Hati Istri Yang Di Madu

Hati Istri Yang Di Madu
Bab 13 Kesabaranku sudah habis


__ADS_3

Hari-hari ku lalu dengan menyibukan diri, menjadi seorang chef handal memang tidak mudah.


Bukan karena masakannya kurang enak atau penyajiannya tak menarik. Tetapi banyak orang yang tidak suka atau merasa tersaingi dengan prestasi yang aku raih.


Aku hanya bisa menghela nafas berat tetapi aku berusaha propesional dalam bekerja. Walau akhir-akhir ini aku selalu mendapat sanjungan dari teman-teman dapur atau para pelanggan. Tetapi, itu semua tak membuat aku merasa bangga. Karena di balik sanjungan yang aku dapatkan ada orang yang tidak menyukaiku dan itu membuatku tidak nyaman dalam bekerja.


Sudah satu bulan lebih aku bekerja dan kehadiranku membuat omset pendapatan lestoran meningkat. Bahkan para pengunjung semakin penuh setiap harinya apalagi anak-anak yang selalu memesan makanan yang menginginkan suasana berbeda.


Aku selalu melakukan hal yang terbaik semampu aku bisa, tetapi di balik perjuanganku ada orang yang tidak menyukaiku.


Seperti saat ini, seorang pelanggan begitu marah karena pesanannya tidak sesuai dengan apa yang dia pesan. Padahal aku sudah membuat sesuai dengan pesanannya. Hanya saja rasanya yang berbeda dan itu tentu membuat aku juga bingung. Tetapi, aku hanya bisa diam mendengar omelan itu.


"Sial, siapa yang membuat masakan seperti ini, hah. Apa kalian ingin meracuniku!"


"Cepat bawa orangnya kesini, dasar tidak becus."


"Cih, makanan ini tidak cocok ada di restoran ini."


"Hey, kenapa kau diam hah. Suruh chefnya kesini!!! "


Aku memejamkan kedua mataku dengan tangan mengepal erat. Habis sudah kesabaranku kali ini. Dari tadi memang aku diam di ambang pintu. Tetapi, melihat orang sombong itu menunjuk-nunjuk mba Ani membuat aku tak terima.


Dadarhku mendidih seenaknya saja orang itu merendahkan dan memarahi mba Ani.


"Hey, kenapa kau diam. Dasar pelayan rendah, "


"Cepat suruh chef gak becus itu kesini!!!"


"Hey, apa kau tuli ...,"


"Cukup!!! "


Teriakku lantang dengan mata berapi-rapi menatap tajam manusia sombong itu.


Aku menarik mba Ani kebelakang punggungku yang sudah menangis.


"Bukankah anda orang yang berpendidikan.Cih. Bisakah anda tak merendahkan orang hanya satu kesalahan,"


"Hey, siap kau. Beraninya ikut campur ..,"


"Saya. Orang yang anda cari! "


"Ha ..., oh jadi kau orang yang memasak makanan yang membuat tenggorokanku sakit."

__ADS_1


"Kalau iya memang kenapa? masalah, mau marah silahkan. Tapi jangan kau rendahkan temanku. Bahkan temanku lebih baik tuli dari pada anda bermulut naga."


Ucapku menggebu tidak takut sama sekali walaupun aku harus di pecat. Ku lihat orang sombong di hadapanku menatap tajam padaku tetapi aku tidak peduli dan tidak takut.


"Siapa pemilik restoran ini, kenapa memperkerjakan chef bodoh. Harusnya dia tak menjadi chef di restoran terkenal ini."


"Dan lihat, harunya dia bersikap sopan sama pelanggan tetapi, cih. Dia malah menghinaku, "


"Hey, Tuan. Apa masalah anda kenapa membesar-besarkan masalah. Jika kau memang seorang pelanggan dan merasa di rugikan cukupkan untuk menyuruh mengganti menu atau ganti rugi."


"Atau ..., kau sedang berekting untuk mencemarkan nama baik lestoran ini! "


Kena kau! aku tersenyum seringai ketika melihat gelagat orang itu. Aku tidak takut sama sekali, bahkan perdebatanku membuat keadaan pelanggan yang lain tidak enak.


"Cih. lestoran ini benar-benar memiliki chef sudah bodoh tak sopan lagi bahkan menuduhku."


"Siapa pemilik restoran ini, aku ingin dia di pecat! "


"Maaf tuan, pemilik restoran ini sedang tidak ada di tempat, "


Aku mengalihkan pandanganku ketika mendengar suara chef Afdal. Memang sudah satu minggu chef Afdal lembali bekerja, membuat aku mundur karena chef Afdal sudah ada. Tetapi, karena kinerjaku aku masih di pertahankan apalagi selama satu bulan ini aku sudah menaikan dan meramaikan restoran ini.


