
Aku terdiam tak bersua sama sekali, penjelasan bang Andrian benar-benar membuat aku shok setengah mati.
Apa yang harus aku lakukan sekarang sungguh semaunya di luar kendaliku. Aku tidak tahu harus bersikap apa dan bicara apa karena penjelasan bang Andrian.
Cobaan datang silir berganti membuat aku benar-benar bingung dan takut bagaimana menghadapi semua ini.
Aku tidak tahu masalah ini akan serumit ini dan saling bersangkutan. Bahkan aku benar-benar tak percaya bahwa ada manusia sekeji itu. Kenapa sesama saudara, keluarga harus saling menyakiti bahkan suami istri.
Sungguh ini perkara tak mudah aku cerna dan terima aku hanya terlalu takut.
Hidupku dari dulu selalu di lingkup kasih sayang dan cinta yang besar oleh kedua orang tua dan saudaraku. Hingga aku merasa hidupku begitu sempurna, tapi nyatanya aku salah. Ujian silih berganti datang ketika ada sebuah penghianatan dan letidak adilan yang aku dapat dulu dari mas Vandu. Aku pikir, ujian itu akan usai tapi nyatanya aku salah. Ujian itu terus datang dan datang hingga aku tak tahu lagi harus bersikap apa. Hingga aku membangun keluarga baru berharap aku mendapat ridho dan keberkahan dari pernikahan ini. Tapi nyatanya Allah mengujiku kembali dengan rasa trauma yang begitu membelenggu hatiku. Hingga aku selalu ketakutan akan ada kata penghianatan untuk kedua kalinya.
Aku sedih, takut akan sesuatu yang menyeret bang Andrian. Ketika aku baik-baik saja tapi nyatanya masalah datang dari bang Andrian dan itu membuat aku ketakutan.
Dia begitu mencintai keluarganya tapi kesempurnaan cinta itu harus fatah oleh pamannya sendiri.
__ADS_1
Aku pikir masalahku begitu besar dari orang lain tapi nyatanya aku salah ternyata masalah suamiku jauh lebih rumit dari pada masalahku. Tapi lihatlah dia, tampangnya begitu dingin dan cuek hingga aku tak tahu apakah ada yang membuatnya gelisah, sedih dan tertekan atau bahagia. Wajahnya begitu datar dan serius hingga aku tak tahu apa yang dia butuhkan.
Dia begitu sengsara dan kesakitan tapi lihatlah, selama menikah dia begitu pandai menyembunyikan luka itu. Padahal aku selalu berbagi kesedihan dan kebahagiaan dengannya tapi kenapa bang Andrian tega tak membagi kesedihannya denganku.
Dia selalu memberiku kebahagiaan hingga aku tak peka bahwa separuh hatinya terluka.
Ya Rohman istri macam apa Laila ini...
Dadaku sesak melihat wajah lelah suamiku, bukannya memberi kekuatan tapi aku sibuk dengan kesedihanku sendiri.
"Bang.., "
Rasa kecewa, marah seketika lenyap di hatiku berganti ketakutan dan kesedihan. Dia begitu kuat dan tangguh, harusnya aku bersyukur memilikinya.
Rasa traumaku terlalu membelenggu hingga aku tak bisa berpikir jernih. Aku sudah berprasangka buruk pada suamiku sendiri.
__ADS_1
Ya Robb berdosakan Laila...
Bruk...
Aku memeluk tubuhnya erat dengan isak tangis yang pecah. Begitupun bang Andrian menangis, kami sama-sama menangis meluapkan segala rasa yang dari kemaren menyesakan dadaku. Aku pikir penjelasan bang Andrian cukup membuatku tenang tapi nyatanya aku salah. Bukannya tenang tapi malah semakin menjadi takut. Bukan takut karena bang Andrian menghianati atau membohongiku seperti apa yang aku pikirkan tapi aku takut akan keselamatan dirinya.
"Sayang.., "
"Hiks.. maafkan Laila bang maaf... "
"Kamu tidak salah sayang, kamu hanya sedang ketakutan. Maafkan abang..., "
Aku semakin menangis histeris di dalam dekapannya bahkan aku yakin air mataku membanjiri kemeja yang suamiku kenakan.
Lindungilah suami Laila ya Rohman ya Rohim...
__ADS_1
Bersambung....
Jangan lupa Like dan Vote...