
Saat mereka asik bercakap-kacap, datanglah seorang pelayan yang menghampiri mereka...
"Mohon maaf saya menggangu, di luar ada yang mencari anda nyonya..." Jelas Sang palayan.
"Baiklah,saya akan temui dia. bibi bisa kembali berkerja." Ucap Criztine penuh kelembutan.
"Aku keluar sebentar ya..." ucap Criztine dengan meninggalkan para sahabatnya.
"Anda mencari saya?." Tanya Criztine pada seorang lelaki yang berdiri tegap di hadapannya.
"Benar nyonya! saya di utus tuan Revaldi untuk meminta anda mengambilkan dokumen yang tertinggal di ruang baca." Jelasnya santun.
"Baiklah akan aku ambilkan, mari silahkan masuk."
"Saya tunggu disini saja nyonya..." santun Hans(asisten).
"Kalau begitu mohon di tunggu sebentar...."
Criztine bergegas mencari dokumen yang di minta, tak berapa lama Criztine kembali dengan membawa beberapa map yang tertata rapi....
Saat Criztine tengah berbincang dengan Hans, datanglah Risa dengan membawa ponsel.
"Criz, ponselmu berdering..." Ucap Risa dari kejauhan.
"Suara itu..." Batin Hans.
"Sepertinya dari suami kamu..." Risa menyodorkan ponsel pada Criztine.
"Risa...." Panggil Hans terkejut.
__ADS_1
Risa menoleh seseorang yang memanggil namanya, akan tetapi saat dia melihat lelaki itu, tiba-tiba Risa terdiam mematung. lidahnya bagai terkunci rapat, detak jantung yang kian menderu membuat dia susah untuk mengatur nafas....
"Kalian sudah saling mengenal...?" Sambung Criztine.
Tanpa pikir panjang Hans pun memeluk Risa di depan Criztine.
"Akhirnya aku kembali menemukan dirimu." Lirih Hans.
"Jangan sentuh aku..." bentak Risa, dia pun mendorong tubuh Hans hingga dia tersungkur.
Risa berlari sekuat yang dia mampu, air mata berlinang mengiringi langkah kakinya.
"Risa tunggu...!" Ucap Hans bergegas menyusul Risa.
"Hey, dokumennya bagaimana?." Teriak Criztine, namun apa boleh buat Hans tidak perduli dengan teriakan Criztine.
"Sebenarnya Dia itu siapanya Risa...?" Gumam Criztine, dia merasa ada sesuatu diantara mereka berdua. akan tetapi Criztine tidak ingin mencampuri urusan pribadi sahabatnya, dia memilih untuk diam dan mencari cara supaya dokumen yang di minta Revaldi dapat secepatnya dia kirim.
"Astaga, kamu mengejutkanku..." ucap Criztine.
"Dimana Risa?." Vivian mencari keberadaan Risa yang tidak dapat dia jumpai.
"Jangan pikirkan mereka dulu, saat ini yang terpenting adalah bagaimana caranya Dokumen ini sampai di kantor suamiku tepat waktu..." Ucap Criztine kebingungan.
"Kenapa harus bingung, kamu punya supir bukan? suruh dia saja yang mengantar." Cetus Vivian dengan menunjuk lelaki yang berdiri di depan pintu gerbang.
"Kenapa aku tidak kepikiran ya? kalau begitu aku kesana dulu..."
Criztine pun memberi perintah pada pak supir untuk menyerahkan dokumen itu kepada suaminya.
__ADS_1
"Aduh lelah sekali, padahal hanya berjalan beberapa meter..." Keluh Criztine dengan mengusap perut.
"Itung-itung olah raga Criz, oh iya, tadi yang kamu maksud mereka itu siapa?." Vivian penasaran dengan apa yang tidak dia ketahui.
"Asisten suamiku dan Risa."
"Memangnya mereka kenapa?" Kembali Vivian menanyakan hal yang Criztine sendiri merasa sangat kebingungan.
"Aku juga tidak tau! tapi Risa terlihat sangat sedih..." Jelas Criztine.
"Apa jangan-jangan...." Vivian seketika bungkam dengan apa yang hendak dia ucapkan.
"Aduh, kamu bisa bantu aku berdiri tidak Vi? rasanya begah sekali.." Pinta Criztine.
Dengan hati-hati Vivian membantu Criztine untuk berdiri, mereka pun kembali kedalam rumah...
"Aku ambilkan minum ya..." Vivian bergegas mengambilkan air putih untuk Criztine.
"Kamu minum dulu..." Vivian menyodorkan segelas air.
"Terima kasih Vi, sekarang sudah rada lega." Criztine menghela nafas.
Vivian terdiam dengan semua dugaan yang timbul di otaknya, dia takut jika Risa bertemu dengan seseorang yang akan menyakiti dirinya.
"Criz, aku mau cari Risa dulu ya. aku takut terjadi sesuatu pada dia..." ucap Vivian.
Criztine mengangguk, dia melihat ada kecemasan di wajah Vivian.
Sebenarnya Criztine juga ingin pergi bersama Vivian, akan tetapi dia merasa sangat lelah
__ADS_1
di tambah saat ini perutnya semakin besar, jadi dia sulit untuk beraktifitas.
Criztine memilih untuk tetap di rumah dengan mendoakan semua yang terbaik untuk Risa, meski di dalam hatinya yang paling dalam dia penasaran dengan hubungan antara Risa dan asisten suaminya itu.