Hati Istri Yang Di Madu

Hati Istri Yang Di Madu
Bab 60 Pamit, Pindah rumah


__ADS_3

Saking asiknya ngobrol dengan Fatimah aku sampai lupa pada suamiku sendiri.


Hatiku terenyuh melihat bang Andrian tidur di shopa membuat aku merasa bersalah begitupun Fatimah. Tapi aku berusaha membujuk Fatimah agar masuk kedalam kamarnya. Perlahan aku mendekat ke arah bang Andrian. Dia sunggun laki-laki pengertian yang aku miliki, dia lera tidur di shopa tak berani menegor dan mengganguku.


"Bang.., "


Di usapnya lembut sambil membangunkan bang Andian. Aku tersenyum ketika bang Andrian menggeliat tak nyaman. Perlahan kelopak matanya terbuka sambil menyipit.


"Sudah selesai curhatnya, sayang. "


"Hm, maafkan Laila. Ayo kita ke kamar, "


Aku membantu bang Andrian bangun sambil memapahnya ke kamar kami. Perlahan aku merebahkan tubuh bang Andrian yang terlihat linglung. Sepertinya bang Andrian benar-benar mengantuk.


Buktinya bang Andrian langsung tidur menyamping membelakangku. Aku menarik selimut guna menyelimuti tubuhnya.


Cup...


Kecupan singkat aku daratkan di pelipisnya hingga aku langsung bergegas ke kamar mandi guna mengambil air wudhu dan mengganti pakaianku dengan baju tidur.

__ADS_1


Aku merangkak naik ke atas ranjang, masuk ke dalam selimut yang di pakai bang Andian. Aku merapatkan tubuhku ke tubuh bang Andrian. Perlahan tapi pasti aku sudah ada dalam pelukannya. Jika tapi bang Andrian memeluk guling sekarang aku yang di peluknya aku aku berhasil menyingkirkan guling mati ini.


Tak butuh waktu lama untuk aku menyelam ke alam mimpi semoga hari esok adalah hari yang baik dari sebelumnya.


Aku menggeliat merasa tak nyaman dalam tidurku. Apalagi pipiku terasa dingin oleh usapan lembut bang Andrian.


Jam berapa sekarang, rasanya baru tadi aku tertidur kenapa bang Andrian membangunkanku.


"Sayang bangun, tahajud yuk. "


"Hm, Laila lagi dapet bang, "


Sayup-sayup aku mendengar suara lantunan ayat suci Al-quraan, walau belum faseh tapi aku bahagia bang Andrian dengan cepat sudah bisa membaca sambung bukan eja-ejaan lagi. Perubahan luar biasa membuat aku benar-benar bersyukur karena bang Andrian berubah.


Aku memang sudah bangun tapi kedua mataku malas untuk di buka. Tapi telingaku begitu jelas mendengar suara bang Andrian yang masih mengaji sampai adzan subuh berkumandang.


Perasaan yang tak bisa aku jelaskan dengan kata. Mungkin aku menginginkan suami sempurna begitupun dengan kalian. Tapi aku sadar, bahwa tak ada kesempurnaan di dunia akhir zaman. Kesempurnaan hanya milik Allah dan kekasihnya, Rosulullah.


Tapi Allah memberi apa yang kita butuhkan, untuk saling melengkapi dan menutupi aib satu sama lain.

__ADS_1


Bang Andrian yang lembut dan penuh kasih, mampuh menyembuhkan luka dan mendatangkan rasa yang berbeda. Dia datang masuk kedalam kehidupanku untuk menyembuhkan luka yang tertolerkan.


Aku duduk di samping bang Andrian tanpa bang Andrian lepaskan genggaman tangannya.


Aku hanya jadi pendengar setia, di setiap kata yang bang Andrian sampaikan tentang rencana perpindahan kami.


"Paman tak akan melarang, kemanapun nak Andrian membawa Asma, karena sudah tak ada hak kami. Asma sepenuhnya sudah mikik nak Andrian. Paman hanya berpesan jagalah anak paman dan sayangi dia seperti mana nak Andrian menyayangi ibu nak Andrian. Jika suatu saat nanti nak Andrian menemukan kekurangan Asma dan tak mau menerimanya lagi, paman mohon jangan sakiti dia, cukup nak Andrian kembalikan Asma pada kami dengan cara baik-baik seperti bagaimana cara nak Andrian meminta Asma dulu,"


"Doa bibi selalu menyertai kalian, semoga kalian bisa melewati berbagai ujian yang pastinya silih berganti menguji kalian. Tetaplah saling berpegang tangan jangan saling melepas dalam keadaan apapun. Semoga pernikahan kalian sampai ke Janah-Nya."


"Akan Andrian jaga permata keluarga ini dengan segenap kemampuan Andrian. Andrian hanya meminta doa dan restu paman dan bibi semoga kami bisa melewati ujian apapun yang menghampiri kami. Jika suatu saat nanti Andrian melakukan kesalahan yang menyakiti permata kalian maka, tolong tegor dan ingatkan Andrian.


Aku menangis haru mendengar percakapan bang Andrian, paman dan bibi.


Hatiku tersentuh dan menghangat mendengar untaian kaliamat yang begitu tegas namun penuh kelembutan dan keyakinan. Tak ada kata janji yang bang Andrian ucapkan seperti yang para lelaki ucapkan pada umumnya. Tapi bang Andrian mencoba dan berusaha menjadi suami yang bijak sana, baik dan tanggung jawab.


Bersambung...


Jangan lupa Like dan Vote....

__ADS_1


__ADS_2