
Senyuman menghiasi bibirku ketika mendengar akhir dari keputusan suamiku. Aku sangat bahagia dia mau mengambil salah satu saran dariku, tepatnya bukan saran tapi dia memilih hidup damai dan nyaman. Semoga ini awal kebaikan dalam rumah tanggaku tanpa merasa takut di bayang-bayang ketakutan dan ancaman.
Dari tadi aku menunggu kepulangan suamiku karena sore ini kami memutuskan pulang ke Mansion. Meminta izin akan kepindahan kami kerumah ini, walau bagaimanapun bibi dan paman adalah orang tua ketiga bagiku setelah guruku.
Drummm....
Senumku semakin lebar tetkala mendengar suara mobil suamiku. Aku lantas bergegas keluar dengan senyum masih mengembang di bibirku.
"Assalamualaikum, sayang.. "
"Waalaikumsalam, Bang.., "
"Kelihatannya bahagia banget? "
Aku tersenyum kikuk mendengar ucapan suamiku. Aku meraih tas kerjanya lalu menggandeng tangan bang Andrian menuju kamar.
"Mulai nakal ya.., "
"Laila hanya ingin dapat pahala,"
Entah keberanian dari mana aku membantu bang Andrian membuka jas dan kemejanya lalu aku menaruhnya di ranjang baju kotor. Memang itu sudah jadi kebiasaan diriku ketika jadi istri mas Vandu dulu. Dan, kini bang Andrian suamiku maka aku yang harus berbakti padanya.
Aku duduk di samping bang Andrian yang sedang melepas sepatu dan kaus kakinya.
"Bagaimana pekerjaan hari ini? "
"Alhamdulillah, lancar berkat doa kamu! "
"Semoga Allah selalu mempermudah urusan abang, oh iya bagaimana tentang kasus paman abang? "
__ADS_1
"Abang sudah serahkan semuanya pada yang berwajib dan Bagas yang menangani semuanya."
"Sayang.., "
"Hm, "
Aku menatap manik mata suamiku yang sama menatap diriku juga. Dia membelai pipiku lalu mendaratkan sebuah kecupan di keningku.
"Apa kamu senang abang sudah menyerahkan semuanya?!"
"Alhamdulillah, Laila seneng. Karena tidak akan merasa takut nyawa abang dalam bahaya. Walau Laila tahu, kematian, rezki, jodoh tak ada yang tahu. Laila hanya ingin hidup nyaman dan aman bersama keluarga kecil Laila. Laila ingin mengabdikan hidup Laila pada abang, mencari ridho Allah pelantara lewat abang. Semoga abang meridhoi Laila, "
"Terimakasih karena sudah hadir di hidup abang, sekarang abang merasa lebih plong seakan tak ada beban di pundak abang ketika sudah menyerahkan urusan kantor."
"Alhamdulillah, abang tak menyesal? "
Aku tersipu malu mendengar ucapan bang Andrian, aku juga sudah memutuskan sebuah keputusan yang sangat besar sekali lagi aku putuskan.
"Sekarang abang tak akan pulang malam seperti sebelumnya, karena urusan abang hanya lestoran doang. Jadi abang akan pualang sore, sekalian bisa jemput kamu di lestoran. Kita bisa pulang dan berangkat bareng, "
"Tapi kayanya enggak deh bang! "
"Kenapa? "
Aduh gemesnya suamiku jika memperlihatkan wajah penasarannya. Matanya sudah sipit makin tidur aja.
"Laila sudah memutuskan untuk menyerahkan lestoran pada Bagas dan Wina! "
"Hah, "
__ADS_1
Aku menyerngit bingung dengan reaksi bang Andrian. Apakah dia tak setuju dengan keputusanku atau ada hal lain.
"Abang gak setuju ya, dengan keputusan Laila?"
"Eh, bukan sayang. Pantas saja Bagas tidak mau abang namanya masukin ke list pemegang saham. Nyatanya karena istriku bergerak cepat! "
"He.. he.. maaf bang, Laila kasian saja pada Wina karena harus bulak balik ke Bogor untuk mengecek lestoran yang ada di sana. Jadi kalau ada Bagas, biar Bagas saja yang mengecek ke sana gak usah Wina. Kasian kan Wina perempuan masa harus pergi jauh sendirian. Dan, tentunya Laila ingin pokus pada rumah tangga Laila, mengurus abang dan rumah kita,"
"Sama anak-anak kita lah sayang! "
Aku terdiam mendengar ucapan antusias bang Andrian. Hatiku merasa ada sesuatu yang tak bisa aku ungkapkan. Apa aku akan punya anak, aku tidak tahu. Walau diagnosa dokter Aira mengatakan aku subur dan mas Vandu yang mandul. Aku hanya takut berharap besar jika kemungkinan itu hanya sebuah harapan semu. Apa lagi aku belum mengecek kembali tentang keadaanku dan bang Andrian.
"Maaf sayang jika ucapanku menyakiti perasaanmu? "
Aku tersenyum melihat ketidak enakan bang Andrian.
"Tidak apa bang, Semoga saja Allah menitipkan malaikat kecil di rahim Laila. Tapi Laila tidak mau berharap besar, biarkan Allah yang memutuskan semuanya. Apa abang akan meni..., "
"Suttt, abang akan selalu ada buat kamu. Masalah anak kita serahkan saja pada Allah. Biarpun kita tak punya anak abang tidak masalah. Banyak cara menyempurnakan rumah tangga kita, abang di kasih kamu saja sudah bersyukur sangat sangat bersyukur. Maafkan abang jika mengorek lukamu kembali,"
Aku terharu mendengar ucapan bang Andrian. Aku berhambur kepelukannya dengan isak tangis keluar. Bang Andrian merengkuh diriku dengan penuh kasih sayang. Rasanya aku tidak menyangka dengan jawaban bang Andrian yang mampuh membuatku terharu. Dia tak menuntut apa-apa dariku, maka keputusanku tak salah. Akan ku serahkan seluruh hidupku untuk mengabdi padanya. Mencari keridhoan Allah pelantara baktiku pada suamiku.
"Sudah jangan menangis, ini mau hampir magrib. Kitakan akan ke rumah bibi! "
"Abang.., "
Bersambung.....
Jangan lupa Like dan Vote ya....
__ADS_1