
Sesampainya di rumah Revaldi, mereka mengetuk pintu lalu keluarlah seorang wanita...
"Revaldi ada di rumah?." Tanya Jimmy
"Ada tuan, mari silahkan masuk." jawab sang pelayan dengan membungkukkan badan sebagai salam hormat.
Jimmy masuk dengan di dampingi Kania yang senantiasa berada dimana pun Jimmy berada.
"Bahagia sekali kalian tanpa diriku...." Cetus Jimmy dari kejauhan.
"Jimmy, selamat datang di gubuk kecil gua ini." Revaldi menyambut hangat kedatangan sahabat terbaiknya.
"Istana kek begini lo bilang gubuk? dasar terlalu sombong." Jimmy menghempaskan tubuh di atas sofa.
"Kania, kita ngobrol di ruang sebelah saja yuk disini terlalu bising." ajak Criztine
"Baik nyonya, mari saya bantu berdiri...."
"Terima kasih ya..." ucap Criztine.
"Mas aku di ruang sebelah ya, biar bisa rebahan. pegel banget soalnya..!" Ucap Criztine meminta ijin pada sang suami.
Revaldi mengiyakan ucapan Criztine, dia merasa sangat bahagia atas kehadiran para sahabatnya yang sudah hampir beberapa bulan tidak bertemu...
Persaudaraan yang erat adalah saat kita menjalin suatu hubungan dengan orang lain yang dimana kita dapat saling melengkapi, saling menjaga, dan saling memahami.
__ADS_1
persaudaraan tidak hanya di Landasi ikatan darah, namun persaudaraan dapat terjalin dengan erat, saat manusia satu dan lainnya bisa saling menghormati tanpa harus menyakiti.
Sesungguhnya semua manusia di dunia adalah sama dan terlahir dari ras yang sama, dan semua itu dapat di artikan jika kita semua tercipta untuk saling bersaudara tanpa harus membedakan Suku, agama, dan budaya.
setinggi apapun jabatan kalian, tetap saja kalian adalah manusia yang terbuat dari tanah dan akan kembali pada Tanah.
"Sudah lama kita tidak ngobrol seperti ini.." Ucap Jimmy, dia pun meraih segelas air minum yang berada di hadapannya.
"Woy, itu minuman gua." Maki Leo.
"Bodo amat..." Cetus Jimmy.
"Biar aku ambilkan minum untuk kalian lagi..." Revaldi beranjak dari tempat duduk.
"Eh kalian tau tidak tadi aku melihat siapa?." Jimmy bertanya pada mereka dengan penuh keseriusan.
"Mana kita tau, bukannya kamu sibuk pacaran." Cetus Dimas tanpa perduli tatapan kejam Jimmy.
"Pacaran dari mana? gua udah dua hari dua malem di kerjain ama urusan perusahaan Tuan muda tuh...sampai gua tidak bisa menikmati kencan yang romantis dengan Kania." Ucap Jimmy kesal.
"Siapa suruh lo ngerubah aturan di kantor, sekarang tanggung sendiri akibatnya...hehe." Revaldi terkikik geli melihat wajah dari Jimmy yang sangat kesal akan tanggung jawab yang Revaldi bebankan terhadap dirinya.
"Rasain lo...." sambung Leo dengan menyeringai bahagia.
"Makanya jangan macam-macam sama Tuan muda kita ini, dia bisa membunuh tanpa menyentuh..." lirih Dimas dengan menepuk pundak Revaldi.
__ADS_1
"Lagian peraturan dia itu sangat keterlaluan, jadi aku rubah saja. toh dia tidak ada disana....." jelas Jimmy.
"Sudahlah, mari kita bahas yang lain saja. kalau aku membahas itu, maka aku bisa kena hipertensi." Revaldi meraih ponsel dan melihat ada sebuah pesan singkat dari Opa Hendardi.
"Ada apa Re? kenapa wajah kamu jadi kusut seperti itu." Tanya Leo.
Revaldi sangat tertekan dengan apa yang saat ini menjadi tanggung jawabnya, karena semua beban perusahaan ada di bahunya.
"Besok gua ada pengangkatan jabatan, jadi males kalau sudah kaya gini." Revaldi mendengus kesal.
"Asik dong! makan-makan kita sob..." Ucap Dimas dengan bersorak bahagia.
"Kalau disuruh milih mending gua jadi pimpinan kantor cabang dari pada jadi pimpinan di kantor pusat." lirih Revaldi dengan menyandarkan kepala di sofa.
"Kenapa harus pusing? seharusnya kamu senang dengan keputusan Opa kamu." Sambung Jimmy.
"Senang kepala lo, gua paling benci yang namanya hidup terikat dengan tanggung jawab besar seperti itu, gua belum siap." Revaldi mengacak rambut, dia merasa sangat terbebani dengan semua tuntutan dari keluarganya.
"Jalani aja dulu jangan banyak ngeluh..." Cetus Leo yang asik bermain game di ponsel.
"Lo bisa bilang kek gitu sebab hidup lo enak, lo tinggal bilang ini sakit, dan ini obat yang harus di minum."
"Enak dari mananya? tiap hari gua harus bergulat sama darah dan alat-alat medis, lo bilang itu enak, ck ck ck..." Leo berdecak kesal atas sikap Revaldi yang meremehkan kinerja seorang Dokter.
"Hehe...bercanda pak Dokter, gitu aja marah." ucap Revaldi, dia pun merangkul Leo.
__ADS_1