
Terpuruk dalam duka mendalam.
Riko bersimpuh di atas makam Ayah tercinta. air mata membasahi pipi.
" Ayah, maafkan aku."
" Percuma kamu menangis, karena selama kamu bersama wanita itu, maka keluarga kita semakin menderita." Cetus nyonya Hendardi.
" Kenapa Mama menyalahkan Tasya? semua ini adalah takdir." jelas Riko sembari mengusap air matanya.
" Coba saja jika dia tidak mempermalukan Ayah kamu, maka saat ini beliau masih ada bersama kita." amarah meluap seiring dengan air mata yang jatuh di atas makam sang suami.
" Cukup! jangan lagi menyalahkan istriku. Dia tidak bersalah." Ucap Riko dengan nada tinggi.
Emosi meledak saat Riko tidak terima jika Tasya di salahkan atas kematian Ayahnya.
" Mau kemana kamu? kita harus membahas hal penting di rumah."
Riko tidak menghiraukan ucapan dari ibu tirinya tersebut, emosi telah kembali menguasai dirinya.
" Kenapa semua ini terjadi kepada keluargaku,
Aku harus bagaimana?." Stir kemudi menjadi sasaran amarah Riko.
Mobil melaju dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit, dimana anak menantunya melahirkan.
__ADS_1
" Mas." Tasya berlari, ia memeluk erat tubuh suaminya tersebut.
" Semua salahku. Maafkan aku atas semua ini." lirih Tasya.
" Sayang, aku tidak menyalahkan kamu. Kita bahas ini nanti saja, karena saat ini kita harus tersenyum bahagia untuk jagoan kecil Revaldi." Mata Riko berbinar ketika di lihatnya anak lelaki tengah menggendong seorang bayi kecil.
" Mas, tapi aku sungguh..."
Stttt...
" Cukup sayang, mari kita sambut cucu pertama kita." Riko menggandeng lengan Tasya.
" Selamat datang Revaldi junior." Riko mengusap kepala cucu pertamanya." Jadilah engkau anak yang berbakti."
" Kalian sudah memberinya nama?." Tanya Riko dengan mengambil alih tubuh bayi kecil itu.
" Belum Pa, kita masih mencari nama yang sesuai untuknya." sambung Criztine.
" Bagaimana kalau kamu yang kasih nama cucu kita ini Mas?." Ucap Tasya sembari mendekat pada diri suaminya.
Tak lupa ia mencium pipi cucu pertamanya tersebut.
" Dirham Arka Hendardi."
" Nama yang bagus." Ucap Revaldi.
__ADS_1
" Bagaimana menurut kamu sayang?." Revaldi mengusap kepala sang istri perlahan.
" Aku setuju mas, nama yang sangat indah." Criztine menatap wajah Revaldi penuh dengan kebahagiaan.
Semua perjuangannya selama ini telah terbayarkan.
Kelahiran anak pertama membuat lengkap keluarga kecilnya.
" Sya, coba kamu lihat mata dan bibir anak ini, sangat mirip dengan Ayahnya."
" Tentu saja. karena ini memang anaknya Revaldi." ucap Tasya.
" Re, bisa kita bicara di luar?." Riko menatap mata sang anak penuh dengan kegelisahan.
Revaldi menatap wajah sang istri lalu mendapatkan ijin oleh kode mata Criztine.
Tak lama mereka keluar ruangan lalu menuju sebuah taman di dekat rumah sakit.
" Re, sekarang kita mengalami banyak masalah yang harus kita hadapi, bahkan kita mengalami kebangkrutan. Apakah kita masih akan bertahan disini?." Seolah pasrah atas semua kejadian yang telah menimpa dirinya beserta keluarga.
" Aku juga tidak tau harus bagaimana, tidak ku sangka Farhan mampu menumbangkan keluarga kita sampai sejauh ini. Jika bertahan kita sulit, bagaimana jika kita kembali ke Indonesia saja? disana kita masih ada beberapa perusahaan cabang yang masih berdiri kokoh sampai saat ini." jelas Revaldi.
" Tapi apakah nanti tidak membuat Mami depresi lagi? karena baru saja dia bangkit dari semua ini." Berat bagi Riko untuk kembali menjalani kehidupan baru di tempat dimana sang istri banyak mengalami kesedihan.
" Lalu apa yang harus kita lakukan di Nagara ini? sedangkan kita sendiri sudah tau, jika kita berada di sini belum tentu semua warga disini menerima kita seperti sedia kala."
__ADS_1