
Dengan panik, Riko berlari menuju kamar April...
" April, ada apa sayang?."
" Ada itu...." April berlari ke arah Riko lalu bersembunyi di balik badan Ayah tirinya.
" Ada apa sih?." Tasya ikut mencari hal yang membuat putrinya menjerit ketakutan.
" Aku juga tidak tau sayang..." Lirih Riko.
" Itu, di sebelah sana..." April terus bersembunyi di balik badan Riko.
Meski usianya sudah menginjak empat belas tahun, namun dia adalah anak gadis yang selalu bermanja dengan Ayah dan maminya.
" Astaga, ini hanya sebatang kayu..." Riko menggapai potongan kayu warna hitam yang terletak di bawah tempat tidur.
" Ku kira itu ular..." April keluar dari balik badan Riko.
" Dasar kamu ini..." Tasya mengetuk kepala April. " Lain kali jangan membuat Ayah dan Mami panik lagi..." Tasya mewanti-wanti April.
" Sudahlah....mungkin dia terkejut. Sekarang Ayah mau keluar bertemu dengan teman lama Ayah, siapa mau ikut."
Tidak ada satu pun diantara mereka yang menjawab atau merengek ikut dengan Riko...
" Jadi kalian tidak mau ikut Ayah....?."
Tasya merangkul pundak putrinya.
__ADS_1
" Tidak, tidak, tidak!." Ucap mereka serempak.
" Astaga, kalian sangat membuat hati Ayah hancur...." Riko sengaja terlihat sedih di depan putrinya.
" Ayah...." April mendekati Riko. " Maafkan kami."
Riko melihat wajah April, lalu tersenyum padanya...
" Kamu tertipu..." Di ketuk pelan kepala April.
" Ayah jahat! Mami, Ayah menipu ku lagi...." Ucap April dengan nada manja.
" Biar nanti Mami hukum Ayah kamu itu..." Tasya mengusap kepala putrinya.
" Mami...." April meraih tangan ibundanya. " Bolehkah aku ke rumah kak Criz? nanti aku pulang minta antar kakak. Boleh ya?."
" April sudah dewasa Mami. Jadi kalian tidak perlu khawatir..." April mengeluarkan ponsel.
Entah apa yang sedang dia lakukan dengan ponsel itu, namun setelah beberapa saat kemudian datanglah ojek online.
" April pergi dulu..." kebahagiaan terpancar dari wajah anak gadisnya yang sangat cantik dan imut.
" Dia benar-benar mirip sekali dengan kamu..." Ucap Riko dengan melihat kepergian April.
" Maksudnya?." Tasya menatap tajam mata suaminya.
" Kamu dan April adalah malaikat penjaga hati ku dan kalian juga bisa menjelma menjadi malaikat pencabut nyawa, sehingga kapan pun dan dimana pun, kalian akan selalu mengikuti diriku."
__ADS_1
" Gombal aja terus...." ucap Tasya.
" Sya, kamu ikut ke Reuni ya..." Riko memohon dengan bersimpuh di hadapan istrinya.
" Ih...apaan sih mas." Tasya membantu Riko berdiri. " Tidak perlu merendahkan harga diri demi untuk membujuk ku. Karena aku lebih terbiasa dengan Tuan Riko yang suka memaksa...."
" Apa kamu bilang?." Riko mencubit hidung Tasya. " Lihat saja nanti, aku akan memaksa kamu seperti dulu..." Tangan Riko mulai bergerak menjalar.
" Mas, jangan." Tasya menghentikan gerakkan dari tangan Riko.
" Aku ingin kamu sekarang juga....!" Riko segera membopong tubuh Tasya menuju kamar mereka.
" Biar aku tunjukkan betapa hebat suami kamu ini...." Riko melempar tubuh Tasya ke atas ranjang.
" Ah..." Tubuh Tasya tersentak ketika Dia di lempar ke atas ranjang.
" Sepertinya kamu tidak bisa melakukannya mas..." Lirih Tasya.
" Maksud kamu?." Riko berhenti melakukan aktifitas di tubuh istrinya.
Pipi Tasya nampak merona, ia membisikkan sesuatu kepada Riko...
" Benarkah? jadi kamu sedang palang merah? astaga, sial sekali nasib ku ini." Riko nampak kecewa.
Ia pun mengacak rambutnya....
" Kenapa dia datang di waktu yang tidak tepat? sungguh menyebalkan!."
__ADS_1