
Bernaung di bawah lamunan....
Suasana hati Tasya saat ini benar-benar buruk. Semua hal tentang Rikardo kembali muncul dan menghancurkan bahagia yang baru saja dia mulai kembali.
Tasya tidak memungkiri bahwa semua kejadian ini terjadi atas kehendak sang Kuasa, namun di samping itu, ia juga sangat merasa bersalah.
Ternyata selama ini suami yang dia nilai bahagia, dan baik-baik saja menyimpan banyak luka.
Air mata kesedihan perlahan terjun dari mata indahnya, terbayang saat Rikardo tengah tersenyum dan berjuang keras untuk dirinya dan juga Revaldi.
Namun senyuman itu ternyata hanya sebuah alat untuk menutupi rasa sakit dalam dirinya.
"Sayang kamu makan dulu..." Lirih Riko dengan menyuapi Tasya.
Namun Tasya masih tidak merespon. Ia menatap kosong pandangan lurus di sekitar ruang rawat.
Hanya bayangan cahaya kelabu yang mampu menyapu perlahan bola matanya, Suara di dekatnya hanya bagaikan sebuah angin lalu.
Pandangan Tasya benar-benar kosong.
Tidak ada sesuatu hal yang membuat dia ingin kembali bangkit dari belenggu sepi.
"Tasya..." Riko mengusap perlahan lengan sang istri.
__ADS_1
"Tasya, aku mohon jangan larut dalam semua ini. Cepatlah sadar sayang." Riko memeluk Tasya.
Di saat bersamaan datanglah seorang lelaki yang tidak lain adalah Revaldi.
"Mami masih seperti ini?." Ucap Revaldi lalu melangkah menghampiri kedua orang tuanya.
"Revaldi...." Riko melepaskan pelukan, lalu ia duduk di samping Tasya untuk menjadi sandaran bagi beratnya beban yang Tasya hadapi saat ini.
"Mami...." Revaldi mencoba menghuyung tubuh ibundanya dengan mencoba memecah lamunan.
Tasya tidak menjawab, ia hanya menatap wajah Revaldi.
Entah apa yang dia pikirkan saat ini, tatapan itu seolah penuh arti dan makna tersirat.
Mendengar kata itu, seketika Tasya tersadar.
"April...." lirih Tasya.
"Iya, Mami harus segera bangkit dari semua ini. Ketahuilah, jika masih ada April dan juga Aku yang membutuhkan bahu Mami. karena bagi kami seorang anak, tidak ada tempat paling indah untuk berbagi keluh kesah selain pada bahu Mami." Usapan perlahan pada pipi ibundanya, membuat Revaldi sakit.
"Maafkan Mami..." Lirih Tasya, ia meraih tubuh Revaldi lalu memeluknya.
"Hal seperti ini yang sangat aku rindukan dari Mami." Lirih Revaldi.
__ADS_1
Melihat Istri dan Anaknya saling berpelukan, membuat Riko menangis haru.
Semua ini adalah kesalahanku!
jika saja dulu aku tidak melakukan hal buruk pada Tasya, maka dia tidak akan bernasib seperti ini.
Bahkan jika saja aku mau bertanggung jawab atas apa yang telah aku lakukan, maka dia tidak akan pernah bertemu dengan Rikardo.
Dan jika saja aku bisa mengendalikan Hasrat dalam diri ini, maka kehidupan Tasya tidak akan menderita seperti ini.
Hadirnya aku dalam hidup Tasya, hanya membawa sebuah penderitaan yang mendalam.
Oh Tuhan, semua ini sungguh salahku!.
Semua penyesalah dalam diri seolah membawa Riko dalam lautan kesedihan.
Perbuatannya di masa lalu berujung sakit.
Semua tingkah lakunya perlahan di ikuti Karma, dimana Karma tersebut tidak hanya dia rasakan sendiri, melainkan juga berdampak pada Anak dan juga Istrinya.
"Aku keluar dulu..." Riko hendak melangkah keluar, namun secepat kilat Revaldi meraih lengan Riko lalu menatap penuh arti mata Ayah kandungan tersebut.
"Papa tetap temani Mami. ajak Mami sekedar berkeliling lingkungan Rumah sakit ini. Biar aku meminta ijin pada pihak medis. Kalian keluarlah dulu, nanti aku menyusul." Revaldi bangkit dari duduknya lalu segera berlalu.
__ADS_1