HASRAT3

HASRAT3
Ep 70


__ADS_3

Mereka bertiga masih saling tertawa lepas dengan semua banyolan khas mereka.


Dimas merasa lega bisa berada di tengah mereka seperti sebelumnya, meski sekarang Revaldi dalam kesulitan dan mereka sepakat untuk membantu. Dari uluran tangan merekalah Revaldi perlahan bangkit lalu mampu mengembangkan bisnis dengan sangat pesat. Di sela sela pembicaraan mereka datanglah sosok Jimmy dengan membawa buah tangan....


" Sorry, sob. Gua telat...." Ucap Jimmy seraya duduk di samping Revaldi.


" Kemana aja Lo?" Cetus Dimas dan langsung di sambut pertanyaan Leo.


" Pasti dia sibuk sama bininya..."


" Nggak gitu juga kali. Tadi jalanan macet banget, sepertinya ada kecelakaan tunggal gitu sih." Jelas Jimmy dengan segera meletakkan buah tangan di meja Revaldi.


" Apa ini?" Tanya Revaldi.


" Minuman menyegarkan..." Jimmy menyeringai melihat ketiga sahabatnya menatap tajam dirinya.


" Gila Lo, ya, jangan bilang ini Wine?" Segera Leo membukanya dan ternyata hanya sebuah susu bayi.


Jimmy tertawa terbahak melihat wajah ketiga sahabatnya itu....


" Kalian pikir Gua berani bawa barang kek gitu ke sini, bisa di gantung Criztine gua nanti..."


" Bini gua denger bisa abis Lo..." Ucap Revaldi.


" Lagi ngomongin aku, ya?" Tiba tiba saja Criztine berdiri tepat di belakang Revaldi tengah memegang botol susu.


" Eh, sayang. Kita nggak ngomongin kamu kok, ya nggak sob?" Wajah Revaldi terlihat kecut, takut istrinya marah.

__ADS_1


Criztine melipat tangan dengan menatap wajah keempat lelaki di hadapannya tersebut...


" Kita nggak lagi ngomongin kamu kok. Tadi itu Jimmy bawa susu buat si imut...." Sambung Dimas dengan memberikan buah tangan yang di bawa Jimmy.


Revaldi menjentikkan jari....


" Nah, maksud aku tadi begitu, sayang." Timbrung Revaldi dengan berjalan mendekati istrinya. " Senyum dong..."


" Kalian kalau sudah kumpul seperti ini pasti ada sesuatu? pasti kalian merencanakan hal buruk..."


" Nggak kok Criz. Selama ada pak Dokter kita tidak berani macam macam." Sambung Jimmy dengan merangkul Leo.


" Iya sih Dokter, tapi dia juga sama gilanya seperti kalian." Sebelum pergi, Criztine lebih dulu mengetuk kening suaminya.


" Sayang kami boleh ke luar, ya?" Ucap Revaldi.


" Criz....nitip anak Gua, ya?" Teriak Dimas sebelum mereka semua keluar.


" Dasar mereka itu..." Lirih Criztine seraya memberi susu botol untuk anaknya.


Di samping itu Gilang asik bermain dengan ponselnya, memainkan game kesukaannya.


" Anak jaman sekarang lebih nyaman dengan ponsel dari pada kedua orang tuanya..." Ucap Criztine dengan menatap wajah polos Gilang.


Di sisi lain....


Mereka berempat menuju tempat di mana mereka berkumpul dulunya. Sebuah Club ternama di kotanya.

__ADS_1


" Sob, seperti biasa ya...." Ucap Jimmy pada seorang pemilik Club yang juga sahabat mereka.


" Oke deh, siap." Satu ruang VIP di siapkan tanpa adanya aroma dari wanita penghibur.


Mereka duduk menunggu kesiapan ruangan itu dengan sesekali melihat sekeliling...


" Banyak yang berubah dari tempat ini. Tata meja dan nuansa di dalamnya membuatku merasa sedikit asing." Revaldi melihat setiap perubahan dari raungan itu.


" Maklum lah kita udah punya kehidupan sendiri sendiri, dan kita punya pengawal kejam yang siap mencambuk kapan pun mereka mau." Ucap Dimas.


" Iya, benar. Mereka para istri selalu saja marah tidak jelas." Sambung Jimmy.


" Emang Lo udah nikah? bukannya masih nunggu restu ya...hahaha" Ucap Leo sembari merangkul Jimmy yang terlihat muram.


" Sial Lo.." Kesal Jimmy dengan mengibaskan tangan Leo.


" Nikah itu proses bukan bagaimana dan kapan. Nikah itu butuh bukti tidak hanya janji..." Jelas Jimmy.


" Tumben otak Lo encer..." Seorang datang membawa sebuah kunci ruangan yang telah di pesan. " Biasanya dia kesini dua hari sekali..." Ucap pemilik Club.


Sttttt...


" Udah deh jangan ngebully Gua terus, mending kita masuk yuk..." Segera Jimmy menghampiri pemilik Club, mengambil kunci lalu menyempatkan menginjak kakinya.


" Aw....sakit, bodoh."


" Kita masuk dulu ya, sob..."

__ADS_1


__ADS_2