Hati Istri Yang Di Madu

Hati Istri Yang Di Madu
Bab 21 Kesakitan


__ADS_3

Aku masih enggan untuk beranjank dari makam paman Hadi yang sudah beberapa menit di kebumikan.


Baru kemarin rasanya aku masih mengobrol panjang lebar dan sekarang paman Hadi sudah pergi.


Aku menatap papan nisan yang mengukir nama paman Hadi di sana. Bahkan aku masih bisa mendengar isakan kecil Wina yang masih tersimpuh.


Sekarang nasibku sama seperti Wina, sama-sama sebatang kara.


"Kamu tidak kasihan dengan paman yang sudah tua ini. Entah berapa lama lagi paman ada di dunia ini. Ayolah ...,"


"Kamu berhak atas semuanya, paman yakin lestoran ini akan semakin berkembang di tangan kamu,"


"Abi kamu juga pasti akan bangga sama kamu,"


"Belajarlah, Nak. Wina pasti akan membantu kamu. Paman sudah tua tidak bisa jika harus pulang pergi ke Bogor dan kesini mengecek semuanya."


"Sekarang ini tugas mu, sudah jangan menolak lagi. Saatnya kamu memegang semuanya!"


Isakanku kembali terdengar ketika mengingat ucapan paman Hadi satu minggu yang lalu. Aku benar-benar tidak menyangka kalau ucapan paman Hadi adalah ucapan terakhirnya. Jika saja aku tahu paman Hadi akan pergi aku pasti akan berbuat banyak dulu untuknya.


Kenapa semua orang-orang yang ku sayang mereka pergi meninggalkanku. Apa nasibku memang seperti ini, harus merasa sakit dan tersakiti.


Andai saja waktu itu aku tidak menolak untuk memingpin pasti paman Hadi cukup untuk istirahat. Semua salahku, yang tidak mengerti.


Apa paman Hadi kecewa padaku karena aku menolak hingga paman Hadi enggan berbicara denganku di sisa terakhir nafasnya.


Tidak! ini salah mas Vandu. Andai saja dia tidak menghalangiku pasti dengan cepat aku bisa bertemu paman Hadi walau hanya sebentar. Tapi aku sudah terlambat dan tak bisa memutar kembali waktu. Andai aku bisa, aku ingin tetap bisa mengobrol dan bercanda bersama paman Hadi menghabiskan waktu di ruang abi sekedar mengobati rasa rindu.


"Sayang, makan dulu ya. Dari kemaren kamu belum makan, "


"Tidak bik, Asma belum lapar, "


"Jangan begini, bibi tahu kamu sedih. Tetapi, kamu jangan menyiksa diri kamu sendiri, bibi yakin paman Hadi pasti tidak menyukainya!"


"Bibi hiks... semuanya salah Asma. Andai ... andai saja Asma tidak membebankan paman Hadi pasti kesehatan paman Hadi tidak menurun, "


Aku menangis di pelukan bibi Aisyah menumpahkan segala kesedihan yang aku rasa. Aku sungguh merasa bersalah, apalagi sama Wina. Dia pasti membenciku.


"Sudah jangan menangis terus jangan pula menyalahkan diri sendiri. Ini semua sudah takdir, apa Asma lupa sama ucapan yang pernah mamah katakan? "

__ADS_1


"Tidak ada daun yang jatuh ketanah kecuali semua atas kehendak Allah. Begitupun dengan kematian, semua sudah di garis takdirkan. Mau itu yang muda atau yang tua, semuanya sama. Sama-sama akan kembali pada sang pencipta,"


"Nah, Asma ingat. Jadi sudah ya jangan menangis lagi. Dan bibi yakin Wina juga tidak akan penyalahkan kamu, "


"Bi, "


"Sudah ayo makan, atau mau bibi suapin? "


Aku tersenyum samar dengan godaan bibi membuat aku teringat akan mamah. Dengan pelan aku menelan setiap suap yang aku masuki kedalam mulut. Rasanya sangat hambar, tetapi aku berusaha tetap menelannya. Aku tidak mau membuat bibi sedih dengan keadaanku.


Aku harus kuat, jangan lemah. Di sini bukan aku saja yang sedih tetapi Wina jauh lebih sedih dari pada aku. Bahkan Wina lebih membutuhkan seseorang untuk menghibur atau sekedar menemaninya.


Aku merasa bersalah karena sudah larut dalam kesedihan. Jika aku bersedih maka masih ada bibi dan paman yang menemaniku dan menyemangatiku. Tetapi, siapa yang menemani Wina di saat seperti ini. Dia pasti sangat sedih dan aku harus menemaninya.