Awalnya aku menolak tetapi pemilik restoran ini ingin aku tetap bekerja dan dia menyukai masakanku hingga setiap hari dia ingin aku memasak untuk menu makan siangnya. Sebenarnya aku tidak tahu wajah pemilik restoran ini apa dia sudah tua atau belum, apa laki-laki atau perempuan karena selalu Bagas yang menyampaikan pesannya dan Bagas pula yang mengambil menu makan siangnya.


"Saya minta maaf jika anda tidak nyaman dengan pelayanan kami. Kami bisa menyajikan menu lain mengganti menu anda dan itu gratis sebagai ucapan permintaan maaf atas kesalahan salah satu chef kami."


"Saya tidak mau itu semua, saya hanya ingin dia di pecat karena tak becus menyajikan masakan terbaik. Apalagi dia berani menghina dan menuduhku."


Aku menggretakan gigiku benar-benar kesal dengan omongan pak tua itu. Padahal chef Afdal sudah bicara baik-baik.


"Maaf pak, pemilik restoran kami tidak ada di tempat jadi saya tidak ada wewenang untuk memecat chef Laila."


"Pokonya saya tidak mau tahu telepon pemiliknya sekarang dan suruh dia di pecat."


"Ta ... "


"Chef,"


Aku memotong chef Afdal yang akan bicara lagi. Aku menyukai cara tenang chef Afdal dalam berbicara. Tetapi pak tua ini tidak ada rasa hormatnya, tetapi semakin menjadi kesombongannya. Aku tidak mau Gara-gara diriku semua orang kena imbasnya. Tetapi, perkataan pak tua ini masih aku tak terima menghina mba Ani.


"Tidak perlu menghubungi pemilik restoran ini. Saya yang akan mengundurkan diri. Tetapi, saya tidak terima anda menghina teman saya. Dan anda harus membayar hinaan itu."


"Untuk para pelanggan saya minta maaf karena sudah mengganggu kenyamanan anda, semoga anda mau memaafkan saya. Sebagai menebus rasa bersalah saya, saya yang akan membayar tagihan yang kalian makan termasuk bapak terhormat ini."

__ADS_1


Sesudah mengucapkan itu aku langsung pergi sambil menarik tangan mba Ani. Langkahku berhenti ketika berpapasan dengan Silvia. Lalu aku berjalan melewatinya begitu saja dengan keadaan kesal dan marah.


Wajah polos itu ingin aku menggorengnya biar dia menunjukan wajah aslinya. Sebenarnya apa masalahnya kenapa dia tidak menyukaiku. Apa karena aku yang di pilih membuat menu masakan untuk bos bukan dia. Cih. dan dia menggunakan cara kotor untuk mendepakku dari sini.


Tetapi dia tidak tahu bahwa karir ayahnya yang akan hancur.


Ku dudukan bokongku di kursi ruang khusus chef bersama mba Ani. Lalu aku merogoh ponselku yang ada di dalam tas menelepon seseorang.


"Assalamualaikum, paman."


"Waalaikumsalam, Nak. Ada apa? tidak biasanya menelepon paman. Apa Asma akan ke .. "


"Asma ingin paman memecat Chef Burhan, hari ini."


"Tetapi kenapa, Nak. Bahkan chef Burhan tidak masuk dan tidak melakukan kesalahan! "


"Dia sudah melakukan kesalahan sudah menghina sahabat Asma. Apalagi chef Burhan sudah mencuri beberapa resep lestoran kita. Asma tidak bisa Mentoleransi lagi, banyak kesalahan yang chef Burhan lakukan ketika paman tidak ada. Asma akan mengirim buktinya nanti bisa paman lihat."


"Baiklah kalau itu sudah kamu putuskan, paman tidak bisa membantah."


"Terimakasih, paman."


Aku langsung menyudahi panggilan dengan paman Hadi. Keningku mengerut ketika mba Ani memerhatikanku.


"Ada apa mba? "


"Mba tidak menyangka ternyata wanita penyabar bisa marah juga. "


Aku terkekeh mendengar godaan mba Ani, kirain aku apa. Aku diam bukan aku tak bisa melawan tetapi cukup dengan tindakan semuanya beres.


Aku hanya belajar dari kesalahanku di masa lalu dimana aku hanya menundukan kepala tanpa mau mengangkat.


"Maafkan Laila mba, karena Laila mba di hina."


"Jangan minta maaf, mba gak apa-apa. Justru kamu harus minta maaf pada Silvia, dia tidak salah tapi mendapat tatapan kekesalan kamu."


"He.. he.. maaf mba, sebelum pulang Laila akan minta maaf pada Silvia. Habis orang yang cari masalah dengan Laila ada di belakang Silvia sih."


"Kau ini."


Bersambung...


Jangan lupa Like dan Votenya Say... 😊😊

__ADS_1


__ADS_2