HASRAT3

HASRAT3
Ep 59


__ADS_3

Sakit itu saat kita mulai menyadari bahwa sesuatu yang dulu pernah kita miliki adalah terlalu berharga, namun ketika kita sadar Dia sudah tiada di samping kita.


Memang tidak mudah melupakan hal indah saat bersama.


Namun sang Pemilik sudah memintanya untuk kembali, maka tidak akan ada satu pun manusia yang mampu menghentikan pengambilan atas diri seseorang tersebut.


Bertepi dari masa lalu dan menjalani hidup bersama orang baru.


Pastinya tidak mudah!


Jika di lihat dari betapa Rikardo mencintai Tasya beserta anaknya, tentunya dia adalah lelaki yang sangatlah berbudi.


Semua luka dalam hati Tasya dan Riko tidak sebanding dengan semua pengorbanannya selama ini.


Kesakitan mendalam kini mulai mengisi hari-hari Tasya dan juga Riko.


Mereka mengalami tekanan batin dan juga banyaknya gempuran mental.


Beberapa hari sebelum tertangkapnya Farhan, ada sebuah berita besar yang membuat keluarga Hendardi terkejut.


Sebuah berita besar tentang hubungan Farhan dan Tasya mulai menyebar di media dan ada begitu banyak gunjingan atas kelakuan yang di perbuat oleh menantu Hendardi tersebut.


Dampak dari pemberitaan itu menyebabkan banyaknya kolega perusahaan yang memutuskan kerja sama dengan perusahaan Hendardi.


Saat ini keluarga Riko mengalami penurunan.


Presdir Hendardi pun mengalami serangan jantung.

__ADS_1


Saat Beliau hendak di bawa ke rumah sakit, tiba-tiba denyut nadinya melemah, bahkan belum sempat mendapat penanganan medis, beliau pun meninggal dunia.


Kepergian Hendardi belum di ketahui oleh Riko dan juga Tasya, pihak keluarga memilih bungkam sementara waktu.


Semua itu di sebabkan oleh kondisi Tasya dan juga banyak hal yang di pertimbangkan.


Pemakaman Hendardi berlangsung tertutup, sehingga tidak ada satu media yang mengetahui kepergian orang terpenting di negara itu.


" Mas, bagaimana dengan papa ?." Tanya Criztine.


" Aku tidak tau harus memulai semua dari mana, Tapi aku akan mencoba." Dengan perasaan sedih atas kepergian sang Opa, membuat air mata terjun dari mata Revaldi.


" Kamu sabar ya mas." Lirih Criztine sembari menguatkan suaminya.


Di saat bersamaan Criztine merasa sedikit aneh pada perutnya, Rasa nyeri mulai di rasakan.


" Mas,perutku sakit." Criztine mengeluh sakit.


" Sayang, kamu kenapa? Mana yang sakit?." Revaldi segera mendekat lalu mengusap perut Criztine. " masih sakit?." Usapan lembut dari seorang Ayah biasanya mampu membuat tenang janin dalam rahim ibunya.


Namun usapan Revaldi hanya semakin membuat perut Criztine semakin sakit dan sakit.


" Ah,sakit mas, sakit." Criztine mencengkeram lengan Revaldi dengan sangat kuat.


" Sayang, kita ke rumah sakit saja."


Mereka segera menuju rumah sakit terdekat.

__ADS_1


" Maaf Tuan, Anda bisa menunggu di luar." ucap salah satu perawat.


" Tidak! aku harus menemani Istriku, dia sedang kesakitan." karena rasa khawatir Revaldi ingin menerobos masuk ke dalam ruangan.


Namun dengan sigap Perawat tersebut mwnghadang pintu masuk dan sedikit mendorong Revaldi.


" Mohon maaf Tuan, ini sudah peraturan dari rumah sakit."


Tak berlangsung lama, Perawat tersebut masuk lalu menutup pintu dengan rapat.


Revaldi masih panik, ia mondar-mandir di depan pintu.


Sesekali dia mengintip dari celah pintu tersebut, namun semua itu sia-sia.


Karena banyaknya petugas medis yang menangani hingga menutup diri sang istri dari pandangan.


" Tuhan, tolong istriku." Doa terus mengalir dari mulut Revaldi.


" Tuan, nyonya harus segera di operasi. karena beliau sudah mengalami pendarahan, jadi saya minta tolong untuk anda mengurus segala prosedur rumah sakit." Jelas Dokter.


" Operasi? pendarahan? sebenarnya Istri saya kenapa Dokter?."


" Anda tidak perlu panik, karena sebentar lagi anda akan melihat buah hati anda terlahir ke dunia ini. Kalau begitu mohon segera di urus segala sesuatunya, lalu kami akan segera melakukan tindakan."


Tanpa pikir panjang Revaldi berlari dengan tangis haru.


Langkah kaki mulai terasa ringan saat dia mengingat akan hadirnya sang buah hati.

__ADS_1


__ADS_2