HASRAT3

HASRAT3
Ep 61


__ADS_3

Bahagia bercampur duka.


Setelah kelahiran anak Revaldi, ia memberi tau pada kedua orang tuanya. Walau pun Tasya masih berada di rumah sakit. Dia masih sangat depresi. Ia melakukan terapi dan banyak upaya medis lainnya, untuk mengembalikan diri Tasya seperti sedia kala.


Sesaat dia nampak baik-baik saja, namun jiwanya saat ini tengah terguncang.


Kondisi Tasya saat ini di sebabkan oleh dirinya sendiri, karena dia masih belum bisa menerima semua kenyataan, bahwa Rikardo sudah tiada.


" Sayang, cucu kita sudah lahir di dunia ini. Mari kita melihatnya." Pinta Tasya pada Riko.


" Tasya, kamu masih belum begitu pulih. Aku takut jika...."


" Aku sudah sembuh! Pokoknya aku ingin bertemu dengan cucuku." Tegas Tasya.


Riko tidak dapat menolak semua permintaan dari sang istri, ia hanya melebarkan senyum sembari mengangguk.


" Kalau begitu ayo kita pulang." Kembali Tasya merengek.


" Sayangku, kesehatan kamu belum begitu pulih. Bagaiman jika nanti..."


Cup...


satu kecupan manis di pipi kiri Riko, sehingga membuat mulutnya bungkam.


" Baiklah! kita akan pulang." Riko beranjak dari duduknya lalu melangkah keluar ruang rawat.

__ADS_1


" Cepatlah mas...." ucap Tasya girang.


Tak berapa lama Riko kembali.


" Kita sudah boleh pulang, tapi kamu masih harus pergi ke rumah sakit untuk terapi." Jelas Riko.


Tak berapa lama, mereka keluar dari rumah sakit, lalu menuju tempat dimana Criztine melahirkan.


Di dalam mobil selama perjalanan, Tasya menatap wajah Riko.


" Kamu menatapku seolah aku pencuri." Cetus Riko dengan fokus mengendalikan stir kemudi.


" Maaf." Lirih Tasya.


Dengan setia selalu berada di sampingnya, tanpa mengeluh, tanpa mengharap apa pun dari Tasya.


" Untuk apa kamu bicara seperti itu? kamu adalah dunia ku, jadi kamu tidak perlu bersedih seperti ini sayang." usapan lembut pada pipi sang istri.


" Aku mencintai kamu mas." ucap Tasya sembari memeluk lembut tubuh Riko.


" Love you too honey." Dengan fokus pada kemudi, Riko mengecup lembut kepala istrinya tersebut.


Mobil mengarah menuju sebuah rumah sakit bersalin yang sangat terkenal di Negara itu.


Mereka turun dari mobil lalu mencari dimana Criztine tengah di rawat.

__ADS_1


" Mami." Teriak seorang gadis kecil lalu berlari kepadanya.


" April, sayang." Tasya berlari kecil lalu memeluk putri kecilnya.


" Mami, kemana saja? April sangat rindu." air mata menetes di pipi April.


" Sayang, kenapa kamu menangis? dan kenapa kamu disini, bukankah kamu ada di rumah Opa?." sambung Riko dengan mengusap kepala putri dari Rikardo tersebut.


" Ayah, Opa Hendardi sudah meninggal dunia." lirih April polos.


"Apa?." sontak Riko terkejut, lalu tanpa pikir panjang dia berlari keluar dan meninggalkan istri dan anaknya di rumah sakit.


Saat ini dia menuju rumah, ia tidak percaya dengan ucapan April.


Sehingga dia memilih untuk meyakinkan dirinya, ia menuju kediaman Hendardi.


" Ayah, Ayah dimana?." Riko berlari lalu mencari keberadaan Ayahnya.


" Nak, dengarkan mama, saat ini Ayah kamu sudah kembali pulang." Lirih nyonya Hendardi dengan menyeka air matanya sendiri.


" Mama berbohong! tidak mungkin Ayah meninggalkan aku secepat ini, katakan dimana Ayah." Riko merasa tidak terima atas kenyataan ini. Ia menghuyung tubuh Wanita tua yang berada tepat di depan matanya.


" Semua ini terjadi karena ulah istri kamu itu, kita semua terkena imbas dari perilakunya. Bahkan perusahaan mengalami kebangkrutan luar biasa. Dan terpaksa kita harus meninggalkan Eropa."


Riko merasa sesak atas semua penjelasan itu, ia tidak menyalahkan Tasya, melainkan menyalahkan dirinya sendiri atas kesalahan masa lalu.

__ADS_1


__ADS_2