HASRAT3

HASRAT3
Ep 53


__ADS_3

Terdengar samar-samar isak tangis di telinga Tasya, nampak berat untuk membuka kelopak mata dan menggerakkan tubuh, perlahan isak tangis itu semakin dekat dan lebih dekat.


dalam gelap Tasya melihat sekejap wajah Rikardo yang tengah menunduk juga terisak, sekelilingnya nampak gelap dan pengap, tidak ada satupun benda di dekatnya.


yang terlihat di mata Tasya adalah sinar terang dari tubuh Rikardo.


"Mas, kemarilah..." itu ucapan Tasya dalam gelap.


nampak nyata, akan tetapi Tubuh Tasya sulit untuk bergerak.


ingin sekali dia menghampiri Rikardo serta memohon maaf atas segala kesalahan yang sudah dia perbuat selama ini, namun kakinya enggan untuk melangkah, sekujur tubuhnya bagaikan patung.


Tiba saatnya cahaya tersebut redup.


masih terlihat Rikardo disana dengan menatap Tasya, ada sepucuk senyuman dan juga tanda mata, hanya mereka saja yang mengetahui kode rahasia itu.


perlahan bibir Rikardo bergerak tanpa suara, saat kaki mulai dapat di gerakkan tiba-tiba tubuh Rikardo perlahan memudar di sertai redupnya sinar terang....


"Rikardo...." teriak Tasya.

__ADS_1


"Mami, mami kenapa?."


Tasya terkejut melihat sekeliling, dia tidak menemukan apa yang di cari, melainkan dia hanya melihat Revaldi di sampingnya.


"Mami mencari apa? mami minum dulu."


Segelas air putih di minumnya habis.


"Mana ayahmu? dia baru saja datang, kenapa dia pergi lagi?." Tasya sangat depresi.


Air mata Revaldi terjatuh saat melihat sang ibunda yang nampak kesakitan atas kehilangannya sosok pelindung di hidup mereka.


"Mami, Ayah sudah tenang di alam sana! tolong jangan bebani Ayah dengan air mata itu." Revaldi memeluk tubuh ibundanya.


"Tidak! Ayah kamu tadi ada sini. dia pasti hanya ke luar sebentar, biar mami cari dia." Tasya hendak turun dari ranjang rumah sakit.


"Mami, tolong jangan seperti ini." kembali Revaldi memeluknya.


"Ingat mami, di sini aku dan juga April masih sangat membutuhkan kehadiran mami!." Bisik Revaldi dengan air mata yang membasahi pundak ibundanya.

__ADS_1


Bisikan itu sedikit menyadarkan Tasya.


"Jadi semua yang mami lihat hanya ilusi...?" Tasya terdiam dalam kesedihan.


Revaldi meraih tubuh Tasya hingga saat ini keduanya saling bertatap muka.


"Kita doakan yang terbaik untuk Ayah, aku yakin pasti saat ini Ayah sedang menangis melihat mami seperti ini. biarkan Ayah hidup tenang di sisi Tuhan!." ucap Revaldi.


"Semua ini salah mami..." Isak tangis mulai menyelimuti suasana di ruangan tersebut.


"Mami istirahat dulu, jangan banyak bergerak." Revaldi membawa Tasya kembali ke atas ranjang rumah sakit.


"Nak, bagaimana mami bisa ada disini? lalu bagaimana dengan luka di kepalamu?." Tanya Tasya sembari menyentuh kepada anaknya yang terbalut dengan perban.


"Saat ini kita sedang berada di rumah sakit, mami harus menjalani perawatan. dan luka ini tidak sakit sama sekali, jadi mami tidak usah risau." Jelas Revaldi sembari menarik selimut untuk menutupi sebagian dari tubuh ibundanya.


"Mami ingat terakhir kali masih berada di tempat lelaki itu, lalu kenapa sekarang mami ada disini? siapa yang membawa mami kesini? dan dimana Papa kamu?."


"Papa sedang ada di kantor polisi untuk mengurus penangkapan lelaki penipu itu, sebelum Papa pergi beliau membawa mami ke rumah sakit dimana aku juga di rawat disini." Jelas Revaldi dengan senyuman indah mengembang.

__ADS_1


__ADS_2