
"Aku ingin tau dari kamu! sebelum aku mencari informasi lebih lanjut. aku yakin pasti kamu mengetahui apa yang tidak aku tau..."
"Sebenarnya aku sedikit tau tentang dia. tapi, aku tidak menjamin kebenarannya..." Joe melihat Revaldi bagaikan seorang yang hidup tapi tidak bernyawa.
"Katakan apa yang kamu ketahui..."
"Farhan adalah anak kedua dari keluarga Lien, dia adalah pewaris dari keluarga tersebut. ada satu masalah dalam diri lelaki itu, sepertinya dia pernah mengalami kejadian luar biasa yang membuat dia menjadi jahat dan suka berganti wanita. jujur, hanya itu yang aku tau. untuk lebih lanjutnya kamu bisa mencari informasi dari Opa kamu." Jelas Joe dengan menepuk pundak Revaldi.
"Saat ini keluargaku pasti sedang di terpa masalah besar." Lirih Revaldi.
"Apapun masalah yang saat ini kalian hadapi, kamu tidak boleh menyerah, ada hati yang harus kamu lindungi." Ucap Joe sembari menguatkan hati Revaldi.
Sebenarnya Joe ada satu hal yang ingin dia katakan, tetapi dia tidak berani mengatakan itu semua.
dikarenakan Joe belum mendapatkan kebenaran yang ada...
"Sudahlah! kamu jangan seperti ini, saat ini Ayah kamu sedang tidak baik. maka pergilah, temui dia." Ucap Joe.
Revaldi terdiam dalam lamunan.
semua hal yang terjadi adalah hal yang membuat dirinya sakit.
__ADS_1
"Re, kamu tak apa?." Joe menatap wajah murung Revaldi.
"Tak usah pikirkan aku, saat ini yang aku inginkan adalah keutuhan rumah tangga orang tuaku!." Tatapan mata Revaldi mengisyaratkan sebuah kesakitan.
"Kalau begitu aku pulang dulu..."
Tak berapa lama Revaldi meninggalkan rumah sahabatnya.
Dia tidak tau dengan apa yang harus dia perbuat, hingga pada akhirnya dia memutuskan untuk menghubungi Riko.
"Aku tidak tau harus bagaimana, tapi saat ini hati yang paling terluka adalah Papa."
Revaldi menuju sebuah cafe.
"Baru saja, Papa datang kesini sendiri?." Revaldi mencari keberadaan sang ibunda yang tidak ikut serata.
"Iya....!" dalam sekejap raut wajah Riko terlihat pucat.
"Kamu ingin bicara apa nak? kenapa harus mengundang papa kesini." Tanya Riko heran.
"Sebenarnya aku ingin bicara pada mami dan juga papa. tapi kenapa mami tidak hadir?."
__ADS_1
"Dia sudah mendapatkan apa yang dia cari." Riko berpaling wajah, rasa sakit yang terpendam seakan membunuh secara perlahan...
Andai hati bisa berkata, maka semua orang akan tau seberapa sakitnya Riko saat ini.
andai lidah tidak dapat berbohong, maka dia tidak harus kerepotan mencari cara untuk menutupi semua luka di hati.
Terkadang lidah berbicara hanya menggunakan akal tanpa perduli dengan kejujuran dalam hati.
"Semua akan kembali seperti semula, kini papa merasakan luka untuk yang kesekian kalinya." hanya air mata yang mampu mewakili perasaanya saat ini.
Ada rasa iba di hati Revaldi, namun dia tidak bisa berbuat banyak. karena dia tidak ingin menggurui orang tuanya sendiri.
keinginan Revaldi saat ini hanyalah menjadi pendengar dan sandaran untuk sang Ayah.
"Sebenarnya siapa lelaki itu? padahal mata ini menyaksikan sendiri bahwa Rikardo sudah benar-benar meninggal." Jelas Riko.
"Aku juga tidak yakin jika lelaki itu adalah Ayah." Sambung Revaldi.
"Tapi kenapa wajah itu sangat mirip dengan Ayahmu?." terlihat jelas amarah yang membara di mata Riko, akan tetapi Revaldi hanya mampu terdiam.
bahkan dia sendiripun kebingungan dengan kesamaan fisik antara Rikardo dan Farhan.
__ADS_1
"Papa, tolong tenanglah! kita cari tau kebenarannya dari Opa, kita harus menyusun Rencana untuk membuat dia membongkar identitasnya. aku ada satu rencana yang lumayan bagus..." Revaldi membisikkan sesuatu yang membuat Riko kembali mengembangkan senyuman indah di bibir.