
Aku sedikit kesal karena dring ponselku menggangu tidurku. Entah siapa yang menelepon malam-malam begini. Rasanya baru saja aku tertidur bersama istri tercintaku.
Dengan terpaksa aku bangun lalu meraih ponselku yang berada di atas naskah tepat sebelahku.
Seketika mataku terbuka sempurna melihat siapa yang menelepon.
"Maaf aku meneleponmu, tapi ini darurat. Aku mendengar pamanmu merencanakan sesuatu untuk menyakiti kamu terutama istri kamu. Tapi aku ketahuan olehnya, sekarang aku sedang di kejar-kejar oleh orang suruhan pamanmu. Tolong jika sesuatu terjadi padaku lindungi istri dan anakku dari keserakahannya. Aku perca... "
"Hallo... Misellll kau masih di sana... Miselll..., "
Jantungku terpacu lebih cepat mendengar suara panik Misel di serbang sana bahkan aku tak mendengar suaranya lagi. Tapi aku masih bisa mendengar suara bising dan lafalan doa yang Misel ucapkan.
Aku menahan amarah, kenapa paman belum puas mengusik hidupku. Bukankah paman sudah mendapat bagian harta warisan dimana pamanku mendapatkan prusahaan anak cabang di luar kota. Belum cukupkah itu kenapa ingin merebut kembali prusahaan induk. Aku benar-benar tak habis pikir dengan pikirannya kenapa dia bisa seserakah itu bahkan menantunya sendiri akan dia singkirkan karena mengetahui kebusukannya.
Apakah paman tidak memikirkan bagaimana putri dan cucunya jika terjadi apa-apa pada Misel.
Aku yakin sekarang Misel dalam keadaan bahaya. Dengan rasa panik dan cemas aku menyimpan ponselku tapi karena aku terburu-buru ponselku jatuh tapi aku tak peduli. Aku berlari keruang kerjaku memnyalakan leptop. Aku akan merentas semua jaringan dan CCTV di mana Misel berada. Aku yakin Misel pasti dalam perjalanan menju ke Jakarta dari luar kota. Karena Misel memang sedang melihat proyek yang ada di luar kota dimana tempat Paman berada.
Mata dan sepuluh jariku terus bekerja mencari tahu keberadaan Misel tapi sialnya agak sulit entah jalan mana yang Misel pakai kenapa tidak ada sinyal sama sekali. Terakhir Misel berada di perbatasan. Aku tahu jalan yang Misel pakai itu jalan perkampungan menuju serbang barat sampai di kota.
Ku lirik jam yang menggantung di dingding menunjukan pukul dua dini hari berarti aku sudah dua jam berada dalam ruanganku.
Aku berlari ke kamar setelah mengetahui keberadaan Misel dan mungkin harus memakan beberapa jam lagi sampai Misel berada di titik aman.
Aku menghentikan langkahku ketika aku baru menyadari istriku sedang tidur. Aku menjadi bingung antara meninggalkannya atau tidak tapi Misel sedang dalam bahaya.
Cup...
"Sayang maafkan abang pergi tanpa pamit, abang harus pergi.., "
__ADS_1
Sesudah mengucapkan itu dan tak lupa memberi kecupan di keningnya aku langsung pergi. Pikiranku saat ini begitu kacau, aku hanya bisa berdoa semoga Misel tidak kenapa-napa.
Aku melajukan mobilku dengan kecepatan penuh membelah kesunyian jalan hanya terdengan suara tahrim dari masjid-masjid menandakan bahwa sebentar lagi waktu subuh datang.
Aku menunggu di persimpangan jalan, aku yakin Misel pasti mengambil arah sini karena memang aku, Bagas dan Misel selalu menggunakan jalan ini agar cepat sampai.
Tak lama aku mendengar drum suara mobil sangat kencang aku yakin itu adalah Misel, dan benar saja dugaanku kalau itu Misel. Aku melihat ada tiga mobil tak jauh mengejarnya.
Aku menyalakan mobilku berusaha menghadang ketiga mobil yang mengejar Misel.
Brak...
