"Baiklah! kalau begitu aku pergi dulu ya sayang. jangan lupa nanti suruh Hans untuk mengantar kamu ke rumah Opa." Revaldi meraih kunci mobil di atas meja.


"Iya mas, kamu hati-hati di jalan. semoga mami lekas sembuh..." Lirih Criztine dengan mengantar Revaldi sampai si depan rumah.


Cup....


Kecupan manis pada kening Criztine.


"Aku berangkat ya sayang..." Lambaian tangan mengiringi kepergian Revaldi.


Sejauh mata memandang yang terlihat hanya bayangan putih dalam gelapnya ruang.


semua nampak jelas di mata, benturan keras pada kehidupan manusia kerap kali membuat mereka melihat seolah buta.


mendengar tapi tuli.

__ADS_1


Hal menyakitkan bagi seorang anak adalah ketika ia melihat kedua orang tuanya dalam masalah, sehingga membuat sebagian dari mereka menangis meratapi semua itu.


namun Revaldi tidak ingin terlalu tenggelam dalam lautan air mata, karena saat ini yang paling dia utamakan adalah bagaimana caranya untuk mengeluarkan ibundanya dari gelombang ombak air mata kepedihan.


__ADS_2