
Riko tidak tahan melihat Tasya memohon bagaikan orang tidak punya harga diri, bagi Riko Harga diri dari seseorang adalah harga mati. tidak semua orang bisa merendahkan diri seorang yang lemah, begitu pula sebaliknya...
Dengan langkah yang berat, dada yang sesak, dia memaksakan diri untuk mendekati Farhan....
tanpa pikir panjang dia memukul Farhan dengan begitu keras.
"Jangan menghina istriku...."
"Siapa yang kamu panggil istri? bukankah dia mengaku bahwa aku adalah suaminya dan dia istriku, lalu apa kamu tidak malu dengan pengakuan dia...." Farhan menunjuk Tasya yang masih menangis.
"Katakan kamu siapa?." Bentak Riko dengan mencengkeram krah baju Farhan.
Senyuman tipis namun sadis, terlihat sekilas dari bibirnya.
"Aku adalah aku!." ucap Farhan sembari mengibaskan tangan Riko.
"Jangan bermain dengan diriku, jika kamu tidak bisa bermain dengan benar."
Deg...
ucapan Farhan membuat Riko mengingat atas apa yang pernah Rikardo ucapkan kepadanya semasa dulu...
seketika itu Riko merasa bagaikan kembali ke masa lalu.
masa dimana dirinya pernah berseteru dengan Rikardo.
"Apa kamu kurang mengenali diriku...?" Ucap Farhan seraya membantu Tasya untuk berdiri.
"Kamu memang suamiku...." Lirih Tasya.
__ADS_1
Tanpa pikir panjang Farhan mencumbu Tasya di hadapan Riko beserta semua orang yang ada disana.
"Jangan lupakan itu...." Ucap Farhan lalu menjauh pergi.
Tasya masih tercengang dengan apa yang baru saja dia alami.
"Ada sesuatu yang berbeda..." lirih Tasya dengan menyentuh bibirnya.
Kembali terbayang saat Rikardo menyentuh bibirnya, kelembutan dan kasih sayang yang tulus membuat Tasya tidak bisa melupakan Ciuman dari Rikardo.
namun kali ini dia merasa aneh dengan sosok lelaki yang baru saja menciumnya, kasar memang. ada beberapa gigitan di lidah yang membuat Tasya meringis kesakitan. akan tetapi dia senang....
kerinduannya terhadap Rikardo terbalas sudah.
"Kamu bahagia?." lirih Riko, dia melihat ada binar kebahagiaan pada mata Tasya.
"Mas...."
Puas dengan adegan yang baru saja dia mainkan, Farhan kembali ke dalam mobil dengan masih mengamati Tasya dan juga Riko.
"Aku sudah masuk satu langkah, kita lihat yang selanjutnya...."
"Kamu yakin ingin melanjutkan ini sayang?." ucap seorang wanita di dekatnya.
"Ya, bagi diriku hal yang terpenting adalah membuat mereka hancur berkeping- keping." Farhan mengeluarkan rokok dari saku celana.
satu batang rokok dia ambil, tanpa dia beri arahan, sang wanita pun menyalakan rokok tersebut.
"Sayang...." manja wanita itu dengan meraba dada bidang Farhan.
__ADS_1
"Hemmmm..."
"Jika nanti kamu sudah masuk dalam permainan ini, maka jangan sampai kamu mencintai wanita jelek itu."
"Mana mungkin aku mencintai dia, apa yang bisa aku banggakan dari dirinya? tubuh dia tidak sebagus kamu sayang...." Farhan menghembuskan asap rokok pada wanita itu, tangan Farhan mulai menjalar nakal di bagian Terlarang.
"Jangan disini..." Bisik wanita itu.
"Disini, atau tidak sama sekali." Cetus Farhan.
"Tapi aku malu, banyak yang akan melihat kita."
"Kalau begitu malam ini kamu harus membuatku senang...." Farhan meraih dagu wanita tersebut lalu mereka pun melakukan perang lidah.
"Aku sudah tidak sabar..."
Mendengar bisikan sang wanita, membuat Farhan menjadi tidak terkendali.
dia pun melajukan mobil dengan kecepatan tinggi, tidak perduli dengan rambu-rambu bahkan dia hampir saja menabrak seorang pejalan kaki.
"Untung saja...." Ucap wanita tersebut, dia menghela nafas panjang saat dirinya baru saja terhindar dari petaka.
"Aku tidak perduli...!" Cetus Farhan dengan terus melajukan mobil.
"Dasar lelaki angkuh, dia hanya bisa memikirkan dirinya sendiri..." kesal wanita tersebut.
Hingga pada akhirnya mereka sampai di sebuah hotel berbintang, pesanan kamar VIP yang sudah di sediakan pihak hotel.
dia menuju kamar bersama sang wanita, tanpa menunggu lama Farhan melakukan kebrutalan bersama dengan kekasih.
__ADS_1
walau wanita itu bukan yang pertama, namun dia sering di minta untuk menemani dirinya saat Farhan dalam kondisi badmood.