
Keesokan pagi, Tasya terbangun dari tidur indahnya. ada rasa nyeri yang tak tertahankan yang membuat dirinya sulit untuk berjalan....
"Semua ini di sebabkan oleh si mesum itu..." Tasya menggerutu kesal.
langkah kakinya terasa sangat berat, rasa sakit menjalar ke seluruh tubuh bawahnya.
saat dia hendak menuju kamar mandi, tiba-tiba mata Tasya tertuju pada sebuah kotak yang berada di meja rias, tanpa pikir panjang Tasya pun meraih kotak tersebut.
"Sebenarnya apa isi kotak ini? dan siapa pengirimnya?." Tasya membolak-balikkan kotak tersebut sebelum dia membukanya.
karena dia sudah tidak bisa menahan diri, dia pun membuka kotak itu. satu demi satu kertas hitam mulai dia sobek, sungguh tebal memang balutan plastik itu. Tasya merasa jengkel, akhirnya dia mencari gunting setelah dia mendapatkannya, tanpa menunggu lama kotak itu bisa terbuka dengan cepat...
saat dia hendak meraih kotak terkecil di dalam, tiba-tiba ada sebuah kertas yang terselip di kotak kecil itu,Tasya pun membuka isi surat tersebut....
__ADS_1
Tersenyumlah matahariku.
Hanya ucapan singkat yang tertulis di lembaran tersebut, tanpa ada nama dari pengirim atau tanda lain yang dapat Tasya temukan sebagai tanda pengenal.
Saat Tasya hendak membuka kotak, dia melihat ada seikat bunga layu yang tergeletak di atas meja, dia merasa tidak asing dengan bunga itu, Tasya meraih bunga itu dan menghitung banyaknya jumlah tangkai yang berada disana.
saat Tasya menghitung, ada rasa sesak di dalam hati, dia kembali terkenang akan sosok lelaki yang sangat mencintai dirinya.
"Jumlah tangkai ini sama seperti yang sebelumnya, apakah mungkin lelaki yang aku lihat itu adalah...." Tasya terdiam sejenak, kembali menata hati dan meyakinkan dirinya untuk sekedar kembali mengingat sosok Rikardo. ada kesamaan dalam paras mereka, namun Tasya merasa bimbang dengan apa yang saat ini dia pikirkan.
"Dia memang suamiku, dan ini bukti bahwa dia benar-benar masih hidup...." Tasya tersenyum bahagia, walaupun saat ini di dalam hati dia meyakini bahwa Rikardo sudah berpulang.
namun siapa yang tidak bahagia jika akan ada sosok yang sama persis seperti sang suami.
__ADS_1
Tasya segera menuju kamar mandi, dan dalam sekejap rasa sakit dan nyeri di tubuh Tasya hilang begitu saja.
"Aku akan menemukan kamu mas, tunggu aku. aku akan kembali pada dirimu." lirih Tasya.
Kebahagiaan yang saat ini menghampiri diri Tasya, membuat dia buta akan segala hal yang sudah dia saksikan sendiri...
padahal sudah begitu jelas baginya untuk yakin bahwa sosok lelaki itu bukanlah Rikardo, mungkin selama ini dia hidup dalam rasa bersalah yang dalam atas diri Rikardo, hingga membuat dia tidak sadar bahwa semua itu hanya sebuah tipuan semata.
Tasya yang sudah tenggelam dalam bahagia, tidak perduli dengan bisikan hati kecilnya. dia pun merias wajah hingga secantik mungkin.
Tanpa perduli dengan Riko yang masih terkapar di atas kasur, dia pun pergi begitu saja tanpa pamit....
"Aku harus mencari kamu dari tempat pertama kali aku melihat dirimu..." Lirih Tasya dengan mengendalikan stir kemudi.
__ADS_1
Entah apa yang merasuki Tasya saat ini, yang pasti dia sangat tergila-gila dengan lelaki yang mempunyai paras yang sama persis seperti Rikardo.
"Aku akan kembali memperbaiki semua kesalahan yang selama ini aku lakukan. terima kasih Tuhan Engkan telah memberikan aku kesempatan untuk penebusan dosa-dosa atas apa yang telah aku perbuat selama ini." senyuman indah terlihat jelas di bibir Tasya, niat dan tekatnya membuat dirinya kehilangan akal sehat.