
Sesampainya di pemakan, Riko dan keluarga melangkah menuju tempat dimana makam Rikardo berada.
" Ayah, bolehkah aku menangis?." Tanya April pada batu nisan di hadapannya. " Saat ini aku merindukan Ayah." air mata April terjatuh dengan sendirinya.
" Sayang berhentilah menangis, Ayah kamu sedang melihat kita dari surga, jangan membuatnya bersedih." Riko menguatkan diri April atas kerinduannya selama itu.
" Mas, ijinkan aku disini sendiri." ucap Tasya.
" Tapi..."
" Aku hanya ingin disini sebentar saja, kalian tunggulah aku di taxi."
Mereka berdua pun meninggalkan Tasya lalu kembali ke dalam taxi.
" Mas, aku sudah menerima karma atas kesakitan yang pernah kamu rasakan. Aku sangat-sangat menyesal telah menduakan rasa cinta ini, namun saat ini aku ingin menjalani kehidupan baru bersama mereka semua, semoga kamu bahagia disana. Aku mencinta kamu Rikardo." Tasya mengusap batu nisan di depannya, doa-doa selalu ia panjatkan kepada Sang Pencipta.
" Ku sematkan namamu dalam setiap langkahku, ku bayangkan wajahmu saat ku merindukan kamu, ke khayalkan hadirmu saat ku ingin bersama denganmu. Aku sudah ikhlas menjalani kehidupan ini mas."
__ADS_1
Di saat air mata mengalir, tiba-tiba ada seekor burung merpati berwarna putih bersih mendarat tepat di atas batu nisan Rikardo.
" Kamu menjawab aku dengan kedatangan merpati ini mas?.... selama hidup, kamu selalu ada untuk ku dan saat kamu di alam sana aku merasa kamu masih ada untuk ku. Entah suatu kebetulan atau apa, tapi aku menganggap merpati ini utusan dari Tuhan untuk mengirim pesan atas hadirmu." Tasya meraih merpati itu, nampak tenang tanpa perlawanan.
Mata merpati itu seolah mengatakan hal yang sangat mendalam, namun sulit tuk di pahami.
" Wahai merpati, terbanglah." Tasya melepaskan burung tersebut lalu dia melihatnya terbang di angkasa.
" Kamu sudah bebas bagaikan burung merpati itu mas, aku berjanji tidak akan menangis lagi, karena aku sadar bahwa kesedihan ku banyak membuat keluarga kita menjadi hancur." Tasya kembali mengusap nisan Rikardo. " Aku pamit mas." senyum merekah di bibir Tasya.
" Tuan Arman?." Tasya terkejut mendapati sahabat lama Rikardo tengah berbincang dengan Riko.
Dengan cepat, Tasya menghampiri mereka. " Tuan Arman, ada apa ini?." ucap Tasya.
" Begini nyonya, saya kemari di perintahkan untuk memberikan aset milik Tuan Rikardo." jelas Arman sembari menyodorkan beberapa surat di tangannya. " Sudah sejak lama saya ingin memberikan ini kepada Anda, tapi sebelum saya berhasil, Farhan lebih dulu merampasnya dari saya. Dan sekarang Farhan telah menyesali perbuatannya di jeruji besi, dia juga memberikan hak ini kepada Anda kembali."
" Jadi semua ini benar-benar sudah di rencanakan?." Isak tangis Tasya terdengar sampai di telinga sang putri.
__ADS_1
" Mami, jangan menangis lagi, Ku mohon." April memeluk erat tubuh ibundanya.
" Tidak nak, Mami hanya terharu atas pengorbanan dari Ayah kamu. Sekarang mari kita gunakan hidup kita dengan baik tanpa kesedihan lagi, kita harus hargai perjuangan Ayah."
" Kalau begitu saya permisi undur diri." Ucap Arman sembari melangkah pergi.
" Sayang, kita harus berjalan sesuai dengan keinginan Rikardo. Jangan lagi ada air mata kesedihan di pipi kamu dan kita semua." Riko mengusap air mata di pipi istrinya, lalu memeluk anak dan dan istri dalam kehangatan yang ia miliki.
Kesempatan yang Tuhan berikan padaku tidak akan pernah aku sia-siakan.
Pengorbanan Rikardo selama ini akan aku genggam selalu selama hidupku.
Mungkin aku tidak bisa menjadi sosok Ayah dan Suami sepertinya, namun aku akan menjadi diriku sendiri dan menyayangi mereka dengan caraku sendiri.
Terima kasih sobat.
" Sekarang mari kita pulang, kita harus memulai semua ini dari awal." ucap Riko dengan senyuman di bibir.
__ADS_1
Jalan terjal berangsur mereka melalui, walau mereka sadar masih ada banyak hamparan rintangan di luar sana.