
Beberapa hari kemudian....
Revaldi membawa seorang wanita berparas cantik dan menggoda, dia adalah wanita bayaran yang Revaldi sewa untuk mengungkap niat buruk dari Farhan.
"Siapa lelaki yang harus saya urus?." Tanya Elena.
"Aku akan kasih tunjuk setelah kamu bertemu dengan seseorang..." jelas Revaldi dengan fokus mengendarai mobil mewahnya.
"Apakah anda ingin aku menyenangkan diri tuan?." Elena menyandarkan kepada pada bahu Revaldi.
"Jangan macam-macam dengan diriku! aku tidak tertarik dengan wanita seperti kamu. jauh-jauh sana." Cetus Revaldi tanpa perduli kepada wanita penggoda itu.
Elena merasa kesal, baru kali ini dia di tolak oleh seorang lelaki.
Sebelumnya dia pasti bisa mendapatkan lelaki manapun yang ingin dia dekati...
tidak heran jika dia selalu mendapatkan apa yang dia mau, karena paras cantik dan bentuk tubuh yang indah terawat membuat mata lelaki jatuh dalam keindahan Elena.
akan tetapi dia merasa tidak cantik lagi karena hari ini dia di tolak oleh seorang lelaki yang berada di dekatnya....
"Sulit sekali mendekati tuan muda ini, padahal dia pasti banyak duit..." Lirih Elena, pandangannya tidak lepas dari wajah tampan Revaldi yang tengah fokus mengendarai laju kendaraan.
"Astaga, jika aku tidak segera membawa wanita ini keluar dari mobil, maka dia akan terus menatapku dan kembali menggodaku..." ucap Revaldi dalam hati.
pandangan Elena membuat dia merasa tidak nyaman, bahkan sering kali Revaldi melihat dia tersenyum gila.
__ADS_1
"Sekarang kamu turun..."
"Kenapa disini? bukankah tadi kamu bilang kita akan ke cafe? lalu kenapa kita turun di taman. bisa-bisa kulitku hitam karena disini pasti banyak debu..." Elena meracau sesuka hatinya tanpa di respon sedikitpun oleh Revaldi.
"Tuan muda, tunggu saya......" Ucap Elena yang masih berada di dalam mobil.
"Wanita ini sungguh menyusahkan." Kesal Revaldi dengan menghentikan langkah.
"Aduh kakiku sakit..." Manja Elena.
"Tidak usah manja, nanti aku akan membayarmu dua kali lipat.." Cetus Revaldi dengan fokus pada layar ponsel.
"Benarkah? kalau begitu rasa sakitku sudah hilang." Elena menyunggingkan senyum.
"Menyebalkan...!" Elena mendengus kesal.
"Revaldi, disini." Teriak seorang lelaki yang berada tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
"Hey...." Revaldi melambaikan tangan, lalu berjalan mendekati lelaki itu.
"Jadi dia orangnya?." tanya Joe.
"Hem...tapi kamu harus hati-hati, dia bagaikan ular berbisa yang kapanpun bisa mengigitmu." Cetus Revaldi sembari duduk di samping Joe.
"Jahat sekali! kalau tuan Re tidak mau bagaimana dengan kamu....?" Elena mendekati Joe seraya mengedipkan mata.
__ADS_1
"Hah....boleh juga kamu" Pandangan kagum terlihat jelas di mata Joe, namun sebelum dia tenggelam jauh dalam hal kotor, Revaldi pun menjitak kepalanya.
"Fokus sama rencana awal, bodoh!." Kesal Revaldi.
"Bercanda Re, janganlah marah."
"Tuan muda memang lelaki yang tidak mudah tergoda. dia bahkan tidak melirik diriku yang cantik ini...." Sambung Elena dengan duduk di pangkuan Joe.
"Tapi kalau kamu seperti ini, maka aku tidak kuat..." Joe menyentuh dagu Elena.
"Ehem..." Revaldi berdiri "Kalau kamu tidak ingin uang, maka kalian bisa lanjutkan adegan gila ini."
"Jangan! saya butuh uang itu. kalau begitu apa yang harus saya kerjakan?." ucap Elena penuh permohonan.
"Kalau begitu kalian harus fokus dengan rencana kita, bukan malah saling menggoda!."
"Hehe, santai bentar Re, biar otot syaraf tidak tegang." Sambung Joe, dengan melempar senyum.
Revaldi menggelengkan kepala, akan tetapi dia yakin bahwa dia tidak salah memilih wanita, bahkan baru saja bertemu Joe sudah terjatuh dalam perangkap wanita bayaran itu.
"Kalau begitu kita mulai dari titik mana Re..?"Tanya Joe.
Revaldi menjelaskan semua rencana yang sudah dia susun.
mereka semua mengerti apa yang harus mereka lakukan....
__ADS_1