
Tiba hari dimana saatnya jiwa baru menghiasi dunia. Suara tangis menjadi sebuah bahagia bagi seorang yang telah lama menunggu.
Kehadirannya bagaikan malaikat kecil tak bersayap, wajah manis, suci, putih bersih, terlihat jelas dari wajahnya.
Jiwa baru menjadikan kehidupan baru yang layak di sempurnakan.
Sebelum kehadirannya sempat membuat kegelisahan, namun setelah kelahirannya, ia mampu membangun sebuah kekokohan diri dalam derasnya air mata bahagia.
Jantung berdetak perlahan saat tubuhnya di letakkan pada dada sang ibunda.
Menggelinjang kaki mencari tempat untuk berpijak di dunia ini.
" Selamat datang anakku." Bisik Revaldi pada bayi lelaki yang ada di sebelah ibundanya.
" Sayang, terima kasih atas perjuangan kamu selama ini." Lirih Revaldi sembari menyibakkan rambut Criztine yang terurai berantakan.
" Mas." Perlahan Criztine membuka mata, rasa sakit menjalar hingga ke seluruh tubuh.
Samar-samar terlihat senyuman di bibir seorang lelaki, yang tidak lain adalah Revaldi.
" Coba kamu lihat, buah hati kita sudah melihat dunia."
Criztine melihat sang buah hati tengah tertidur di sampingnya. Nampak murni bocah kecil itu, hingga membuat butiran permata tumpah ruah menggambarkan betapa bahagianya diri Criztine saat ini.
" Selamat datang sayangku." Ucap Criztine menyambut sang malaikat kecilnya.
__ADS_1
Di tengah perbincangan di antara mereka tiba-tiba datanglah seseorang tiga lelaki tampan dan juga dua gadis cantik.
" Kalian?." Seketika Revaldi terkejut atas kedatangan para sahabat beserta pasangan masing-masing.
" Hal pertama yang ingin kami lihat akhirnya terwujud." Cetus seorang lelaki.
" Maksud kamu apa Le?." Revaldi menatap penuh tanda tanya.
" Baru kali ini kita melihat Tuan muda kita ini menangis di depan seorang wanita. sungguh pemandangan yang langka." Sambung Dimas sembari mendekat.
" Iya, ternyata di balik kerasnya sifat mu, masih terselip kelemahan." Ucap Jimmy.
" Kalian sengaja menggoda ku di saat seperti ini?." Revaldi memeluk para sahabatnya.
" Selamat Re, kamu sudah menjadi seorang ayah. Semoga kelak dia tidak sekeras dirimu." Candaan mulai memenuhi ruangan tersebut.
" Terima kasih, kamu sudah datang kemari." Lirih Criztine.
" Hey, bukankah dulu aku pernah berjanji, jika kamu lahir aku akan menyapa santun dirimu nak?." Leo mendekati bayi lelaki tersebut.
" Selamat datang sayang." Leo menggendongnya dengan penuh kasih.
Cubitan halus pada hibung anak tersebut, membuatnya menangis. Bukan karena sakit, melainkan ia terkejut dengan apa yang di lakukan Leo.
" Kamu apakan anakku Le?." Lirih Criztine.
__ADS_1
" Aku hanya ingin dia melihatku." Tatapan Leo fokus pada wajah sang bayi.
" Tenang saja. Dia itu seorang Dokter, dia pasti bisa menangani seorang anak kecil yang sedang menangis." Sambung Dimas dengan mendekat pada Leo lalu mengusap lembut wajah bayi tersebut.
" Dia memang Dokter, tapi dia bukan Dokter beranak." Cetus Revaldi.
" Tapi setidaknya aku pernah menggendong bayi juga." Jawab Leo.
" Mohon maaf, bagi kalian yang bukan pihak keluarga di harapkan keluar, Karena pasien masih harus banyak istirahat." ucap Seorang suster.
" Kita keluar dulu, biar para wanita yang tinggal di dalam." Ajak Revaldi.
Mereka berempat keluar dari kamar rawat.
Revaldi membawa mereka berjalan melewati lorong rumah sakit.
Hingga pada akhirnya Revaldi menunjuk sebuah taman di sebelah rumah sakit.
" Kalian tau dari mana jika Criztine melahirkan?."
" Dari Dia." Ketiga sahabatnya saling menunjuk satu dengan yang lain.
" Kalian masih saja seperti ini."
" Bercanda Sob, kita datang kemari karena ada seseorang yang memberi tau kami." ucap Jimmy.
__ADS_1
" Iya, salah satu Dokter disini adalah sahabatku. Dia memberi kabar kepadaku satu jam setelah Criztine melakukan operasi." Jelas Leo.