"Bibi, bolehkah Asma pergi kerumah Wina. Dia pasti sedang bersedih dan membutuhkan teman? "


"Tapi keadaan kamu masih lemas, Nak."


"Asma tidak apa-apa, aku takut Wina merasa sendirian? "


"Yasudah, bibi antar ya. Bibi tidak mau kejadian kemaren terulang lagi? "


Pertemuanku dengan mas Vandu waktu itu membuat aku enggan untuk bertemu dengannya.


Entah aku bodoh atau tidak menyadari dengan sikap dan sifat sebenanrnya mas Vandu.


Aku baru tahu kalau mas Vandu begitu pemaksa dan kekanak-kanakan. Dia seperti tidak pernah merasa bersalah atau sedih dengan apa yang dia lakukan padaku dan itu sangat membuat aku muak dan benar-benar kecewa padanya.


Aku sudah tidak mengenal lagi siapa mas Vandu dulu. Aku hanya kenal dengan satu mas Vandu. Mas Vandu yang lemah lembut, penyayang dan penuh cinta. Selalu tegas dan berwibawa dalam menyikapi hal apapun.


Aku merasa mas Vandu sudah pergi dan mati, sekarang hanya ada mas Vandu yang pemaksa dan penuh obsesi. Dari cara dia berbicara dan bertingkah sungguh jauh berbeda dengan mas Vandu dulu.


Aku bernafas lega karena di sepanjang jalan mobil yang aku tumpangi tidak di hadang lagi. Awalnya aku masih takut jika ada sesuatu yang terjadi di jalan, entah sejak kapan aku merasa takut bertemu mas Vandu. Entah karena kau masih merasa takut atau takut akan hal lain yang membuat mas Vandu nekad ingin memintaku kembali.


"Sudah sampai, Nak."


Lamunanku buyar ketika bibi Aisyah memegang pundakku. Membuat aku tersenyum kikuk.


Aku dan bibi Aisyah di sambut oleh seorang pelayan di kediaman paman Hadi. Entah kapan terakhir kali aku berkunjung ke sini. Rasanya itu sangat lama dan aku tidak terlalu mengingatnya. Yang jelas waktu itu aku masih sekolah menengah kejuruan.

__ADS_1


"Non Wina dari kemaren tidak keluar kamar non, bahkan belum makan sama sekali?"


Hatiku tercubit mendengar penuturan kepala pelayan di rumah paman Hadi. Aku meminta kepala pelayan menyiapkan makanan, sudah selesai aku langsung menuju kamar Wina yang berada di lantai atas. Sedangkan bibi Aisyah memilih tidak ikut.


Perlahan aku masuk, pertama kali yang aku lihat hanya kegelapan. Aku masih ingat dimana letak sakral lampu.


Ckrek...


Perlahan kamar Wina jadi terang. Aku melihat Wina sedang meringkuk di atas ranjang dengan seluruh tubuh di tutupi selimut.


"Win, ini aku ...,"


"Kata kepala pelayan dari kemaren kamu belum makan. Makan dulu ya, nanti kamu sakit."


"Ayo bangun, aku tahu kamu sedih aku juga sama. Tetapi, paman Hadi pasti tidak mau melihat kamu begini? "


"Win? "


"Per.. pergi,"


Hatiku mencelos mendengar suara paruh Wina dengan isakan tertahan. Setetes cairan bening keluar membasahi pipiku.


Aku faham apa yang Wina rasakan karena aku pernah berada di posisi seperti ini dan itu sangatlah menyakitkan.


Benar kata bibi Aisyah aku tidak boleh sedih aku harus kuat supaya bisa menemani Wina di saat seperti ini.


"Yasudah kalau kamu gak mau makan aku tidak akan memaksa. Tetapi aku juga tidak akan makan sama seperti dirimu. Aku juga akan tidur menemani kamu. Jadi jika kamu sakit aku ju .., "


"Jangan!"


"Kamu apa-apaan, dari dulu kamu mempunyai riwayat asam lambung akut. Aku tidak mau mati bersamamu ..., "


Aku terkekeh karena berhasil membuat Wina bangun. Itu senjata paling mapuh menakuti Wina. Karena selain Amira yang tahu penyakitku Wina juga sama. Mungkin Wina masih takut kejadian dulu terulang padaku, ketika waktu itu Amira bersedih di putuskan pacarnya dan tidak mau makan dan kami juga seperti itu hingga aku malah di larikan kerumah sakit.


Aku, Wina dan Amira bukan sekedar teman atau sahabat. Tetapi kami sudah seperti saudara.


Bersambung ...


Jangan Lupa Like dan Votenya Cinta....

__ADS_1


__ADS_2