Satu mobil menabrak pembatas jalan karena aku mengacau konsentrasi musuh dengan kedatangan mobilku tiba-tiba hingga membuat satu mobil membanting stir.
Satu mobil lolos dan itu membuat aku sedikit lega setidaknya Misel melawan satu lawan satu. Satu mobil lagi berhenti tepat menghalangi laju mobilku membuat aku juga ikut berhenti.
Aku tersenyum seringai ketika melihat suruhan pamanku terkejut melihat aku yang keluar dari mobil.
Bugh... bugh... bugh...
Tinjuan dan tendangan aku layangkan hingga membuat pembunuh suruhan pamanku tak berdaya. Aku meninggalkan mereka begitu saja karena aku harus mengejar kembali Misel.
Aku yakin Misel sudah masuk ke ibu kota, dengan kecepatan penuh aku mengejar Misel. Karena aku sudah tahu selak-beluk kota Jakarta jadi aku tahu jalan mana yang harus aku ambil.
Dari kejauhan aku mendengar ledakan dan itu membuat aku terkejut.
Rasa cemas tiba-tiba menghantui diriku membuat aku menepikan mobil dan berlari kearah kerumunan. Entah kenapa hatiku mengatakan kalau itu Misel karena aku sempat melihat mobil suruhan pamanku berputar arah.
Deg...
__ADS_1
Aku membelalakan mataku ketiak melihat seorang ibu tergeletak dengan darah mengalir dari kepalanya. Aku melihat seorang gadis tertatih mendekati wanita tua itu dengan memanggil nama ibu. Belum sempat aku sadar dari keterkejutanku. Aku kembali di kejutkan melihat segerombolan orang menggotong Misel dengan keadaan begitu menyedihkan.
"Alhamdulilalh, kita masih bisa menyelamatkan orang ini sebelum ledakan terjadi, "
"Cepat panggil ambulance.., "
Aku berlari ke arah bapak-bapak yang menggotong Misel lalu aku mendekapnya. Aku sedikit lega melihat Misel masih membuka mata walau keadaannya tidak baik-baik saja. Hingga dua ambulance pun datang.
Rasa cemas dan takut menghantuiku sambil terus mengajak bicara Misel. Aku takut Misel sampaitak sadar, walau aku lihat Misel seperti ingin mengatakan sesuatu tapi aku mencegahnya karena takut.
Aku terus bulak-balik menunggu di depan ruang ICU. Aku juga mendengar isak tangis seorang gadis remaja dengan bibir yang terus memanggil-manggil nama ibunya.
Aku tahu gadis itu putri dari ibu yang terserempet mobil Misel, bukan mobil Misel karena Misel membanting stir tapi mobil suruhan pamanku. Aku tahu itu dari bapak-bapak yang mengetahui kejadian itu.
Untung saja aambulanceyang para warga panggil adalah ambulance dari rumah sakit tempat Ayana bekerja jadi aku sudah kenal dengan sebagian dokter dan perawat di sini. Aku meminta tolong pada salah satu rekan kerja Ayana supaya menelepon Ayana karena sialnya aku lupa membawa ponsel.
Aku bergegas mencari mushola di rumah sakit ini karena aku baru sadar belum sholat subuh.
*Ya Allah, Engkau yang maha gagah dan maha memberi kesembuhan. Aku mohon selamatkanlah Misel dari ajalmu. Kasihinilah anak dan istrinya, mereka masih membutuhkan Misel. Tolong selamatkan Misel...
Amin*....
Sesudah berdoa aku kembali menuju ruang ICU, langkahku berhenti ketika mendengar suara jeritan di ruang yang tak jauh dari Misel.
"Tidak!!! dokter bohong.., ibuku masih ada. Dia selamat, ibuuuu.., "
Bruk...
Aku terkejut melihat gadis remaja itu pingsan di hadapan dokter. Ada rasa sesak di hatiku melihat kerapuhan gadis itu. Entah kenapa dengan diriku, biasanya aku tak peduli dengan masalah orang lain. Tapi, hatiku bergerak tak tega melihat kenyataan pahit yang gadis itu alami.
__ADS_1
Bersambung....
Jangan lupa Like dan Vote...